alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mata Lensa
icon featured
Mata Lensa
Terbentuknya Kepolisian di Mojokerto (Habis)

Setelah Kemerdekaan, Dibentuk Polisi Daerah

02 Juli 2020, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gedung dan halaman di Jalan Hayam Wuruk yang dulu menjadi tempat latihan dan asrama polisi daerah pada masa revolusi kemerdekaan.

Gedung dan halaman di Jalan Hayam Wuruk yang dulu menjadi tempat latihan dan asrama polisi daerah pada masa revolusi kemerdekaan. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, fungsi kepolisian hasil didikan Jepang masih berjalan. Sejumlah ilmu kepolisian pun banyak dikuasai warga pribumi.

Baik terkait penyidikan hingga intelejen. Sebab, sejak awal, Jepang melatih personel polisi untuk mengantisipasi adanya perlawaan dari musuh. ’’Jadi, polisi Indonesia saat itu sudah cukup mumpuni,’’ lanjut Ayuhanafiq.

Namun, kembalinya Belanda pada masa revolusi kemerdekaan memaksa sebagian besar aparat polisi keluar dari Mojokerto. Akibatnya, lembaga kepolisian sebagai penjaga keamanan pun kembali mengalami kekosongan.

Yuhan menyebutkan, Belanda kemudian membentuk kembali polisi daerah. Namun, lembaga tersebut hanya didirikan sebagai aksesori belaka.

Yaitu, untuk menunjukkan kepada negara-negara lain bahwa fungsi kepolisian untuk menjaga keamanan masih berjalan di bawah kolonial. ’’Padahal sebenarnya hampir semua fungsi keamanan ditangani oleh militer waktu itu,’’ bebernya.

Untuk mengisi kebutuhan aparat polisi daerah, pasukan kolonial melakukan perekrutan. Namun, karena sebagian besar warga Mojokerto mengungsi, sehingga tenaga-tenaga yang direkrut tidak cukup mumpuni.

Mantan Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menyebutkan, calon aparat yang dilatih saat itu kebanyakan tergolong dari taraf pendidikan sangat rendah. Bahkan. kemungkinan ada yang tidak mengenyam bangku sekolah. Sehingga, banyak yang tidak bisa baca tulis.

Proses pelatihan pun terbilang cukup singkat hanya sekitar tiga bulan. Di Mojokerto, tempat latihan polisi daerah dilakukan di bekas Pabrik Gula Sentanen Lor di Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto. ’’Setelah itu kemudian mereka diasramakan,’’ imbuhnya.

Karena tidak dilatih dan dipersenjatai secara maksimal, personel polisi daerah bentukan Belanda kerap ditangkap oleh para pejuang. Ketika dilakukan introgasi, personel polisi daerah mengaku jika tujuan ikut kolonial hanya untuk mencari makan.

’’Motivasinya hanya itu. Mereka hanya mencari sesuap nasi dari gaji polisi daerah,’’ tandas Yuhan. Selanjutnya, polisi daerah dibubarkan seiring penyerahan kedaulatan kemerdekaan tahun 1950. (abi)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP