alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Peceklik Pangan saat Ramadan (1)

Pabrik Tutup, Warga Tak Kerja Lagi

30 April 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pabrik gula saat mempekerjakan warga di tengah krisis ekonomi tahun 1930-an.

Pabrik gula saat mempekerjakan warga di tengah krisis ekonomi tahun 1930-an. (Dokumentasi Yuhan for Radar Mojokerto)

Ramadan tahun ini menjadi bulan puasa yang nuansa sangat berbeda dari bulan-bulan suci sebelumnya. Sebab, berbagai aktivitas sosial hingga keagamaan harus dibatasi.

Tak hanya itu, diterapkannya physical distancing juga berdampak langsung terhadap menurunnya pendapatan masyarakat. Bahkan tak sedikit pekerja yang harus rela kehilangan pekerjaan imbas dari adanya wabah Covid-19. Akibatya, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, sebagian warga ada yang menggantungkan dari bantuan pemerintah.

Paceklik di bulan puasa seperti saat ini pernah terjadi di Mojokerto. Namun, penyebabnya bukan karena wabah penyakit, melainkan akibat krisis ekonomi berkepanjangan di Eropa yang berdampak hingga ke tanah Jawa.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, menceritakan, krisis ekonomi di Benua Biru terjadi pada kisaran tahun 1930-an. Bahkan, badai krisis terasa hingga pulau Jawa, termasuk di wilayah Mojokerto. ’’Dampaknya banyak pabrik gula yang tutup karena berhenti produksi,’’ ujarnya.

Hingga beberapa tahun, krisis ekonomi yang dikenal dengan malaise itu tak kunjung berakhir. Beban ekonomi warga Mojokerto semakit terasa ketika memasuki Ramadan pada November 1934. Selama bulan suci 1351 H itu, banyak orang yang tidak mendapatkan penghasilan akibat berhentinya produksi di pabrik gula (PG).

’’Karena banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai kuli kasar dan pangawas tanaman tebu tidak bekerja lagi,’’ terang pria yang akrab disapa Yuhan ini. Sebelum krisis, kata Yuhan, hampir 2/3 lahan sawah di Mojokerto disewa oleh para pengusaha gula. Sehingga, banyaknya sawah yang disewakan itu membuat jumlah gabah yang dihasilkan petani Mojokerto menjadi berkurang.

Untuk mengatasi dampak krisis, pemerintah kemudian membagikan lahan sawah yang dikuasai oleh Jawatan Kehutanan. Salah satunya lahan pertanian yang ada di Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro.

Namun, pembagian lahan yang berada di kaki Gunung Penanggungan itu tidak dilakukan secara cuma-cuma. Sebab penggarap harus membayar pajak sebesar 1,5 Gulden setiap tahunnya. ’’Lahan itu dibagikan kepada para pengangguran bekas kuli di PG Sedati, Ngoro,’’ ulasnya.

Dengan adanya pembagian lahan, diharapkan masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat terdampak krisis ekonomi bisa tetap produktif. Sehingga, bisa kembali mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari.

Pembagian lahan pertanian rupanya tidak mampu menyelesaikan permasalahan. Pasalnya, tanah yang berada di kaki Gunung Penanggungan merupakan sawah tadah hujan. Karena letaknya terlalu tinggi untuk bisa dijangkau oleh sistem irigasi teknis.

Akibatnya, hasil panen gabah pun merosot. Tak tanggung-tanggung, selisihnya bisa mencapai separo dengan sawah yang mendapat aliran irigasi. ’’Selain itu, para penggarap juga sulit untuk menjangkau ke lokasi lahan. Karena rata-rata  rumahnya di luar Desa Wotanmasjedong,’’ sambung Yuhan. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP