alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Blokade Akses Masuk PT SAI, Warga Tuntut Jatah Avalan

31 Juli 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Puluhan warga menggelar aksi unjuk rasa di depan PT SAI di Dusun Sukorejo, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro.

Puluhan warga menggelar aksi unjuk rasa di depan PT SAI di Dusun Sukorejo, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro. (Shalihin/Radar Mojokerto)

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Puluhan warga Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto menggelar aksi unjuk rasa di depan PT Surabaya Autocomp Indonesia (SAI) Kamis (30/7). Mereka menuntut manajemen memberikan hak yang selama ini tidak dikelola selain warga desa setempat.

Yakni, berupa sampah avalan yang bisa diaur ulang. Ahmad Saiful Rozy, 40, salah satu warga, menyatakan, sejak pabrik yang memproduksi komponen otomotif Wiring Harness untuk mobil berdiri tahun 2001, hingga saat ini warga belum pernah menerima hak untuk mengelola daur ulang sampah avalan. Pihak PT SAI, lanjut dia, justru memberikan kepada warga desa lain yang ada di Kecamatan Ngoro.

”Selama ini sampah avalan dikelola pihak lain atau warga selain warga Desa Lolawang. Maka, kami meminta avalan dikelola oleh warga Lolawang,” ungkapnya. Hasil olah sampah nantinya, lanjut dia, akan digunakan untuk kemakmuran desa. Baik untuk kepentingan pendidikan maupun pembangunan infrastruktur desa.

Bahkan, untuk membantu fakir miskin. Sebab, pabrik tersebut selama ini masuk wilayah Dusun Sokorejo, Desa Lolawang. Sehingga seharusnya memberikan kontribusi kepada warga setempat. Bukan sebaliknya, kepada desa lain. ”Selama ini PT SAI ini tidak mengakui keberadaannya ada di wilayah Desa Lolawang,” imbuhnya.

Kata Saiful, sampah yang dikelola warga di luar Desa Lolawang nilainya diperkirakan mencapai miliaran rupiah per bulan. Hanya, dirinya tidak bisa mengungkapkan angka secara pasti. Namun, menurut Saiful, sampah itu banyak mengandung tembaga yang jika didaur ulang dapat menghasilkan pundi-pundi uang yang cukup besar.

”Menurut informasi dari orang yang biasa mengelola sampah itu. Dalam satu bulan bisa menghasilkan uang  miliaran,” tambah Kepala Dusun Sokorejo, Ahmad Buadi. Buadi  menambahkan, warga menutuntut agar pihak perusahaan memberikan 30 persen sampah dari sampah yang ada.

Namun, setelah pihaknya melakukan mediasi dengan manajemen kemarin, perusahaan tak kunjung memberikan jawaban. ”Tidak ada jawaban iya atau tidak. Kami disuruh mengajukan secara tertulis. Setelah itu katanya akan dipelajari dulu,” katanya.

Hasil mediasi itu pun disampaikan kepada warga yang tergabung dalam aksi. Namun, warga belum bisa menerima. ”Tidak bisa. Pokoknya kami minta jawaban pastinya sekarang,” lontar salah satu peserta aksi. Aksi kemudian dilanjutkan warga dengan menblokade akses masuk pabrik.

Di mana, sejumlah kendaraan yang hendak masuk ke dalam pabrik dihadang dan diminta kembali. Seperti mobil pengantar makanan atau katering karyawan. Bahkan, warga sengaja mendirikan tenda persis di depan pintu gerbang pabrik. 

”Kalau tidak ada jawaban yang pasti, kami akan tetap di sini sampai ada hasil,” tandasnya. Sementara itu, sejauh ini PT SAI belum memberikan keterangan resmi. Menyusul, saat Jawa Pos Radar Mojokerto mengonfirmasi tidak diperkenankan sekuriti masuk ke dalam perusahaan. ”Tidak bisa,” kata salah satu sekuriti, M. Rozak. (hin)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia