alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
M Iwan Abdillah, Penulis Buku Ngaos

Bergenre Sejarah Lokal, Ceritakan Asal-Usul Desa

06 Maret 2020, 09: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

HOBI: M Iwan Abdillah menunjukkah buku hasil karya tulisnya. (khudori/radarmojokerto.id)

Kesibukannya sebagai pejabat di Pemkab Mojokerto tak membuat M Iwan Abdillah berhenti berkarya. Sebagai pegiat literasi, kini dia bahkan telah menerbitkan dua buku ber-genre sejarah lokal.

KHUDORI ALIANDU, Jetis, Jawa Pos Radar Mojokerto

NGAOS atau Ngaji Objek Sejarah Cerita Rakyat diangkat sebagai judul buku kedua yang dicetak per akhir Februari lalu. Sekilas, buku ini tak berbeda dengan buku pada umumnya. Namun, setelah diperhatikan, buku tersebut lebih membahas terkait asal-usul desa di wilayah Kecamatan Jetis. Buku setebal 102 halaman ini menyajikan tentang sejarah terbentunya sebuah desa. Dengan tutur bahasa yang mudah dipahami.

Iwan menceritakan, sejarah terbentuknya nama sebuah desa, termasuk kearifan lokal di era digitalisasi ini masih diyakini masyarakat. "Pada prinsipnya, semaju apa pun teknologinya jangan pernah melupakan leluhur," ungkap Iwan begitu M Iwan Abdillah kepada Jawa Pos Radar Mojokerto. Pria berkacamata yang kini menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Mojokerto, ini menjelaskan, setidaknya ada 37 judul yang disajikan dalam buku ke dua ini.

Dalam pencarian data, pengolahan, penyusunan hingga penerbitan, setidaknya Iwan membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun hingga akhirnya bisa dinikmati pembaca. Tentu, tak mudah dalam proses penulisan ini. Terlebih dulu Iwan harus melakukan penelusuran atau pengumpulan bukti petunjuk, sekaligus saksi kunci di lapangan. Mengeksplorasi data-data yang ada di tengah masyarakat. Termasuk menggali dari tokoh masyarakat yang menjadi saksi hidup.

Di sisi lain, dari berbagai sumber berbeda di masyarakat, dirinya harus memadukan dan mendiskripsikan apa yang menjadi temuan di lapangan.

"Secara tidak langsung, bukti-bukti itu banyak saya dapat dari cerita rakyat yang hingga kini masih dipercaya turun temurun. Sebagai pendukung, kadang ada bukti petunjuk yang masih disakralkan masyarakat," tuturnya. Tak jarang dalam mendiskripsikan tulisan, Iwan memilih berintuisi. Itu setelah data-data yang didapat di lapangan memenuhi jalan buntu. "Jika sudah deadlock, tak menemukan sumber lagi, akhirnya saya terpaksa lebih ke intuisi," tegasnya. Sehingga dalam menyelesaikan satu judul, tak jarang dirinya harus menghabiskan waktu cukup lama. Bukan hanya hitungan hari, melainkan mingguan.

Dibutuhkan waktu luang dan ketenangan. Sehingga setiap kali penulisan, Iwan tak jarang memanfaatkan waktu di malam hari. Jika dibaca secara seksama, gaya penulisan bahasa bapak dua anak ini menyandingkan asal-usul sebuah desa dengan cerita kerajaan. Baik Singosari maupun Majapahit yang sebelumnya menjadi kerajaan terbesar di pulau Jawa. Cerita Watu Blorok, misalnya. Jika dilihat set back di era Kerajaan Majapahit, saat Raja Raden Wijaya bertahta, ternyata ada rentetan peristiwa keberadaan Alas Mojoroto, di mana tempat Watu Blorok itu ada. Konon, hutan yang dipenuhi pohon maja sebagai cikal bakal nama Kerajaan Majapahit itu ada kaitannya dengan cerita misteri Watu Blorok yang sudah melegenda ini. Termasuk Dusun Tumapel, Desa Jolotundo, dalam penelusurannya ternyata ada kaitannya dengan Singosari.

"Ada kesamaan cerita dan lokasi. Contohnya, di Tumapel ada Tegaron, di Singosari juga ada. Ada Tugu, di cerita Singosari juga ada. Jadi, cerita kerajaan dulu itu seakan dimunculkan ada di sekitar kita di era sekarang," papar Iwan.

Terlepas dari itu, tujuan penulisan sejarah desa ini sebenarnya cukup sederhana. Hal itu, tak lain sebagai literasi generasi muda yang menjadi generasi milenial. Termasuk sebagai pengetahuan masyarakat Mojokerto terkait nama desa yang ada. Khusunya mereka yang bermukim disitu. Buku ngaos cerita rakyat ini diharapkan bisa mengedukasi masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu. Masyarakat yang tak paham mejadi paham. "Tapi, bukan berarti ini paten, jikalau ada masukan orang yang lebih tahu, kami menerima masukan itu. Sehingga bisa lebih menyempurnakan isi dalam cerita rakyat ini," katanya.

Ketidak tahuan masyarakat terkait asal-usul desanya sebelumnya memang terjadi. Terbukti saat, sejumlah warga yang membaca tulisan yang disajikannya. "Oh ternyata seperti ini to sejarah desaku. Oh seperti ini to, asal muasal nama desaku. Itu yang banyak saya dengar dari pembaca. Tidak hanya generasi muda, tapi generasi tua ternyata tak banyak tahu," tegas Iwan.

Dengan demikian, adanya buku ini tak lain agar tidak kepaten obor. Artinya, dengan kemajuan teknologi saat ini, masyarakat jangan sampai melupakan kearifan lokal yang ada di tempat tinggalnya. Sebab, pengetahuan ini nantinya akan menjadi pembelajaran bagi anak cucu. "Menggali kearifan lokal ini memang tidak mudah. Saya banyak dibantu tokoh agama atau bahkan ulama yang memberi petunjuk hingga akhirnya bisa saya telusuri," pungkasnya.

Sebelumnya satu buku berjudul Trawas Kaya legenda. Tak puas dengan ini, dalam waktu dekat dirinya sudah mulai membidik menguoas tuntas sejarah peradaban yang ada di Gunung Penanggungan yang saat ini dikenal dengan pawitra, gunung suci

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia