alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Oleh: Nanang Nur Fauzi

Hikmah di Tengah Ketidakbiasaan

18 Mei 2020, 19: 45: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sketsa Nanang Nur Fauzi

Sketsa Nanang Nur Fauzi (Nadzir/Radar Mojokerto)

Data tahun 2017 menyebutkan penduduk DKI Jakarta adalah 10,2 juta jiwa. Namun saat siang hari melonjak jadi 14,5 juta jiwa. Yang mana saya sendiri termasuk satu dari 4 juta orang itu. Ini berarti ada pergerakan keluar masuk dari dan ke Jakarta setiap hari.

Saya sendiri menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam dari Depok ke Jakarta. Sementara di rumah, istri punya kesibukan sendiri dan tiga anak yang semua beda sekolah. Kondisi ini tentu sulit membayangkan bagaimana bisa menyatukan waktu kami untuk tadarus bersama mengisi waktu Ramadan yang Agung ini.

Namun, hal tak terbayangkan itu bisa jadi nyata dengan sangat mudah saat Allah menghendaki-Nya. Dengan mengirim makhluk renik yang kita sebut virus korona. Semua hal yang tadinya sulit terbayangkan, maka sekonyong-konyong bisa terjadi.

Dan jadilah Ramadan tahun ini hadir dengan berbagai ’’ketidakbiasaannya’’. Dengan mengubah sudut pandang sedikit saja, ternyata hal yang tidak biasa itu berubah jadi sesuatu yang ’’istimewa’’. Semua kegiatan di luar di-switch untuk semaksimal mungkin bisa dilakukan dari rumah.

Saya dan istri menjalani work from home, sementara anak-anak belajar via online. Ini tentu membuat kami jadi punya waktu untuk tadarus bersama sekeluarga. Sebuah keistimewaan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.

Hal tidak biasa lain dalam Ramadan tahun ini adalah ’’stop’’-nya masjid dan tempat ibadah agama lain dari kegiatan yang melibatkan kerumunan banyak orang. Di tahun sebelumnya, selama Ramadan, masjid akan lebih penuh dan bahkan seperti tidak muat untuk menampung jamaah.

Di tahun ini, masjid besar jadi kosong karena terkonversi menjadi ’’masjid-masjid baru’’ dari tiap rumah kaum muslimin. Dengan sendirinya terjadi pertumbuhan jumlah imam-imam baru pula.

’’Stop’’-nya kegiatan masjid dari kegiatan kerumunan khalayak ramai ternyata memberi pengalaman spesial bagi saya. Hanya dengan ayunan 30 langkah, sampailah saya pada masjid depan rumah. Sesuai protokol kesehatan, pertama yang dilakukan adalah cuci tangan dengan sabun dan membawa sajadah sendiri.

Seusai salat sendirian, tiba-tiba teringat kisah Rabiah Al-Adawiyah. Seorang sufi perempuan yang  sangat posesif terhadap Allah, dia gundah kenapa Allah adalah Tuhan  semua orang. Menurutnya, Allah adalah Tuhan yang harusnya hanya dimilikinya sendiri. Tak pek dewe, liyane gak oleh nduweni (saya raih sendiri, lainnya tidak boleh memiliki).

Tentu maqam saya sangat jauh dibandingkan Rabiah Al-adawiyah. Tetapi saat sendiri di masjid mengagungkan takbir, melafadkan tahmid dan mendawamkan tasbih, tiba-tiba membuat diri ini jadi melow dan mungkin begini yang dirasakan Sufi perempuan itu. Hanya ada aku dan Allah, tidak ada yang lain.

Terakhir, hal tidak biasa yang kami alami (juga banyak perantau lain) kali ini adalah tidak bisa mudik. Lebih dari 15  tahun sebelumnya, saya selalu mudik saat Lebaran. Tentu dengan segala suka dukanya.

Kami pernah butuh lebih dari tiga hari perjalanan ke Mojokerto karena terbuang ke jalur selatan sampai pantai Ayah di Cilacap dan terus ke Jogjakarta. Juga macet parah saat jembatan Comal putus. Dan yang paling heboh beritanya adalah, kami ini alumni BREXIT.

Sebaliknya, tahun lalu adalah perjalanan yang penuh suka cita, kami sangat bersyukur dengan rampungnya tol trans Jawa. Waktu tempuh singkat dan bisa wisata kuliner on the way. Ini adalah sebuah perjalanan  dengan beban fisik dan psikologis yang sangat minim.

Rasa kangen keluarga di kampung begitu tinggi, bahkan tidak sengaja sempat mewek hanya karena mendengar lagu Tanah Airku di sebuah acara TV. Biarpun saya pergi jauh Tidak kan hilang dari kalbu – begitulah salah satu syairnya. 

Satu hal diantara penguat untuk stay here savely adalah dawuh KH Faqih Usman dalam ngaji subuh online yang ngendikan ’’Mengikuti aturan adalah ibadah karena aturan itu dibuat untuk menuju keselamatan kita bersama’’.

Maka insya Allah tahun ini kami berlebaran di rantau, disertai niat taat pemerintah dengan harapan berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran virus korona ini. Akhirul kalam, salam takzim mohon maaf lahir batin buat ayah ibu, saudara serta semua rekan di kampung halaman di Surodinawan, Kota Mojokerto.

Sama-sama kita taati protokol kesehatan, jaga diri dan #salingjaga. Semoga pandemi segera berlalu  sehingga Lebaran tahun depan Insya Allah bisa bertemu lagi dalam suasana penuh bahagia. Allahumma innaka affuwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna. (*)

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP