alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Prajurit Yonif Para Raider 503 di Kongo

Belajar Bahasa Swahili, Dijuluki Papa dan Mama Indo

02 Juli 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Prajurit Yonif Para Raider 503 Mayangkara saat mendampingi anak-anak suku di pedalaman Kongo belajar.

Prajurit Yonif Para Raider 503 Mayangkara saat mendampingi anak-anak suku di pedalaman Kongo belajar. (Prajurit Yonif Para Raider 503 for Radar Mojokerto)

Keberhasilan pasukan Yonif Para Raider 503 Mayangkara yang tergabung di Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO dalam mendamaikan pertikaian tiga suku di Kongo, Afrika, bukannya tanpa pertaruhan. Perjuangan berat harus ditempuh prajurit selama 7 bulan dalam menjalankan misi menyelesaikan konflik sosial.

PENYERAHAN 27 orang milisi di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo, pada Kamis (25/6) lalu menjadi kabar yang membanggakan bagi keluarga besar TNI. Khususnya keluarga besar TNI yang tergabung dalam satuan Yonif Para Raider 503 Mayangkara Mojosari, Mojokerto.

Ke-425 prajurit Yonif para Raider 503 yang bertugas dikatakan berhasil mendamaikan konflik antarsuku yang berlangsung sejak tahun 1990-an itu. Meski harus mempertaruhkan nyawa, namun misi yang sudah dijalani prajurit selama 7 bulan tersebut berhasil diselesaikan tanpa ada pertumpahan darah.

Ke-27 milisi yang terdiri dari 12 orang dari kelompok Persi Kaomba pimpinan Mr. Mukonga Faliala, 7 orang dari kelompok Aleluya pimpinan Bilenge Shindano, dan 8 orang dari kelompok Apa na Pale pimpinan Mr. Kisidja Mwenge Salumu, itu berhasil disatukan setelah bertahun-tahun saling serang di tengah hutan.

Mereka mempercayai diplomasi persuasif prajurit Yonif Para Raider 503 sebagai juru damai. Hingga muncul rasa kepercayaan ketiga kedua belah pihak untuk tidak lagi berperang. Kepercayaan itu ditandai dengan penyerahan 24 senjata api (senpi) yang terdiri dari 21 pucuk jenis AK-47, 3 pucuk senpi rakitan, 15 buah magazen, dan 51 busur panah berikut 63 anak panah.

Komandan Batalyon Yonif Para Raider 503/Mayangkara Mayor Inf Hadrianus Yossy S.B menceritakan, proses pendamaian tak lepas dari inisiatif sendiri anggota dalam mempelajari sosiologi masyarakat disana. Bahkan, tak jarang anggotanya harus belajar bahasa setempat secara mandiri dengan menggunakan aplikasi translater yang ada di gadget.

Meski harus terbata-bata, namun anggota tetap konsisten berkomunikasi dengan masyarakat menggunakan bahasa Swahili sebagai pengantar. ’’Memang prajurit Yonif Para Raider 503 inisiatif sendiri belajar bahasa Swahili sejak awal tiba November tahun lalu. Dengan bahasa mereka, terbukalah komunikasi antara kami dengan warga,’’ ungkapnya.

Yossy tak memungkiri, komunikasi memang sudah terjalin baik sebelumnya ketika Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO lebih dulu bertugas. Dari komunikasi itu, prajurit TNI Indonesia bahkan dijuluki dengan nama ’’Papa Indo’’ bagi prajurit laki-laki, dan ”Mama Indo” bagi prajurit perempuan.

Julukan tersebut tak lepas dari sikap ramah yang ditunjukkan prajurit TNI Indonesia dalam menjalankan misi perdamaian. Bahkan, tak jarang prajurit Yonif Para Raider 503 mampu menerobos ke dalam lingkup perkampungan warga tanpa ada halangan. Baik berupa todongan maupun tembakan senapan.

’’Kalau bertandang ke rumah warga harus tanpa senjata. Walau memang standar pengamanan harus tetap dilakukan saat berdialog atau interaksi, tapi senjata bisa dikesampingkan dengan hanya sampai di luar rumah warga saja atau dipegang oleh ajudan. Kami ingin memberikan kesan bahwa tanpa senjata, kami bukan ancaman,” papar Yossy.

Ya, setiap prajurit khusus Yonif Para Raider 503 memang ditargetkan mampu menjalin komunikasi minimal dua orang kepala kampung yang dikunjungi. Dari situ, komunikasi bisa terjalin intens dan tercapailah kesepakatan berupa Civil Military Coordination (CIMIC). Yang meliputi berbagai macam bantuan.

Mulai dari pemberian pelayanan pelayanan kesehatan gratis, konsultasi psikologi dan perpustakaan, inovasi pengolahan bahan makanan, cara bercocok tanam, kegitan belajar mengajar, olahraga bersama, hingga edukasi dalam menjaga kebersihan tubuh.

’’Selama ini, harus diakui bahwa kebutuhan warga sangatlah kurang. Mereka hanya mengonsumsi tepung yang diolah dengan air dan garam. Jagung yang berusia tua dan ubi-ubian yang direbus begitu saja,’’ terang Wadan Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO ini. Di Kongo, latar belakang keyakinan masyarakat didominasi tiga jenis agama.

Di mana, 50 persen warga beragama Nasrani, 30 persen beragama Islam, dan 20 persen kepercayaan. Namun, prajurit TNI berusaha menciptakan toleransi antarumat beragama dengan selalu menggelar perayaan bersama-sama. Mulai dari Natalan yang kerap menghadirkan Sinterclas untuk memberikan hadiah kepada semua anak-nak.

Demikian pun saat Ramadan, kegiatan berzakat dilakukan dengan pengadaan beras dan kambing untuk disantap bersama. Dari upaya itulah, warga antarsuku bisa tersentuh dan berhasil ditenangkan. ’’Jika ada apa-apa, mereka langsung melaporkan ke kami. Bahkan, sampai saat ini jumlah kriminalitas mulai menurun setiap harinya,’’ tandasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP