alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Journey
icon featured
Journey

Api Abadi, Kayangan Api, Fenomena Alam Terbesar di Asia Tenggara

31 Juli 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kayangan Api di kawasan hutan lindung Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Kayangan Api di kawasan hutan lindung Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. (Rendi Orisa For JPRM)

KAYANGAN API adalah salah satu destinasi wisata menarik di Kabupaten Bojonegoro. Tempat wisata yang kerap jadi jujukan wisatawan tersebut tepatnya berada di kawasan hutan lindung Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Nama Kayangan Api pernah melambung saat menjadi tempat pengambilan api untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XV tahun 2000. Di kawasan ini memang ditemukan fenomena alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah.

Fenomena geologi ini yang menyebabkan api tersebut tak pernah padam. Meski dalam kondisi hujan deras sekalipun. Rendi Orisa, salah satu pengunjung mengatakan, api abadi yang muncul di Kayangan Api termasuk fenomena alam yang cukup langka ditemui.

Sumur Blukutuk, sumber mata air panas disertai aroma belerang.

Sumur Blukutuk, sumber mata air panas disertai aroma belerang.

Bahkan, menurutnya Rendi, sumber api alam ini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara. ’’Makanya saya penasaran dengan Kayangan Api,’’ kata Rendi. Selain suguhan api abadi, wilayah ini juga terdapat fenomena alam lain yang tidak kalah menakjubkan, yaitu Sumur Blukutuk.

Sumber mata air ini terlihat seperti air panas yang mendidih disertai aroma belerang yang menyengat tajam. Namun, ajaibnya air tersebut tidak terasa panas jika disentuh. Mitosnya sumber air tersebut dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Tidak jauh dari Sumur Blukutuk juga terdapat fenomena alam lain, yakni adanya pohon yang menyatu membentuk menyerupai hati dan sering disebut dengan pohon cinta.

Hingga menyeruak mitos jikalau ada pasangan kekasih yang ingin awet dan langgeng hubungannya harus melewati pohon cinta ini dan menuliskan namanya di batu, lalu diletakkan di bawah pohon cinta. (dwi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia