alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Mengenang Perjuangan Prof Dr Soetopo (1)

Evakuasi Korban Pertempuran dari Surabaya ke Mojokerto

23 Juli 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pengungsian korban perang dari Surabaya pada 10 November 1945.

Pengungsian korban perang dari Surabaya pada 10 November 1945. (Arsip Museum FK Unair)

Meletusnya peristiwa pertempuran Surabaya pada November 1945 silam mengakibatkan ribuan nyawa berjatuhan. Para pejuang berusaha tetap di garda terdepan untuk mengahadang kembalinya penjajah pasca diproklamirkan kemerdekaan RI.

Di balik garis pertempuran itu, para tenaga kesehatan juga tak kalah berjibaku untuk melakukan penanganan medis para korban perang. Prof Dr Soetopo adalah salah satu sosok yang memiliki peran sentral dalam upaya menyelamatkan nyawa korban pertempuran. Karena banyaknya pasien yang dirawat, sebagian dievakuasi ke luar kota, salah satunya ke Mojokerto.

SEJARAWAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, kala itu Prof Dr Soetopo menduduki posisi sebagai kepala Rumah Sakit (RS) Simpang, Surabaya menggantikan dokter Sjaaf.

Sebelumnya lulusan dari Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau sekolah pendidikan kedokteran di Surabaya ini adalah kepala bagian penyakit kulit dan kelamin di fasilitas kesehatan yang didirikan era Gubernur Jenderal Deadles tersebut.

Menduduki pucuk pimpinan di RS tertua di Kota Pahlawan itu tentu menjadi beban berat yang harus dipikul oleh dr Soetopo. Sebab, pecahnya pertempuran 10 November 1945 mengubah RS umum ini menjadi RS darurat.

Karena menjadi jujukan untuk mengevakuasi pejuang dan arek-arek Suroboyo yang terluka ketika menghadang pasukan Inggris. ”RS Simpang menjadi rujukan utama karena letaknya berada di pusat kota (Surabaya),” terangnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menceritakan, meluasnya pertempuran membuat jumlah korban tiap hari terus bertambah. Bahkan, dalam waktu empat hari pertempuran, RS Simpang sudah tak sanggup lagi menampung rujukan.

Korban pertempuran memenuhi seluruh pojok gedung dan meluber sampai halaman RS. Akibatnya, tidak sedikit korban tak tertolong.

Melihat kondisi tersebut, terang Yuhan, dr Soetopo kemudian segera menghubungi sejumlah RS lain di luar Kota Surabya. Tujuannya, agar bisa membantu merawat para korban di garis depan pertempuran. ”Salah satu yang dituju adalah RS yang berada di Mojokerto,” paparnya.

Penulis buku Garis Depan Pertempuran Lasykar Hizbullah 1945-1950 ini menyebutkan, untuk memuluskan rencana evakuasi pasien tersebut, dr Soetopo meminta bantuan seseorang pegawai kereta api (KA) di Stasiun Gubeng bernama Soedji.

Menurutnya, tokoh kelahiran 24 Juli 1898 ini kemudian meminta jalur perlintasan KA di Stasiun Gubeng untuk diaktifkan kembali. Sebab, sejak meletusnya peristiwa pertempuran Surabaya, jalur transportasi KA tersebut ditutup.

Yuhan menyebutkan, proses evakuasi pasien dilakukan pada malam hari. Menginjak pukul 19.00, Stasiun Gubeng sudah disiapkan gerbong-gerbong KA yang dikirim dari Stasiun Wonokromo. Armada lokomotif itu lah yang kemudian dijadikan sebagai sebagai ”ambulans” untuk merujuk korban akibat pertempuran.

”Gerbong kereta itu juga mengangkut obat-obatan dan tenaga medis untuk merawat pasien selama perjalanan,” bebernya. Agar tidak menjadi target serangan udara oleh musuh, bagian atap dari gerbong KA tersebut ditandai dengan lambang palang merah.

Yuhan menyebut, proses evakuasi para korban pertempuran itu berlangsung hingga satu pekan. Setidaknya, dalam waktu seminggu jumlah pasien yang berhasil mengevakuasi 1.000 orang lebih. Sebagian pasein dievakuasi ke RS Gatoel, Kota Mojokerto.

Fasilitas kesehatan yang didirikan taipan gula era kolonial Gerald Eschauzier ini menjadi satu-satunya rujukan perawatan bagi pejuang yang terluka dari medan pertempuran di Surabaya. ”Karena korban luka datang setiap hari, maka RS Gatoel menjadi penuh sesak,” imbuh Yuhan.

Selain dilarikan ke Mojokerto, korban luka lainnya akibat pertempuran juga dirujuk ke RS di Malang dan disebar ke sejumlah fasilitas kesehatan di daerah lain. Di samping memanfaatkan KA, proses evakuasi pasein juga menggunakan moda transportasi ambulans, truk, delman, maupun pedati. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia