alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Mengenang Perjuangan Prof Dr Soetopo (habis)

Dirikan Klinik Darurat di Eks Pabrik Gula

23 Juli 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Prof Dr Soetopo semasa masih hidup.

Prof Dr Soetopo semasa masih hidup. (dok istimewa)

SEMENTARA itu, meski sebagian besar pasien sudah dievakuasi ke sejumlah RS di luar Surabaya, namun RS Simpang masih disesaki korban luka karena pertempuran. Sehingga dokter dan perawat yang terus menerus bekerja pun mengalami kelelahan.

Dampaknya, sebagian dari tenaga kesehatan yang merasa tidak sanggup memilih untuk mengungsi dari Kota Pahlawan. Ayuhanafiq menuturkan, berkurangnya tenaga medis membuat Soetopo meminta bala bantuan tenaga dokter dari daerah lain. Permintaan kebutuhan tersebut disebarluaskan melalui radio.

Tak hanya itu, kepala RS Simpang ini juga meminta uluran tangan dari sukarelawan medis untuk membantu merawat pasein. ”Akhirnya bantuan dokter dari Jakarta, Madiun, dan daerah lainnya datang,” terangnya.

Di samping membantu merawat pasien, sebagian relawan juga bergabung dengan PMI untuk mengevakuasi korban dari medan pertempuran. Namun, bombardir yang dilakukan pasukan Inggris menyusul tewasnya Birgadir Jenderal A.W.S. Mallaby itu membuat Kota Pahlawan tidak mampu dipertahankan lagi.

Sehingga dr Soetopo terpaksa mengungsikan peralatan dan obat-obatan dari garis pertempuran. RS Simpang yang semula menjadi rujukan utama para korban luka pun dikosongkan untuk mundur ke Mojokerto.

Mantan ketua KPU Kabupaten Mojokero ini menyebutkan, setibanya di Mojokerto, dr Soetopo mendirikan klinik kesehatan darurat. Fasilitas tersebut disiapkan di sepanjang garis pertahanan dari Surabaya ke Mojokerto.

”Klinik kesehatan itu dibuat dengan memanfaatkan bangunan pabrik gula yang tidak lagi beroperasi,” ujarnya. Dengan berdirinya klinik darurat itu sangat membantu penanganan medis bagi para pejuang yang terluka di garis depan pertempuran.

Terlebih, sejumlah RS juga telah kewalahan untuk menangani pasien. Karena mampu menyelamatkan banyak nyawa dari peristiwa pertempuran Surabaya itu, dr Soetopo juga disebut sebagai panglima di bidang kesehatan. Selanjutnya, dr Soetopo mengisi posisi kepala RS Mojowarno, Kabupaten Jombang yang saat itu menjadi rumah sakit penyangga.

Pada tahun 1947, Soetopo dipercaya menjadi pejabat di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sewaktu Indonesia masih beribu kota di Jogjakarta. Pasca Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, mantan kepala RS Simpang ini kemudian ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan (Menkes) dalam kabinet Perdana Menteri Abdul Halim tahun 1950.

Selepas itu Soetopo kembali ke Surabaya. Pada tanggal 16 Desember 1982 juga pejuang kemerdekaan itu wafat dan dimakamkan di kompleks Pemakaman Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Keberadan bambu runcing sebagai penanda bahwa dr Soetopo adalah pejuang 1945. ”Dokter Soetopo juga dianugerahi Bintang Mahaputera atas jasa-jasanya,” pungkas Yuhan. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia