alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Ancaman Kekeringan di Kabupaten Mojokerto

Sudah Sebulan Ini, Sumber Air Tak Menetes Lagi

26 Juli 2020, 20: 35: 51 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro menyunggi jeriken berisi air bersih saat musim kemarau tahun 2019 lalu.

Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro menyunggi jeriken berisi air bersih saat musim kemarau tahun 2019 lalu. (Dok/JPRM)

Memasuki musim kemarau tahun ini, Kabupaten Mojokerto harus bersiap menghadapi bencana musiman. Bila bencana banjir datang saat penghujan, maka di musim kemarau ini bencana yang akan datang adalah kekeringan. Bahkan, diprediksi ancaman kekeringan tahun ini lebih luas dan lama.

MUSIM kemarau saat ini sudah berdampak pada dua dusun di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Bahkan, krisis air bersih sudah berlangsung sejak satu bulan lalu. Setelah hujan yang turun di wilayah tersebut tidak ada lagi.

’’Sudah satu bulanan, masyarakat sini kekurangan air bersih,’’ ungkap Yadi, warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, kemarin. Desa ini terdiri dari dua dusun, yakni Dusun Telogo dan Sumber.

Menurut Yadi, setiap tahun, dua dusun yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) selalu menjadi permukiman yang paling terdampak kemarau. Salah satu faktor yang utama tak lain karena memang tidak ada mata sumber air.

Sehingga selama ini masyarakat sekitar masih berpangku pada dropping air bersih dari pemerintah maupun donatur. Termasuk ketika musim hujan. Belakangan mereka hanya memanfaatkan air tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti mandi cuci kakus (MCK), dan kebutuhan hewan ternak.

’’Jadi, sampai tahun ini, Dusun Telogo sama Sumber, memang belum terjangkau air bersih,’’ tegasnya. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, tak jarang masyarakat harus mengantre mengangsu di tandon penampungan air. Air ini hasil pipanisasi yang dipasang pemerintah di tahun sebelumnya dengan mengambil air dari wilayah Trawas.

Pipanisasi yang dilakukan sebelumnya ini untuk menjawab sekaligus mengatasi kekeringan yang berkelanjutan tersebut. Dengan unit submersible pump yang dialirkan, dapat menjangkau sepanjang sekitar 2 Km. Yakni, dengan cara menarik air dari Penanggungan ke tandon yang sudah disediakan.

Dari tandon itu, kemudian ditarik lagi dengan pompa ke Dusun Telaga yang letak geografisnya paling atas. Hanya, solusi ini tak bisa berjalan maksimal. Belakangan pipanisasi ini dianggap warga tak lancar lagi.

’’Tapi, sekarang sudah tidak ngangsu ke Sumber Tetek lagi.Sebagian warga punya air meteran seperti PDAM numpang ngambil.Tapi, sekarang meterannya sudah tidak lancar,’’ terangnya.

Kades Kunjorowesi Darsono menambahkan, memang sudah beberapa pekan ini kekurangan air bersih melanda sejumlah dusun di desanya. ’’Khususnya di Dusun Telogo dan Sumber, sekarang sudah krisis air,’’ tegasnya.

Namun, kekurangan air ini hingga sekarang belum ada dropping air bersih dari pemerintah Kabupaten Mojokerto. ’’Kami juga belum mengirimkan surat. Tapi, secepatnya akan kita koordinasikan, untuk penanggulangan dan dropping air bersih seperti tahun-tahun sebelumnya,’’ tuturnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia