alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Suhu Dingin di Mojokerto Capai 19 Derajat Celsius

01 Agustus 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Siang hari, langit yang menyelimuti Mojokerto nampak sangat terang dan suhunya panas. Namun, berbeda dengan malam hari yang sangat dingin.

Siang hari, langit yang menyelimuti Mojokerto nampak sangat terang dan suhunya panas. Namun, berbeda dengan malam hari yang sangat dingin. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Cuaca ekstrem atau suhu dingin belakangan ini terjadi di Mojokerto. Bahkan, berdasarkan analisa dan perkiraan Cuaca Badan Meteologi, Klimitologi, dan Geofisika (BMKG), di Kabupaten Mojokerto titik terendah ada pada 19 derajat Celsius, dan titik tertinggi mencapai 30 derajat Celsius.

Penurunan suhu menjadi lebih dingin pada malam hingga dini hari di musim kemarau ini tak lepas dari pengaruh penguatan monsun Australia. Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini mengungkapkan, udara dingin memang telah terjadi di beberapa daerah Pulau Jawa.

’’Secara umum, kondisi cuaca memang bersifat panas dan kering pada siang hari. Serta bersifat dingin pada malam hingga pagi hari,’’ ungkapnya, kemarin. Berdasarkan analisa dan prakiraan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Surabaya, ada tiga penyebab munculkan udara dingin akhir-akhir ini.

Pertama, kata Zaini, karena adanya pergerakan massa udara dari Australia. Di mana udaranya dingin dan kering akibat adanya daerah tekanan rendah di samudra pasifik bagian barat dan daerah tekanan tinggi di Benua Australia.

’’Angin yang bertiup melewati Indonesia ini juga disebut sebagai monsun dingin Australia,’’ ujarnya. Penyebab kedua yang semakin membuat udara dingin lanjut Zaini, adalah sedikitnya awan.

Kondisi itu seiring dengan perubahan musim penghujan ke kemarau. Jika biasanya sinar matahari yang masuk ke bumi bisa tertahan oleh awan, kali ini radiasi matahari yang diterima oleh bumi akan dipancarkan kembali ke luar angkasa pada malam harinya.

Hal itu, karena tidak adanya tutupan awan. Secara otomatis, energi tersebut akan merusak secara besar-besaran ke laur angkasa yang berakibat suhu di bumi menjadi dingin. Akibatnya, panas yang biasanya juga tertahan turut menghilang. ’’Tapi, bukan suatu hal yang baru. Kondisi ini normal terjadi pada musim kemarau,’’ tegasnya.

Artinya, lanjut Zaini, udara dingin yang biasanya terjadi saat malam hari sampai menjelang pagi akhir-akhir ini, pertanda datangnya musim kemarau. Sehingga semakin langit cerah, maka suhu akan semakin dingin.

Dengan demikian, saat menjelang musim kemarau sampai puncaknya nanti, langit akan terlihat cerah sepanjang hari. Sementara suhu semakin terasa dingin. Sebaliknya, pada siang hari, suhu cenderung lebih hangat.

’’Berbeda saat malam hari, radiasi bumi lepas ke angkasa bisa langsung maksimal, karena langitnya juga cerah. Pada malam hari, radiasi yang diterima dari matahari nol. Sementara radiasi bumi ke angkasa berlangsung maksimal,’’ paparnya.

Di tengah berjalannya musim kemarau, kondisi itu juga membuat kandungan air di dalam tanah dan di udara menjadi rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya kelembapan udara yang menyebabkan suhu dingin yang kering.

Diperkirakan, udara dingin ini akan berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Menyusul, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. ’’Pada puncak musim kemarau ini, angin monsun Australia kian dominan cuaca di wilayah selatan ekuator yang ditandai langit cerah, sepanjang hari dan kelembaban rendah,’’ jelasnya.

Khusus di Kabupaten Mojokerto, sesuai prakiraan BMKG cuaca titik terendah bahkan ada pada 19 derajat Celcius. Sedangkan titik tertinggi ada pada 30 derajat Celcius. ’’Untuk Trawas bisa kategori 19-21 derajat Celcius. Jadi, untuk para pendaki gunung juga harus waspada,’’ tandasnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia