alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Corona di Mojokerto, Tiga Rumah Sakit Pastikan Hoax

17 Maret 2020, 07: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Kapolres Mojokerto AKBP Feby DP Hutagalung memastikan akan menindak masyarakat yang menyebar kabar bohong atas penyebaran virus corona di wilayahnya.

KOTA-KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Santernya informasi seputar Covid-19 di media sosial (medsos) mengharuskan masyarakat selektif dan jeli. Sebab, belakangan, banyak informasi hoax adanya pasien positif korona di Mojokerto yang akhirnya menimbulkan kepanikan.

Penelusuran Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, sejak adanya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur, Minggu (15/3), di medsos aplikasi WhatsApp banyak bertebaran informasi tidak benar tentang pasien positif Covid-19 di Mojokerto. Pihak terkait memastikan sampai hari ini belum ada seorang pasien tersebut di Bumi Majapahit.

Informasi hoax pertama menyasar RSUD Prof dr Soekandar Mojosari dan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. Berita bohong yang beredar melalui grup WhatsApp itu menyebutkan, kedua rumah sakit pelat merah itu sempat merawat enam pasien korona. ’’Informasi tersebut kami pastikan tidak benar atau hoax. Tidak ada pasien positif korona,’’ kata juru bicara RSUD Prof dr Soekandar dr Gigih Setijawan, saat dikonfirmasi, kemarin.

Pihaknya memang sempat merawat satu orang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Yaitu, seorang pria berusia 55 tahun yang baru saja pulang dari umrah. Pasien ini dirawat di ruang isolasi sejak Selasa (10/3). ’’Saat datang ke kami, pasien ini mengeluh batuk saja. Masuk kategori PDP karena menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan atas, pneumonia dan pulang dari negara terjangkit korona. Sebagai kewaspadaan kami, kami rawat di ruang isolasi,’’ terangnya.

Saat ini, kata dr Gigih, kondisi pasien telah pulih. Pasien diizinkan pulang sejak siang tadi. Itu setelah pasien tidak lagi batuk. ’’Pasien sudah pulang siang tadi (kemarin red) karena sudah sembuh dari gejala klinis pneumonia,’’ tegasnya.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari juga memastikan informasi adanya dua pasien positif korona di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo adalah berita bohong. Saat ini pihaknya hanya memantau 18 warganya yang masuk kategori Orang Dengan Risiko (ODR). Karena mereka pulang dari negara yang terjangkit korona. ’’Saat ini ODR tinggal 18 orang, mereka di rumah masing-masing, bukan pasien. Karena mereka dari luar negeri di mana di negara tersebut ada kasus positif korona,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, hoax juga menyasar RSI Sakinah di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Hoax yang beredar melalui grup WhatsApp juga story ini menyebutkan terdapat seorang pasien asal Kecamatan Sooko positif korona yang sempat dirawat di rumah sakit tersebut.

Saat di konfirmasi Manajer Pelayanan Medis RSI Sakinah dr Roisul Umam, juga menegaskan, informasi tersebut adalah hoax. Pihaknya memang sedang merawat seorang pria berusia 42 tahun yang pulang dari Bali. Saat datang, pasien mengeluh demam dan flu. Namun, pasien tersebut sama sekali tidak menunjukkan gejala korona. ’’Keluhannya hanya demam dan flu biasa. Dokter spesialis paru kami memastikan tidak ada gejala yang mengarah ke korona. Jadi, pasien itu bukan korona,’’ tandasnya.

Maraknya berita bohong yang tersebar terkait pasien positif korona di Mojokerto juga jadi atensi kepolisian. Polisi mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya akan hal tersebut. ’’Kita cek Mas. Kalau memang hoax tentunya ada konsekuensi hukum,’’ ungkap Kapolres Mojokerto AKBP Feby DP Hutagalung.

Bagi mereka yang sengaja menyebar hoax, terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar. Hal itu sesuai Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia