alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Mirip Tol, Jalur Cangar-Batu Akan Berbayar

22 Maret 2020, 20: 31: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

TAHAP SOSIALISASI: Petugas Tahura R. Soerjo melakukan sosialisasi tentang rencana penerapan retribusi bagi pengendara yang akan melintas di kawasan Tahura R. Soerjo, Pacet-Cangar, Kota Batu. (Shalihin/radarmojokerto.id)

PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bagi wisatawan atau pengendara yang biasa melintasi jalur alternatif Pacet, Kabupaten Mojokerto-Cangar, Kota Batu, harus bersiap untuk mengikuti aturan baru. Menyusul, Tahura R. Soerjo bakal menerapkan sistem retribusi bagi setiap pengendara yang melintas di jalur provinsi tersebut. Baik yang dari arah Cangar, Kota Batu, maupun dari Pacet. Sedianya nilai retribusi yang akan diterapkan bagi pengendara motor adalah Rp 3 ribu, sementara mobil dikenakan Rp 5 ribu.

”Untuk kendaraan roda dua akan dikenakan biaya retribusi Rp 3ribu. Sementara roda empat keatas akan dikenakan Rp 5 ribu,” ungkap Adi Sutrisno, Koordinator Seksi Konservasi Pengembangan dan Pemanfaatan Hutan (KPPH) Tahura R. Soerjo wilayah Mojokerto, kemarin.

Menurut Adi, hasil penerimaan retribusi dari pengendara ini akan dimanfaatkan sebagai upaya untuk menjaga kerusakan hutan. Sebab, lanjut dia, selama pengendara dibebaskan atau tidak ada penarikan retribusi, mereka dapat dengan leluasa keluar masuk tanpa ada pemantauan.

Sehingga, kata Adi, kawasan hutan kerap mengalami kerusakan. Dengan alasan pengendara banyak pengendara atau wisatawan yang membuang sampah sebarangan. Bahkan, potensi kebakaran hutan hingga tindak kriminalitas seperti menjadikan kawasan Tahura R. Soerjo sebagai langganan pembuangan korban pembunuhan. ”Nah kalau diberlakukan seperti itu pastinya mereka tidak mungkin berani. Karena kami juga akan terus memantau,” katanya.

Menurut Adi, penerapan retribusi ini sudah sesuai Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Timur (Jatim) tentang Retribusi Daerah Tahun 2012 pasal 22. Hanya saja, penerapan itu baru akan diberlakukan tahun ini setelah melalui beberapa pengkajian berdasarkan hasil pemantauan di lokasi. ”Kalau hutan ini dibiarkan, maka akan berdampak ekosistem. Seperti kerusakan mata air. Dan, tentunya yang terdampak adalah masyarakat Mojokerto,” paparnya.  

Terkait kapan akan resmi diberlukan, sejauh ini masih belum diketahui. Karena pihaknya hanya menindaklanjuti surat edaran dari Kepala UPT Tahura Raden Soerjo untuk melaksanakan sosialisasi kepada para pengendara selama satu bulan ke depan. Bahkan, sosialisasi melalui banner berisi pemberitahuan sudah terpampang di pinggir jalan memasuki Tahura R. Soerjo. Bahwa, setiap kendaraan yang masuk dalam kawasan Tahura R. Soerjo akan dikenai restribusi. ”Tulisan di banner itu belum berlaku. Itu hanya bentuk sosialisi kepada pengendara. Kalau pun ada yang mulai memungut biaya, itu saya pastikan oknum yang memanfaatkan,” tandasnya.

Saat ini, pihaknya menggandeng unsur kepolisian dari Polsek Pacet untuk terus menyosialisasikan akan penerapan restribusi tersebut selama satu bulan ke depan. ”(Sekarang) belum dilakukan penarikan. Untuk saat ini masih tahap sosialisasi,” pungkas Adi. Sementara itu, Doni, salah satu pengendara menilai rencana penerapan retribusi bagi pengendara atau wisatawan di jalur Pacet, Kabupaten Mojokerto-Cangar, Kota Mojokerto, cukup mengejutkan. Warga asal Kota Mojokerto ini memandang rencana penarikan retribusi akan sangat memberatkan pengendara.

”Itu kan jalur umum, jalur provinsi. Kalau nanti diterapkan retribusi, ini akan memberatkan kami sebagai pengendara umum,” ungkapnya. Selama ini, Doni setiap pekan melakukan perjalanan Mojokerto-Batu, mengendarai sepeda motor. ”Cobalah untuk dipertimbangkan kembali. Setidaknya, apa dasar utama rencana retribusi itu diterapkan,” tandasnya.(hin)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia