alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Tertahan Cuaca Ekstrem di Puncak Penanggungan, Dua Pendaki Selamat

07 Juli 2020, 13: 52: 06 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sepasang pendaki Gunung Penanggungan yang tak kunjung turun tepat waktu akhirnya ditemukan dan dikawal petugas gabungan ke Pos Pendakian Telogo Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro.

Sepasang pendaki Gunung Penanggungan yang tak kunjung turun tepat waktu akhirnya ditemukan dan dikawal petugas gabungan ke Pos Pendakian Telogo Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro. (Khudori Aliandu/radarmojokerto)

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Cuaca ekstrem menjadi alasan sepasang pendaki, Yahya Muchyiddin, 27, dan Meilani Dwi Krismonika, 22, tertahan di puncak Gunung Penanggungan, Senin (6/7).

Hingga keduanya memutuskan memperpanjang masa pendakian tanpa memberitahu pos pendakian. Keputusan keduanya membuat geger penjaga Pos Telogo Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabapaten Mojokerto, yang menjadi jalur keduanya mendaki.

Semestinya, dua pendaki itu sudah turun pada Minggu (5/7) atau sesuai dengan registrasi izin pendakian. Tim SAR gabungan TNI, Polri, relawan dan dibantu warga terpaksa jemput bola menyisir warga Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep; dan Simo Gunung, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, itu.

’’Minggu Sore rencana mau turun. Tapi karena angin kecang, akhirnya kami putuskan untuk menambah semalam,’’ ungkap Yahya Muchyiddin saat tiba di Pos Pendakian Telogo, kemarin.

Logistik yang mencukupi membuat Yahya kian yakin melakukan perpanjangan di Puncak Pawitra bersama Meilani Dwi tersebut. ’’Daripada nekat turun malah membahayakan. Kebetuan, logistik kita juga ada cadangan,’’ imbuhnya.

Hanya saja, keputusan sepihak tersebut membuat heboh pos pendakian. Selain tak kunjung turun 1x24 jam dari batas izin pendakian, petugas Pos Pendakian Telogo juga khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. ’’Tadi (kemarin, Red) pukul 07.00 sudah mau turun, karena ada kabut tebal. Kami tunggu sebentar akhirnya. Kami turun pukul 09.00,’’ tegasnya.

Disinggung kekhawatiran warga dan petugas pos pendakian, Yahya mengaku tidak tahu. Yahya menjelaskan, medan yang menanjak membuat Yahya dan Meilani Dwi, memang sengaja melakukan pendakian secara santai.

Dirinya yang berangkat Sabtu (4/7) sekitar pukul 23.30 baru sampai Candi Wayang sekitar pukul 00.30. Setelah istirahat sekitar satu jam, keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai Puncak Pawitra Minggu (5/7) sekitar pukul 05.30.

Sesampainya di puncak dengan ketinggian 1.653 meter di Atas Permukaan Laut (MDPL) keduanya mendirikan tenda untuk berisitihat. ’’Saya juga baru tahu jika membuat warga dan pos khawatir saat di atas Candi Wayang ada warga dan petugas pos yang menyusul naik,’’ ungkap Yahya.

Informasi hilangnya dua pendaki penanggungan membuat Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander juga turun langsung ke lokasi. Didampingi personelnya, Dony langsung melakukan pengecekan ke Pos Pendakian Telogo, Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro. ’’Seharusnya dua pendaki ini memang sudah turun sejak Minggu,’’ ungkap Dony di lokasi.

Dua pendaki itu didapati masih berada di atas Candi Wayang sekitar pukul 12.30 dengan selamat. Keduanya hanya kelelahan lantaran cuaca di puncak gunung tidak bersahabat. ’’Kondisi cuaca dan fisik itu memang yang membuat mereka tidak bisa turun Minggu, hingga membuat kesalahpaham dengan petugas pos pendakian,’’ tegasnya. (ori/abi)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP