alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Keberadaan Kampung Kauman di Mojokerto (2)

Diberi Tugas untuk Menjaga Kemakmuran Masjid

09 Juli 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Masjid Agung Al Fattah di Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon yang dulu menjadi Kampung Kauman di wilayah Kawedanan Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah di Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon yang dulu menjadi Kampung Kauman di wilayah Kawedanan Mojokerto. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Kampung Kauman memiliki sejumlah keistimewaan khusus dari pemerintah. Selain diperuntkkan sebagai tempat bermukim bagi para mudin, tanahnya juga status perdikan atau daerah yang tidak memiliki kewajiban membayar pajak.

Yuhan menjelaskan, oleh karena itu area di kampung Kauman tidak memiliki wilayah yang luas jika dibandingkan dengan desa lain. Pasalnya, masyarakat yang tinggal di Kauman hanya memiliki tugas untuk menjaga kemakmuran masjid. ”Kebutuhan pangan kampung Kauman dijamin dan dicukupi oleh bupati,” imbuhnya.

Keistimewaan lainnya adalah titik lokasi kampung Kauman biasanya berada cukup dekat dengan pasar tradisional. Sehingga sebagian besar warga yang tinggal di perkampungan tersebut dapat dengan mudah untuk bermata pencaharian sebagai pedagang. Terlebih, pada masa lalu, sumber daya manusia (SDM) warga yang tinggal di kampung Kauman tergolong lebih maju dibanding perkampungan lainnya.

Sebab, kata Yuhan, masyarakatnya sudah melek huruf alias memiliki kemampuan baca-tulis maupun berhitung (calistung). ”Kelebihan itu yang membuat warga Kauman bisa bekerja di sektor perdagangan,” paparnya. Namun, seiring berjalannya waktu, nasib warga kampung Kauman barubah.

Penyebabnya, pemerintah kabupaten tidak mampu lagi menanggung kebutuhan hidup mereka. Itu menyusul adanya perubahan kebijakan bahwa pendapatan bupati sepenuhnya digaji oleh pemerintah.

Sehingga penghasilan bupati pun menurun drastis. Sebab, setoran upeti atau pajak yang sebelumnya didapat dari desa harus diambil alih oleh pemerintah. Akibatnya, warga Kauman harus mencukupi kebutuhannya secara mandiri dengan mengelola persawahan.

”Selain itu, jaringan mudin juga ditarik sebagai bagian dari pemerintahan,” urainya. Sejak saat itu, mudin tidak lagi melekat bagi para ahli di bidang agama Islam, tetapi sudah bergeser menjadi sebuah kedudukan atau jabatan.

Mantan ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menyebutkan, pejabat kemudinan itu disebut sebagai penghulu. Baik di tingkat kabupaten maupun kawedanan. ”Para penghulu itu berkantor di dalam Masjid Kauman,” ulasnya.

Yuhan menambahkan, sebutan penghulu kemudian dihapuskan dan diganti dengan kepala Kantor Agama Kabupaten Mojokerto. Pun demikian dengan lokasi bekerja yang tak lagi berdinas di dalam Masjid Kauman, melainkan mendirikan kantor yang terpisah dari tempat ibadah.

Hingga saat ini, penamaan kampung Kauman hanya tersisa di dua wilayah. Masing-masing di eks Kawedanan Mojokerto yang kini menjadi Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, dan eks Kawedanan Mojosari yang sekerang menjadi Kelurahan Kauman, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Sedangkan eksistensi dua kampung Kauman lainnya di eks Kawedanan Mojokasri maupun di eks Kawedanan Jabung kian tenggelam. Meski begitu, jejak dari empat pemukiman Kauman masih tetap berdiri hingga sekarang.

Yaitu, keberadaan Masjid Kauman yang masih berfungsi sebagai rumah ibadah bagi warga sekitar. ”Selain itu, sebutan mudin juga masih dapat dijumpai di tingkat desa hingga saat ini,” pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP