alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Oleh: Dadang Ari Murtono

Pertanyaan Menyebalkan, Kini Dirindukan

20 Mei 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sketsa Dadang Ari Murtono

Sketsa Dadang Ari Murtono (Nazdir/Radar Mojokerto)

DARI jendela rumah kontrakan di Jogjakarta, saya menatap sepetak taman yang dilapisi rumput jepang lebar. Beberapa mahuni merah membuat taman itu teduh.

Di sudut, berdiri kandang besar berisi dua ekor merak. Sepasang merak itu datang tiga bulan setelah kami – saya dan istri – menempati rumah kontrakan ini. Pada awal-awal kedatangannya, kami suka melihat tingkah polah merak-merak itu. Kadang-kadang mereka memekarkan ekornya yang lebar.

Kami tertawa girang sewaktu mereka mencoba melompat ke dahan-dahan buatan yang tinggi dalam kandang itu. Kami terkejut menyadari lompatan mereka ternyata cukup tinggi. Setiap hari, si pemilik kontrakan yang rumahnya tak jauh dari rumah yang kami tempati, datang dan memberi pakan merak-merak itu.

Sesekali merak-merak itu berbunyi. Suaranya tebal dan dalam, seperti mengandung kesedihan. Waktu itu, kami tak yakin apakah merak-merak itu memang bersedih. Kami tak pernah menduga bahwa akan tiba suatu waktu di mana kami, pada akhirnya, bisa merasakan apa yang merak-merak itu rasakan, meski kadarnya mungkin tak sama.

Virus korona merebak, kasus pertama di Jakarta, lantas merembet ke daerah-daerah lain, Jogjakarta tentu saja termasuk. Dan kami mesti mengikuti anjuran pemerintah untuk diam di rumah saja. Dan begitulah, kini, dari dalam rumah kontrakan, memandang keluar melalui kaca jendela, kami merasa serupa benar dengan merak-merak itu. Terkurung, bersedih, dihajar cemas yang akut.

Dari tempat saya duduk, saya menerka-nerka, apakah virus tengah merambat di pucuk-pucuk rumput atau di meja taman yang terbuat dari beton. Kadang-kadang, tetangga datang dan melihat-lihat taman serta mengagumi keindahan sepasang merak tersebut.

Kami tak tahu mereka membawa virus atau tidak, meski tentu saja kami berharap mereka tidak membawanya. Kebanyakan para tetangga itu datang dengan mengajak anak-anaknya. Dan itu membuat saya jatuh pada sentimentalisme. Dengan segera, saya terkenang pada orang tua saya di Pacet, Mojokerto.

Di hari-hari yang tak menentu ini, rasanya semua akan lebih mudah tertanggungkan bila kita menghadapinya bersama orang-orang tercinta. Namun, itu adalah sesuatu yang mustahil. Semenjak wabah merebak, orang tua saya, dengan kesadaran penuh, telah merestui saya tidak pulang kampung lebih dulu.

Saya melihat mata mereka berair di layar ponsel saya ketika mengatakan itu. ”Demi kebaikan semua,” kata mereka. ”Tapi, sebentar lagi Lebaran,” jawab saya. ”Tahun depan toh masih ada Lebaran lagi,” sahut mereka. Lantas kami sama-sama diam.

Ini akan jadi Lebaran yang berat. Saya tahu. Untuk pertama kalinya di sepanjang umur saya, saya akan berlebaran jauh dari rumah. Saya tidak akan bisa bersimpuh di kaki kedua orang tua saya – mereka biasanya akan duduk di sofa ruang tamu dan anak-anak beserta para menantu dan cucu akan antre menunggu giliran – untuk meminta ampun atas segala kesalahan selama setahun.

Sebuah ritual yang selalu kami laksanakan persis setelah kami pulang dari salat Id di masjid. Saya tidak akan merasakan hangat tangan mereka, getar suara mereka, dan isak tangis mereka ketika kami mencium kulit keriput tangan mereka.

Saya juga tidak akan bertemu dengan teman-teman lama, tetangga-tetangga di kampung, sepupu dan paman serta bibi. Pada Lebaran-Lebaran yang lalu, saya, barangkali juga seperti banyak orang lain, senantiasa diganggu dengan bayang-bayang pertanyaan dari orang-orang: kerja di mana, kapan menikah, kapan punya anak, dan lain sebagainya.

Saya tahu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu pada mulanya adalah sekadar basa-basi. Namun, lama-kelamaan, pertanyaan-pertanyaan itu menjelma teror yang tidak nyaman. Celakanya, orang-orang itu selalu menemukan pertanyaan baru setelah pertanyaan lama berhasil kita jawab dengan memuaskan.

Ketika kita masih kuliah, mereka bertanya kapan lulus. Setelah lulus, mereka bertanya kerja di mana. Setelah dapat kerja, mereka bertanya kapan menikah. Setelah menikah, mereka bertanya kapan punya anak. Setelah punya anak, mereka bertanya kapan momongannya nambah, dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu, lambat laun, berubah menjadi semacam ritual yang harus ada dalam lebaran, persis seperti suguhan kue kering, persis seperti tradisi sungkem dan halal bilhalal ke rumah sanak saudara dan handai taulan.

Tahun ini, saya tahu, saya tak akan mendapatkan pertanyaan yang mulai dua tahun lalu saya dapatkan: kapan punya anak. Sejak menikah pada awal 2018, saya memang belum dikaruniai anak. Selama dua tahun, pertanyaan itu senantiasa saya hindari.

Dan tahun ini, saya tahu saya tidak bakal mendapat pertanyaan serupa itu, tanpa perlu bersusah payah menghindarinya atau memikirkan semacam alibi untuk menjawabnya.

Namun, alih-alih lega, saya justru merasa nelangsa. Saya benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya berlebaran tanpa mendengar pertanyaan itu, sama halnya saya tak dapat mengimajinasikan berlebaran tanpa sungkem di hadapan kedua orang tua. Saya merindukan pertanyaan-pertanyaan yang pernah terdengar menyebalkan itu.

Sama seperti saya merindukan orang tua dan saudara-saudara saya di Pacet. Namun, seperti yang dikatakan orang tua saya, saya tetap tidak akan mudik. Demi kebaikan semua.

Seraya berharap Lebaran tahun depan saya bisa mudik dan berkumpul bersama keluarga, serta mendengar lagi pertanyaan-pertanyaan menyebalkan tersebut, saya berdoa semoga wabah segera usai. Lalu kehidupan kembali normal. (*)

*)Penulis adalah penyair dan novelis asal Mojokerto kini tinggal di Jogjakarta.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP