alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
OLeh: Khoirul Muttaqin

Doa dari Zona Merah

16 Mei 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Sketsa Khoirul Muttaqin

Sketsa Khoirul Muttaqin (Nazdir/Radar Mojokerto)

Menghapus tradisi memang tak mudah. Apalagi, bagi perantau seperti kami. Tinggal di Jakarta yang selalu rutin pulang kampung ke Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Tapi, tak mudik, tak membuat keluarga kami resah. Bagi kami, menahan diri untuk tak mudik, harus dilakukan semua orang. Kita khawatir, penyebaran Covid-19 kian parah.

Istri dan ketiga anak saya juga sudah siap dengan situasi seperti ini. Mereka tak gelisah sedikit pun meski sudah mendengar kabar tak akan mudik tahun ini. Mereka sudah sadar adanya penyebaran virus mematikan ini.

Tak hanya memberikan penyadaran kepada keluarga. Sebagai Staf Khusus Menko Bidang  Pembangunan Manusia Kebudayaan Muhadjir Effendy, saya harus memberikan teladan di masyarakat. Bahwa, tidak mudik akan ikut membantu pemerintah memerangi Covid-19.

Hidup di Jakarta saat ini, juga tak mudah. Ke mana-mana, harus memperhatikan protokol kesehatan. Jika abai sedikit saja, bisa sangat fatal. Karena, dari data terakhir, warga yang terpapar korona sudah tembus 5.668 orang.

Tetapi, warga di Jakarta saat ini sudah cukup memahami proses penyebaran Covid-19. Mereka sudah sangat care dengan penggunaan masker dan menerapkan gaya hidup bersih.

Namun, mobilitas Menko yang cukup tinggi dan tak suka menerima data dari meja ke meja, membuat saya harus ekstra hati-hati. Namun, penerapan protokol kesehatan harus tetap dijaga.

Semisal, saat interaksi dengan membentuk lingkaran. Maksimal, hanya berjumlah lima orang. Itu pun harus menggunakan masker.

Kangen dengan keluarga di Jetis? Tentu saja. sejak 2003 hidup di Ibu Kota, saya selalu rutin pulang. Ada kesempatan sedikit saja, selalu saya manfaatkan bertemu dengan keluarga.

Terakhir kali bertemu orang tua, sekitar tiga bulan lalu. Saat itu, Menko tengah melakukan kunjungan ke Universitas Muhammadiyah, Malang. Di saat agenda kedinasan longgar, saya langsung pulang.

Bagi saya, orang tua memiliki tingkat spiritual yang tinggi. Orang tua adalah energi saya. Setiap saya jatuh, mental saya jatuh, saya selalu pulang.

Untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman, saya selalu rutin melakukan video call dengan orang tua. Paling tidak, sekadar menanyakan kabar kesehatan, dan saling mendoakan. (*)

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP