alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features

Anak Penjual Es Degan Belajar di Lapak, HP Gantian Pagi dan Sore

31 Juli 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dahlia Rahmawati mendampingi belajar anaknya, Muhammad Bintang Alfurkon, di lapak.

Dahlia Rahmawati mendampingi belajar anaknya, Muhammad Bintang Alfurkon, di lapak. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Di tengah kesibukannya berjualan es degan di pinggir jalan, Dahlia Rahmawati, 45, harus pintar membagi. Selain dituntut fokus melayani pembeli, juga mendampingi anaknya mengerjakan soal pelajaran dengan sistem dalam jaringan (daring).

Berbeda dengan pedagang pada umumnya yang hanya sibuk melayani pembeli. Siang itu, di lapak es degan di Jalan Empunala, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Dahlia sibuk mendampingi anaknya. Belajar dan mengerjakan soal pelajaran tugas dari guru sekolah secara online. 

Soal tematik itu meluncur lewat handphone (HP). Ibu tiga anak ini terlihat begitu telaten. Anaknya kelas V SDN Balongsari 5. Satu per satu soal dikerjakan anaknya. Sembari dia terus mendampingi serta memberikan semangat atau motivasi anak ketiganya itu.

Di tengah itu, dia harus beranjak melayani pembeli yang memesan es degan. ’’Sebentar ya Nak, ada pembeli,’’ ungkap Dahlia penuh sayang.

Ternyata, bukan hanya hari itu. Yang dilakukan Dahlia, istri Yasin, 46, itu menjadi rutinitasnya sejak pandemi. Sejak pembelajaran jarak jauh atau online. ’’Setiap hari seperti ini. Bagaimana lagi, memang dituntut seperti itu,’’ kata Dahlia mengawali perbincanagn dengan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Sistem daring yang diterapan untuk memutus mata rantai persebaran membuatnya harus memutar otak. Berjualan es degan jalan, anaknya juga tetap disiplin dalam belajar.

Apalagi, dua dari tiga anaknya masih pelajar. Masing-masing Kasyfillah Ihsanuddin, 17, pelajar kelas XII SMK Kemlagi, dan Muhamamad Bintang Alfurkon, 10, pelajar kelas V SDN Balongsari 5.

Sehingga, agar tetap bisa mendukung anaknya belajar, Dahlia mengajaknya ke lapak. Memang, kondisi seperti diakui sedikit merepotkan. Mencari nafkah menjadi tuntutan penuhi kebutuhan hidup. Sedangkan, mendisiplinkan anak untuk belajar juga menjadi aset masa depan.

’’Jadi, ya kalau longgar baru kita dampingi anak mengerjakan. Kalau ada orang beli, kita layani. Tapi kadang terlalu fokus dengan pelanggan, anak sudah pergi main. Jadi serbarepot,’’ paparnya.

Kalau soal materi pembelajaran, Dahlia mengaku masih mumpuni. Namun, sebelum mendapat paketan gratis dari pemkot, dia harus membeli sendiri. Sebelumnya, tiap bulan harus merogoh kocek Rp 100 ribu dengan paket data 17-20 GB. ’’Tapi paket data yang dari sekolah belum bisa digunakan, jadi sekarang ya masih paket data mandiri,’’ ujarnya.

Tak ada pilihan. Dahlia harus selalu mendampingi anaknya untuk saat ini. Sebab, masih pandemi. Dan, kalau pun digelar pembelajaran tatap muka di sekolah, dia masih khawatir. Masih takut. Sebab, bagaimana pun dengan usia anak 10 tahun, penerapan protokol kesehatan sulit diterapkan.

’’Jika terpaksa harus masuk sekolah sebenarnya berat juga, meski pakai masker. Namanya anak kecil, pakai masker pasti gerah. Pasti sedikit-sedikit dilepas,’’ tegasnya.

Berbeda lagi untuk anaknya yang sudah di bangku SMK, dia berharap pembelajaran di sekolah cepat dilakukan. Menyusul, untuk daring, dua anaknya ini harus saling bergantian handphone. Sebab, hanya ada satu ponsel setelah yang satunya hilang. ’’Jadi, HP satu buat gantian sama adik,’’ tambah Kasyfillah Ihsanuddin, 17.

Jika adiknya pagi, dirinya baru memakai handphone sore harinya. Kasyfillah mengakui, jika belajar daring ini tak bisa maksimal. ’’Tapi, karena belajar di rumah, lumayan juga saya bisa bantu orang tua jualan es degan,’’ tutur pelajar kelas XII SMK ini. (abi)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia