alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Abdul Mahmud, Pasien Covid-19 yang Sembuh

33 Hari Diisolasi, Pulang Malah Dikucilkan Tetangga

14 Juli 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Rumah Mahmud, eks pasien 63, di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro tampak sepi. Toko yang semula ramai pelanggan, kini tak lagi didatangi para tetangganya.

Rumah Mahmud, eks pasien 63, di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro tampak sepi. Toko yang semula ramai pelanggan, kini tak lagi didatangi para tetangganya. (Imron Arlado/radar mojokerto)

Stigma buruk menjamah pasien Covid-19. Di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, satu keluarga dikucilkan para tetangganya. Padahal, salah satu keluarganya yang semula dinyatakan positif telah dinyatakan sembuh. 

SIANG itu, di awal  bulan Juni, adalah mimpi buruk bagi Abdul Mahmud, 48. Bapak tiga anak ini dinyatakan positif terpapar Covid-19 setelah menjalani perawatan satu malam di RS Mawadah, Mojosari. Ia pun harus dirujuk ke RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, dan diisolasi. Mahmud menjalani perawatan di rumah sakit cukup lama.

Totalnya mencapai 33 hari. Dan, ia baru boleh keluar rumah sakit setelah menjalani uji swab sebanyak tujuh kali. ’’Setelah swab ke 6 dan 7 dinyatakan negatif, baru boleh pulang,’’ ungkapnya. Sepulang dari rumah sakit, pria yang bekerja sebagai sales di PT Ajinomoto ini menceritakan, sudah terjadi perubahan total.

Keluarganya yang semula memiliki hubungan baik dengan tetangga mendadak berubah. Mereka dikucilkan oleh para tetangga. ’’Kemarin saya salat ke masjid. Saya malah dijauhi. Tidak ada yang mau mendekat,’’ beber dia. 

Bagi Mahmud, dikeluarkannya dirinya dari ruang isolasi rumah sakit, bukan keinginan pribadinya. Namun, disebabkan oleh keputusan tim medis yang merujuk hasil uji swab yang menyatakan bersih dari virus korona. Yang lebih memprihatinkan, sejak ia dinyatakan positif Covid-19, usaha mereka mendadak gulung tikar.

Toko yang biasa menjadi salah satu pendapat rumah tangganya, tak lagi dilirik para pelanggan. Padahal, sejak ia menjalani rawat inap, istri, dan ketiga anaknya langsung menjalani rapid test. Meski belakangan hasilnya dinyatakan nonreaktif. ’’Hanya anak ketiga yang reaktif. Tetapi, saat swab, ternyata negatif,’’ bebernya.

Keruwetan yang dialami keluarga ini, tak berhenti di situ. Selama menjalani isolasi, keluarganya harus bertahan hidup sendiri. Pemerintah tak pernah hadir di keluarga ini. Keluarga ini sama sekali tak mendapat bantuan sosial sedikit pun. Istri Mahmud, Siti Rojanah menambahkan, perlakuan itu sangat berbeda dengan tiga pasien Covid-19 lain di desa ini.

Mereka mendapatkan bantuan berupa kebutuhan pokok yang disalurkan langsung oleh pemerintah desa setempat. ’’Saya bukan meminta-minta. Tapi, saya cuma ingin kewajiban pemerintah saja. Katanya, kalau kena Covid-19, akan dapat bantuan. Tapi, saya tidak pernah,’’ terangnya.

Perekonomian keluarga Mahmud ini juga cukup memprihatinkan. Karena, sejak diisolasi dan baru keluar dari rumah sakit sejak 3 Juli lalu, ia belum diperbolehkan perusahaan untuk bekerja lagi. Pun demikian dengan anak pertamanya yang bertugas sebagai bidan di RS Husada Ngoro. Ia masih dirumahkan. ’’Saya hanya berharap, pemerintah memperhatikan nasib kami,’’ imbuh Mahmud.

Terpisah, Jubir Tim Gugus Covid-19 Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto mengaku akan segera berkoordinasi dengan dinas sosial (Dinsos) untuk menyikapi keluarga Abdul Mahmud. ’’Segera kita komunikasikan agar peristiwa seperti itu tak terjadi lagi,’’ katanya singkat. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP