alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Journey
icon featured
Journey
Wisata Mojokerto di Tengah Pandemi Covid-19

Agar Tetap Bertahan, Taman Ghanjaran Longgarkan Pembayaran Lapak

09 April 2020, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tampak sepi akibat pandemi wabah virus korona.

Suasana Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tampak sepi akibat pandemi wabah virus korona. (Shalihin/Radar Mojokerto)

Pandemi Covid-19 benar-benar berdampak pada industri pariwisata. Penurunan pengunjang cukup drastis. Bahkan, sektor ini seakan kelimpungan.

Taman Ghanjaran Trawas salah satu objek wisata yang merasakan dampaknya. Sehingga pihak pengelola dituntut untuk mencari solusi agar tetap eksis. Di antaranya melonggarkan pembayaran lapak pedagang hingga delivery order (DO).

Ya, siang itu suansa Taman Ghanjaran di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, terlihat sepi dan sunyi. Padahal, pada hari Sabtu, Minggu, dan saat weekend, wisata ini selalu diserbu pengunjung. Pun dengan tempat makan di pujasera, yang terdapat sekitar 90 lapak.

Nyaris melompong tanpa pengunjung. Bahkan, sebagian lapak terpaksa ditutup untuk sementara waktu demi efisiensi pengeluaran. Demikian itu terjadi tak lain efek dari pandemi virus korona yang tak kunjung berlalu.

Zainul Arifin, Kepala Desa Ketapanrame, mengungkapkan, sebelum pandemi Covid-19 datang, wisata ini selalu ramai dengan pengunjung. Saat weekend di perkirakan jumlah pengunjungnya mencapai ribuan.

Namun, kini berbalik arah 90 derajat Celsius. Jumlah pengunjungnya merosot tajam. Kondisi ini tentu saja berdampak pada pendapatan BUMDes Ketapanrame sebagai pengelola Taman Ghanjaran.

Pasalnya, pemasukan dari sharing profit yang diterima jadi ikut merosot tajam. Dari awalnya yang mencapai puluhan juta per bulan. Kini, bahkan nyaris tak ada pemasukan sama sekali.

”Semua sektor usaha di Taman Ghanjaran merasakan dampaknya. Mulai parkir, wahana wisata, hingga tempat makan, pujasera, nyaris tak ada pemasukan. Bahkan, tempat parkir kendaraan sudah tak ada pemasukan sama sekali. Sementara pujasera tinggal beberapa saja yang masih buka,” terang Zainul.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah desa menerapkan beberapa kebijakan agar Taman Ghanjaran bisa tetap bertahan. Termasuk agar bisa tetap mempertahankan semua pegawainya.

Langkah yang diambil saat ini adalah dengan efisiensi jam kerja. Di mana para pegawai yang biasanya bekerja dalam 1 sif, kini dibagi menjadi 2 sif. Kebijakan ini dilakukan untuk efisiensi operasional Taman Ghanjaran.

”Yang utama, tidak ada PHK bagi para pegawai di Taman Ghanjaran,” ujar Zainul. Kebijakan lainnya adalah dengan menerapkan kelonggaran pembayaran iuran lapak. Oleh karena itu, pemerintah desa melalui BUMDes memberi kelonggaran pembayaran iuran lapak setiap bulannya.

Terhitung mulai bulan ini hingga batas waktu yang belum ditentukan. Iuran pembayaran lapak bisa diangsur tiap bulan selama setahun. Kebijakan ini tentu saja sangat meringankan beban para pemilik lapak. Langkah serupa juga dilakukan Hotel Grand Whizz Trawas.

Dany Budiman, General Manager Hotel Grand Whizz Trawas menyebutkan, sepanjang pandemi Covid-19 tingkat okupansi di hotel ini bahkan menyentuh angka terendah sepanjang beroperasinya Grand Whizz. ”Tingkat hunian sudah nol alias tidak ada lagi tamu yang menginap,” kata Danny.

Selain tingkat okupansi hotel yang terjun bebas, masih menurut Danny, pendapatan lain Grand Whizz Trawas yang dipastikan akan hilang adalah dari pemakaian hall atau ruangan. Jika selama ini hotel ini menjadi tempat favorit menggelar pertemuan atau seminar, kini tak ada lagi yang menyewa.

”Biasanya kita dapat pemasukan hall dari acara goverment, corporate, atau komunitas dan perorangan. Dan itu selalu rutin ada nyaris di setiap hari. Baik saat hari kerja biasa, weekday maupun weekend. Namun, saat ini memang sudah tak ada lagi yang menggunakan hall. Jadi kita pastikan pemasukan hall akan hilang selama pandemi ini,” imbuhnya.

Agar tetap survive tanpa mengurangi jumlah pegawai, pihak hotel kini meluncurkan inovasi berupa layanan pesan antar dari resto hotel. Konsep yang terbilang baru dari hotel ini ternyata cukup ampuh menambal biaya operasional hotel selama pandemi.

”Situasi saat ini memang sangat sulit. Operasional hotel tetap berjalan, sementara pemasukan sangat minim. Tapi kita harus terus berinovasi agar tetap bertahan dalam situasi ini. Tentu saja tanpa mengurangi atau mem PHK pegawai,” tandas Danny. (shalihin saobi)

 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP