alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Journey
icon featured
Journey

Paralayang, Ikon Baru Wisata di Kecamatan Trawas

17 Juli 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dengan ketinggian 1,24 mdpl, Puncak Sungkroo sangat ideal bagi atlet paralayang.

Dengan ketinggian 1,24 mdpl, Puncak Sungkroo sangat ideal bagi atlet paralayang. (Aris/Radar Mojokerto)

DESTINASI wisata di Kabupaten Mojokerto bakal kian beragam. Menyusul suksesnya uji coba paralayang di Desa Trawas. Sepanjang Rabu (15/7) kemarin, terlihat 5 hingga 6 atlet paralayang dari FASI Jatim menjajal terbang berkeliling di langit kawasan Trawas.

Uji coba paralayang ini dihadiri kepala Disparpora Kabupaten Mojokerto, Danlanud Muljono Surabaya, Muspika Trawas, serta kepala Desa Trawas. Ratusan warga juga tampak berjajar menyaksikan atraksi terbang yang terbilang sangat langka di Trawas ini.

Kepala Disparpora Kabupaten Mojokerto Amat Susilo mengatakan, uji coba paralayang di Desa/Kecamatan Trawas tersebut menjadi terobosan baru wisata di kabupaten. Bahkan, bisa dikatakan sebagai destinasi wisata yang fenomenal. ”Jika sudah terealisasi, paralayang ini bisa menjadi  ikon wisata. Tak hanya di Trawas, namun juga di Kabupaten Mojokerto,” kata Amat.

Dia memastikan, terobosan ini juga bakal mendapat dukungan penuh dari Pemkab Mojokerto. Apalagi, selama ini kawasan Trawas merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan. ”Kita akan dukung penuh pengembangan paralayang menjadi wisata yang menarik. Karena itu kita harap pemdes juga terus berkoordinasi untuk pengembangannya,” imbuhnya.

Dukungan serupa ditunjukan Lanud Muljono Surabaya Kolonel (Pnb) M. Somin. Menurutnya, sebagai pemegang wilayah udara, Lanud Muljono siap mengamankan wilayah udara Trawas jika dipakai ajang terbang paralayang. ”Kita akan berkoordinasi dengan Airnav terkait ketinggian aman bagi semua penerbangan saat dipakai paralayang,” tegas Somin.  

Sementara itu, Kepala Desa Trawas Wuliono mengungkapkan, suksesnya uji coba ini sangat melegakan. Pasalnya, rencana pemanfaatan puncak Bukit Sungkroo sebagai ajang paralayang butuh waktu yang tidak singkat. ”Kita sudah pikirkan untuk membuat wisata paralayang ini sejak sekitar 10 tahun lalu,” ujar Wuliono.

Sedangkan untuk prasarana paralayang, Pemdes Trawas sudah menyiapkan lahan seluas sekitar 8,5 hektare. Di lahan yang merupakan tanah kas desa (TKD) ini sudah direncanakan untuk aerodrome atau landasan landing, area parker, pujasera, serta terminal untuk shuttle kendaraan khusus menuju puncak Bukit Sungkroo.

Namun ia mengakui, menjadikan paralayang sebagai wahana wisata baru memang tidak mudah. Mengingat anggaran yang dibutuhkan untuk menyiapkan sarana dan prasarana terhitung lumayan besar. ”Belum lagi terkait penyediaan peralatan serta pelatihan bagi warga desa untuk siap menjadi pilot,” imbuhnya.

Kendati demikian, Wuliono memastikan, tetap bakal segera merealisasikan paralayang sebagai wahana wisata. Pasca uji coba ini, pemdes akan menggelar semacam soft launching paralayang pada akhir bulan ini. ”Kita optimistis dengan dukungan semua pihak, wisata paralayang bakal segera bisa segera terealisasi,” tandasnya. (dwi)  

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia