alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Bengkel Rumah Kayu Babinsa Jouns Yusuf Effend

Berdayakan Pemuda untuk Geluti Industri Kreatif

20 Juli 2020, 22: 03: 20 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kopda Jouns Yusuf Effendi saat memberikan pelatihan kepada sejumlah remaja untuk membuat kerajinan dari limbah kayu.

Kopda Jouns Yusuf Effendi saat memberikan pelatihan kepada sejumlah remaja untuk membuat kerajinan dari limbah kayu. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Di balik badan kekar dan seragam dorengnya, Kopda Jouns Yusuf Effendi memiliki jiwa kepedulian yang sangat tinggi. Anggota TNI yang berdinas di Koramil 0815/08 Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, ini memberdayakan para pemuda yang belum memiliki pekerjaan untuk berwirausaha di Rumah Kayu.

BELASAN remaja terlihat serius memperhatikan tiap gerakan yang dipraktikkan oleh Jouns. Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD di Desa Temon, Kecamatan Dawarblandong ini tengah menggelar pelatihan kewirausahaan memproduksi kerajinan di ’’Rumah Kayu’’ miliknya.

Sejak 2016 lalu, Jouns memiliki kesibukan tambahan dengan terjun langsung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Di bengkel itu lah yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan usaha untuk memproduksi handycraft berbahan kayu limbah.

Jouns mengajak warga sekitar, khusunya para pemudi yang belum mendapatkan pekerjaan untuk berlatih sekaligus bekerja di bengkelnya. Pria kelahiran 1982 ini mengaku, tempat pelatihan usaha masyarakat itu berawal dari keisengannya membuat karya seni lukisan bakar berbahan kayu mahoni.

’’Iseng bikin coba-coba membuat lukisan bakar ukurannya. Terus setelah saya upload ke facebook dan diminati orang ternyata,’’ ujarnya. Selanjutnya, pesanan dari teman-temannya terus berdatangan.

Sehingga, keisengan membuat karya dengan memanfaatkan limbah kayu tersebut akhirnya diseriusinya. Namun, tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memberdayakan warga sekitar.

Dengan memanfaatkan limbah kayu yang banyak dibuang dari sejumlah perusahaan di sekitar desa, dia mengajak pemuda desa setempat untuk mengumpulkan potongan demi potongan kayu.

Melalui tangan kreatifnya, Jouns kemudian mengajarkan mereka untuk berkreasi. ’’Awalnya untuk anak karang taruna, jadi kalau ada yang belum kerja saya tampung dan diberdayakan,’’ ujarnya.

Namun, siring waktu berjalan ini, Rumah Kayu dibuka untuk siapa pun. Bahkan, sejumlah santri yang tengah menimba ilmu di pondok pesantren maupun ibu rumah tangga juga turut terlibat. ’’Tujuannya biar kreatif, mandiri, dan lebih positif kegiatannya,’’ ulasnya.

Bahkan, di masa pandemi ini, usahanya juga menampung sejumlah warga yang terimbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Setelah genap empat tahun berdiri, kini Rumah Kayu tak sekadar memproduksi lukisan bakar saja, tetapi juga membuat berbagai kerajinan untuk suvenir maupun mebel.

Selurunnya merupakan hasil dari tangan-tangan kreatif warga. Dari bahan kayu limbah tersebut, kerajinan mampu dijual dari banderol termurah Rp 5 ribu untuk suvenir hingga mencapai Rp 5 juta untuk produk mebel. (abi)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia