alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Warga Tolak Pendirian Tower, Dekat Permukiman, Khawatir Terkena Dampak

15 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tower telekomunikasi tampak berdiri di tengah permukiman warga di Desa Bandung, Kecamatan Gedeg.

Tower telekomunikasi tampak berdiri di tengah permukiman warga di Desa Bandung, Kecamatan Gedeg. (Shalihin/Radar Mojokerto)

GEDEG, Jawa Pos Radar Mojojerto – Warga Dusun Bandung Kulon, Desa Bandung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, menolak pendirian tower telekomunikasi.

Pasalnya, pendirian tower dengan ketinggian mencapai 40 meter lebih itu berada di tengah permukiman warga. Sehingga warga merasa khawatir akan terkena dampak radius maupun dampak lainnya yang ditimbulkan.

Debby Ariasya Kristine, salah satu warga mengatakan, tower diduga milik satu salah profider tepat berada di belakang rumahnya itu berjarak sekitar 40 meter dengan permukiman. Sehingga dirinya merasa khawatir dengan dampak yang ditimbulkan jika pemancar telekomunikasi itu sudah dioprasikan.

Baca juga: Hasil Rapid Test Reaktif, Lima Petugas Coklit Dicoret

”Ada tiga dampak yang ditimbulkan jika tower itu sudah beroperasi. Di antaranya, dampak radiasi, sambaran petir, sama efek robohnya,” katanya.

Debby menjelaskan, radiasi itu bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti vertigo, telinga berdenging, kanker, kerusakan DNA pada janin, sehingga dapat menyebabkan bayi lahir cacat, dan gangguan metabolisme tubuh.

Dia menuturkan, pemasangan penangkal petir diketahui tidak sampai tanah dan dapat menyebabkan pantulan ke rumah warga yang berakibat getaran tanah. ”Sehingga alat elektronik bisa mengalami kerusakan. Seperti TV, dan handphone,”  imbuhnya.

Tak hanya itu, lokasi berdirinya tower di tengah permukiman warga itu membuatnya khawatir jika suatu saat terjadi angin kencang. Apalagi, saat musim hujan. ”Sering terjadinya angin kencang di sekitar tower. Dan ini dapat meningkatkan risiko jatuhnya material tower, bahkan robohnya tower,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Untung Supriyadi 33. Dia mengaku menolak adanya pendirian tower tersebut dengan alasan yang sama. Dia berharap tower tersebut tidak sampai beroperasi. ”Saya tidak sangat tidak setuju. Karena nantinya akan berdampak pada warga sekitar,” ujarnya.

Warga lainnya, Agus Yubagio 62, menambahkan, dengan adanya tower di tengah perkampungan itu dirinya khawatir terhadap radiasi yang ditimbulkan bisa berakibat fatal terhadap anak-anak yang bermain di sekitar tower tesebut. ”Imbasnya itu banyak. Seperti ke anak kecil yang main di situ,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, selama ini belum ada sosialisasi yang difasilitasi pemerintah desa. Sehingga menambah kekhawatirannya. ”Tidak ada sosialisasi sama sekali. Tiba-tiba sudah berdiri. Nah, kalau nantinya terjadi apa-apa sipa yang bertanggung jawab,” tandasnya.

Kepala Desa Bandung Komari Arifin mengungkapkan, pihaknya memang tidak memfasiltasi sosialisasi. Sebab hal tersebut dinilai menjadi kewenangan antara pemilik lahan dan warga setempat. Dirinya hanya bisa memberikan izin jika warganya yang berada di area tower sudah sepakat.

”Saya serahkan sepenuhnya kepada warga. Karena ini bukan hajatnya desa. Kalau hajatnya desa pasti saya fasilitasi. Kalau warga setuju ya monggo (silakan, Red). Tapi, kalau tidak setuju desa tidak berani apa-apa,” tandasnya. (hin)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya