alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Oleh: Sofyan Ubadi Anom

Berdamai dengan Pagebluk

21 Mei 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sketsa Sofyan Ubaidi Anom.

Sketsa Sofyan Ubaidi Anom. (Nadzir/Radar Mojokerto)

SEJAK diumumkan oleh Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020, tentang kasus pertama terjangkitnya warga negara Indonesia oleh wabah pandemi Covid-19, yakni menimpa dua warga Depok yang mempunyai hubungan kekerabatan ibu (64 tahun) dan anak perempuannya (31 tahun), keduanya terjangkit wabah Covid-19 setelah kontak dengan warga negara asal Jepang yang datang ke Indonesia.

Sejak diumumkannya kasus pasien terpapar wabah Covid-19 ini, dan sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh pihak pemerintah, seirirng berjalannya waktu, bahwa sebaran wabah pandemi Covid-19 menjangkit warga yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya ternyata makin meluas.

Kemudian melalui persetujuan Kemenkes RI, Gubernur DKI Jakarta menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Berlaku sejak tanggal 10 April sampai 14 hari ke depan. Karena situasi belum dapat dikendalikan, kemudian diperpanjang sampai dengan 22 Mei, yang tentunya sudah masuk pada bulan Ramadan tahun 2020.

Ada situasi yang berbeda dalam Ramadan tahun 2020 Masehi atau bertepatan dengan tahun 1441 Hijriyah kali ini di Jakarta. Yang pada suasana biasanya di jalan-jalan utama terlihat ramai bahkan macet, atau warung-warung makan yang penuh di saat jelang berbuka puasa.

Dengan suasana penuh keprihatinan karena pandemi Covid-19 ini, berdampak pada perantau di Jakarta yang bekerja menjadi buruh atau bekerja disektor informal.Banyak teman-teman seperantauan yang sudah pulang kampung lebih awal, bahkan sebelum Ramadan.

Mengingat, di Jakarta sudah diberlakukan PSBB, tentu berdampak pada pengurangan aktivitas dalam bekerja dan aktivitas masyarakat dalam kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya.Pada gilirannya berimbas terhadap berkurangnya pendapatan, karena perputaran roda ekonomi yang berjalan lambat bahkan stagnan.Sebagai warga perantauan, tentu tidak menjadi prioritas kebijakan dari pemerintah setempat sebagai penerima manfaat bantuan sosial dampak bencana kemanusiaan nonalam ini.

Hal ini yang mengakibatkan teman-teman perantau di Jakarta dan sekitarnya memilih pulang kampung lebih cepat.Meski ada beberapa aksi sosial yang dilakukan organisasi kemasyarakatan yang sifatnya saling bantu.Dalam hal ini, misalnya berbagi sembako atau masker kepada kelompok masyarakat yang rentan terdampak Covid-19.Namun, situasi tersebut tidak bisa dijadikan sandaran bagi perantau di Jakarta.

Banyak teman-teman seperanatuan yang kehilangan pekerjaan karena PHK atau tempatbekerjanya yang tutup.Sehingga berakibat pada ketidakmampuan membayar biaya kos atau kontrakan rumah.Banyak perantau yang memilih berlindung untuk tidur di emperan toko.Misalnya, di kawasan Pasar Tanah Abang atau dikolong jembatan di Kampung Melayu.

Suasana berbeda pada bulan Ramadan dan jelang Lebaran ini adalah yang biasanya sering ada agenda berbuka puasa bersama teman kerja atau teman seperantauan, kali ini kegiatan tersebut tidak bisa dilakukan. Mengingat, warung atau rumah makan tidak diperbolehkan membuka usahanya atau melayani konsumen untuk makan di tempat, guna menghindari kerumunan.

Dalam situasi jelang Lebaran ini tentu tidak ada pilihan selain pasrah dengan situasi bencana kemanusiaan nonalam ini. Saya, misalnya.Setiap jelang Hari Raya Idul Fitri sekurangnya H-10 sebelum Lebaran sudah melakukan perjalanan pulang kampung di Mojosari, Mojokerto.Dan tiket kereta api (KA) dari Jakarta menuju Mojokerto biasanya saya pesan 3 bulan sebelum hari pemberangkatan.

Namun, saat ini tiket yang saya kantongi tidak bisa digunakan, karena PT KAI menghentikan operasional perjalanan kereta api jarak jauh sampai batas waktu yang belum ditentukan.Dan biaya akan diganti penuh oleh pihak PT KAI. Dalam situasi seperti ini kita dituntut untuk berdamai dengan keadaan dan suasana, toh saya juga merasa tidak sendirian dalam mengalaminya.

Banyak orang juga merasakan suasana batin yang sama.Dimana untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri yang bernuansa saling silaturahmi, kali ini jauh dari sanak keluarga di kampung halaman. Semoga bencana pandemi Covid-19 ini segera berlalu.Segera pulih, kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya kita normal seperti semula.

Atau justru tertata ulang struktur sosial, budaya, dan ekonomi baru yang lebih berkeadilan bagi kita semua. Semoga ada hikmah di balik bencana pagebluk Covid-19 ini. (*)

*)Penulis adalah Konsorsium Pembangunan Agraria asal Mojosari, kini tinggal di Jakarta.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP