alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Apa Kabar Program Jalinbar Kota Mojokerto?

Digagas sejak 2016, Gagal karena Terkendala Lahan

11 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jembatan Rejoto berada di wilayah barat Kota Mojokerto diproyeksikan tersambung dengan rencana pembangunan jalinbar.

Jembatan Rejoto berada di wilayah barat Kota Mojokerto diproyeksikan tersambung dengan rencana pembangunan jalinbar. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Upaya mengembangkan wilayah Kota Mojokerto dengan membuka kawasan barat direncanakan sejak empat tahun silam. Tujuannya, mengurangi disparitas dengan wilayah timur kota yang perekonomiannya maju pesat. Bagaimana perkembangannya kini?

MENDUNG menghiasi langit kawasan Jembatan Rejoto, sore kemarin. Hanya segelintir orang tengah asyik duduk-duduk di trotoar jembatan sembari menikmati jajanan pentol. Lalu lalang kendaraan pun sepi. Menyisakan beberapa kendaraan roda dua melintas.

Di sekitaran Jembatan Rejoto yang melintas di atas Sungai Kotok masih tak banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir ini. Areal pertanian tampak terhampar sejauh mata memandang. Bangunan yang ada sebatas bangunan semipermanen milik pedagang minuman dan warung kopi yang berdiri di samping trotoar wilayah jembatan.

Area jembatan yang menyambungkan kawasan barat Kota Mojokerto ini memang tak banyak diakses orang. Jika dibandingkan dengan Jembatan Pulorejo atau Jembatan Balongcangkring, Jembatan Rejoto paling sepi dilintasi warga.

’’Dibanding Benteng ya jauh. Yang ke sini biasanya jalan-jalan melihat pemandangan,’’ ujar Rudianto, penjual pentol. Meski begitu, seyogianya pembangunan jembatan menyambungkan antara Kelurahan Pulorejo dan Blooto ini bertujuan untuk menyambungkan kawasan yang terpisahkan sungai.

Dari situ, diharapkan pula pengembangan kawasan menjadi tindak lanjutnya. Adalah program pembangunan jalan lingkar barat (Jalinbar) sebagai tindak lanjut dari pengembangan kawasan. Program lanjutan itu dirancang setelah Jembatan Rejoto dibangun.

Akan tetapi, kondisi berbeda dialami kawasan barat Kota Mojokerto. Kendati Jembatan Rejoto telah diresmikan sejak tahun 2016 silam, pengembangan kawasan barat kota masih stagnan. Itu tak lepas tak kunjung berjalannya proyek pembangunan jalinbar.

Sedianya, program jalinbar diluncurkan pemkot dengan membangun ruas jalan setara jalan tol. Mulai dari simpang empat Perumahan Citra Surodinawan (CSE), Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon mengarah ke barat hingga Blooto. Kemudian melintasi rel kereta api ke barat hingga tersambung ke Jembatan Rejoto. Dari jembatan tersebut, jalinbar mengarah ke Jalan Raya Pulorejo-Watudakon.

Dalam Laporan Pertanggung jawaban Penggunaan Anggaran (LPPA) Pemkot Tahun Anggaran 2019 yang kemarin rampung disepakati Pemkot dengan DPRD Kota Mojokerto, diketahui nasib proyek pengembangan kawasan barat Kota Mojokerto ini. Beberapa fraksi DPRD sempat menanyakan program ini.

Menjawab hal itu, Wali Kota Ika Puspita Sari alias Ning Ita mengatakan, program jalinbar merupakan salah satu dari beberapa program yang gagal terlaksana di tahun 2019. Program jalinbar pada APBD 2019 dialokasikan anggaran mencapai Rp 10 miliar. Peruntukkannya sebagai dana pengadaan lahan bagi proyek jalinbar.

Anggaran miliaran rupiah itu, kata Ning Ita, gagal terserap. Menyusul, saat tahapan konsultasi publik, belakangan diketahui pemilik lahan yang diplot dalam jalur lahan jalinbar menolak lahannya dibeli pemkot. ’’Ada 20 persen warga pemilik lahan yang menolak,’’ kata Ning Ita saat paripurna jawaban wali kota atas pandangan umum (PU) fraksi-fraksi terhadap LPPA pemkot TA 2019.

Alhasil, anggaran Rp 10 miliar yang disiapkan untuk pengadaan lahan akhirnya gagal terserap. Pemkot disebut-sebut bakal menyiapkan program pengganti proyek jalinbar. Itu dilakukan guna mengembangkan kawasan barat Kota Mojokerto yang sering disebut memiliki potensi wisata.

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP