alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Fibriyanti, Penyintas Covid-19

Rasakan Stigmatisasi, Keluarga pun Ikutan Terimbas

18 Juli 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Fibriyanti, seorang penyintas Covid-19 asal Kota Mojokerto ketika menjalani masa isolasi mandiri mengisi waktu dengan bergiat olahraga.

Fibriyanti, seorang penyintas Covid-19 asal Kota Mojokerto ketika menjalani masa isolasi mandiri mengisi waktu dengan bergiat olahraga. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah pasien positif virus korona mendapatkan kesembuhan. Salah satunya dialami Fibriyanti, seorang PNS Pemkot Mojokerto. Besarnya dukungan keluarga dan sahabat dianggapnya sebagai ’’vaksin’’ ketika menjalani masa isolasi  mandiri.

AKUN media sosial salah satu pusat perbelanjaan di Kota Mojokerto, Sunrise Mal mengadakan talkshow dengan menghadirkan seorang penyintas Covid-19 kemarin sore. Tampak dalam layar medsos Instagram tersebut dialog si pembaca acara dengan Fibriyanti, 44, penyintas Covid-19.

Adalah orang yang berhasil bertahan hidup setelah terjangkiti Covid-19. Tayangan live streaming itu diminati akun pengikut medsos mal tersebut. Beberapa di antaranya memberikan dukungan dalam kolom komentar kepada si penyintas dengan berbagai emoticon. Ada pula yang terharu sekaligus kagum setelah menyimak kisah penyintas tersebut.

’’Intinya jangan patah semangat. Jaga imunitas. Dan jangan kucilkan mereka yang positif Covid-19,’’ pesan Fibriyanti dalam sesi akhir dialog. Perempuan yang sehari-hari berdinas di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto itu menceritakan banyak hal.

Mulai dari awal mula dia terinfeksi Covid-19, masa isolasi mandiri, hingga sekarang ini setelah dinyatakan sembuh oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto. ’’Meski sembuh, saya tetap jalankan protokol kesehatan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto setelah mengikuti talk show tersebut.

Awalnya, indikasi dirinya terinfeksi virus itu dari hasil tes cepat yang dilakoninya akhir bulan Mei silam. Kala itu, hasil rapid test menunjukkan status reaktif. Selain dirinya, ada sejumlah orang lain dalam satu area kerjanya yang juga menunjukkan hasil yang sama.

’’Setelah itu di-test swab. Ternyata, ada 3 orang yang positif termasuk saya, tapi statusnya OTG (orang tanpa gejala),’’ ujar perempuan berjilbab ini. Kabar itu masih belum membuatnya terlalu syok.

’’Tapi, begitu menjalani isolasi mandiri. Itu yang membuat mental menjadi drop,’’ lontar Kabid Perindustrian Disperindag ini. Itu terjadi lantaran, dirinya harus menjaga jarak fisik dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Dirinya menjalani isolasi mandiri di lantai dua rumahnya, Griya Permata Meri B-5/6 RT 2, RW5, Kelurahan Merim Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Masa isolasi terbilang berat dijalani.

Lantaran, dia masih merasakan stigmatisasi (pencirian negatif pada seseorang) sebagai seorang penderita Covid-19. ’’Kompleks perumahan disemprot disinfektan berkali-kali. Baik dari pemkot, parpol, hingga ormas,’’ bebernya.

Pihaknya juga merasakan masih banyak pandangan minor terhadap dirinya dari lingkungan sekitar. Bahkan, keluarganya pun turut terimbas. Terlebih suaminya, yang juga Kepala Bappeko Mojokerto, Agung Moeljono.

’’Banyak tindakan yang membuat mental dan pikiran jadi down. Sebenarnya ini yang paling berat saya rasakan. Karena OTG kan tidak ada gejala klinis. Tapi, psikis dan mental yang sebenarnya banyak terganggu karena pandangan miring masyarakat,’’ tuturnya.

Meski begitu, pekan pertama isolasi mandiri diisinya dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari olahraga, bersih-bersih tempat isolasi, beribadah, hingga menikmati tontonan yang menghibur.

’’Jadi, pola hidup diubah. Menjadi pola hidup yang sehat. Mulai konsumsi makanan sehat, vitamin, madu, hingga jamu,’’ imbuhnya. Untungnya, keluarga dan para sahabat sangat mendukung dirinya. Suami dan kedua anaknya yang sempat terkejut di awal menjadi enjoy, lantaran Fibriyanti berstatus OTG.

Sejumlah sahabat, kolega kantor, hingga tetangga memberikan support yang lebih. ’’Yang paling sensitif itu suami. Selalu memeriksa perkembangan. Ya lewat telepon genggam. Kan dia di lantai satu, saya di lantai dua. Jadi harus laporan sudah olahraga, makan, caring (berjemur), lewat video dan foto,’’ beber Fibriyanti.

Sejumlah kolega kantor juga demikian. Setiap hari berkomunikasi lewat media sosial. Ada yang men-support agar menambah tingkat ibadah. Tak sedikit pula yang mengirimi berbagai macam vitamin, makanan sehat, madu, hingga jamu. ’’Bahkan tetangga mengirimi parutan untuk membuat jamu. Selama isolasi, diisi sembahyang,’’ sebutnya.

Fibriyanti sebenarnya tak sendiri. Dua rekan kerjanya satu kantor juga mengalami hal yang sama. Meski begitu, mereka saling support. ’’Kita buat grup WA (WhatApps) sendiri. Orang kantor juga ikut. Jadi saling dukung. Alhamdulillah dua anak buah saya yang juga positif, sekarang sudah sembuh. Senin (20/7) besok mulai masuk kerja,’’ tambah dia.

Sepanjang isolasi mandiri, dirinya mengaku sempat heran betul. Terlebih, dirinya tak mengalami suatu gejala penyakit apa pun. Apalagi, dari dinkes juga tidak melakukan pemeriksaan. ’’Hanya diberi vitamin C. Saya minta diperiksa, juga tidak diberi karena saya disebutkan OTG,’’ tandas Fibriyanti.

Besarnya dukungan keluarga dan sahabat membuat mentalnya kuat. Berbagai treatment hasil browsing internet dan masukan tenaga medis dinkes dilahapnya. Aneka vitamin, jamu, hingga probiotik dikonsumsinya.

Alhasil, kondisi tubuhnya pun terasa lebih sehat. ’’Berat badan sebelumnya 62 kilogram sekarang turun menjadi 52 kilogram. Mungkin sering caring, sepeda statis, dan angkat barbel,’’ kata dia sambil terkekeh.

Di sela masa isolasi, awalnya terbilang menjenuhkan. Hiburan banyak dia dapat dari televisi dan telepon genggam. ’’Yang paling sering ya lihat film anak-anak Upin Ipin. Juga sinetron. Lihat film Korea yang ada teks bahasa Indonesia-nya saja. Ada juga teman yang sering kirim video-video lucu,’’ pungkas Fibriyanti. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia