Senin, 17 Feb 2020
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Istri Digoda, Suami Sewa Orang

18 Januari 2020, 08: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Kapolres Mojokerto AKBP Feby Dapot Parlindungan Hutagalung didampingi Kasatreskrim AKP Dewa Putu Primayoga menginterogasi para pelaku sembari menunjukkan barang bukti pedang di mapolres, Jumat (17/1). (khudori/radarmojokerto.id)

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kalut, kecewa, dan cemburu berat, rupanya membuat pikiran Ahmad Ali Mustofa, 31, kalut. Hingga mendorong warga Desa Mojokembang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, meminta lima orang temannya menganiaya Muhammad Syahrul Hafid, 19.

Para pelaku bahkan dijanjikan mendapat upah Rp 4 juta sebagai imbalan. Korban yang diketahui warga Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, ini mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam (sajam). Pipi dan punggungnya mengalami luka bacok cukup dalam akibat sabetan pedang dan aniaya pelaku. Korban dikeroyok para pelaku setelah diduga merebut istri orang.

Dimana perempuan tersebut adalah istri Ali, Dewi Sampirni, 28. ’’Pengeroyokan ini motifnya cemburu,’’ ungkap Kapolres Mojokerto AKBP Feby Dapot Parlindungan Hutagalung saat menggelar rilis di mapolres kemarin. Kasus ini melibatkan tujuh orang pelaku. Dua di antaranya diketahui adalah seorang perempuan. Dari enam tersangka itu, lima berhasil ditangkap. Termasuk Ali. Dia diduga sebagai dalang penganiyaan terhadap korban. Sedangkan, empat pelaku lainnya berperan sebagai eksekutor.

Masing-masing seorang janda bernama Vina Octavia Dewi, 21, warga Desa Tanjungkenongo, Kecamatan Pacet; Nurhasan, 36, warga Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging; Hamzah Zainul Ma'arif, 23, warga Desa Kertosari, Kecamatan Kutorejo; dan Wiwit Ariyanto, 36, warga Desa Sumberkembar, Kecamatan Pacet. Sementara, dua pelaku lainnya, Tompel dan Yanti, masih berstatus sebagai daftar pencarian orang (DPO) atau buron. Yanti diketahui sebagai istri Wiwit Ariyanto. ’’Pengejaran masih dilakukan petugas. Dalam aksi ini, Ali yang menjadi otaknya,’’ tandas Feby.

Kapolres menjelaskan, kasus pengeroyokan ini berawal dari persoalan yang dialami Ali. Dia menaruh dendam pada korban Hafid. Hafid diduga kerap menggoda istri Ali. Nah, untuk melampiaskan emosinya, Ali kemudian berinisiatif meminta bantuan lima temannya. Dia juga menyanggupi untuk membayar para pelakusebesar Rp 4 juta jika mau menganiaya korban. Sebagai uang muka, Ali kemudian memberikan uang Rp 1 juta kepada para pelaku. ’’Tersangka meminta para pelaku melakukan penganiyaan terhadap korban. Untuk upah yang dibayar kepada pelaku masih Rp 1 juta,’’ tegasnya.

Akibat penganiyaan itu korban mengalami luka serius. Wajah Hafid mengalami luka sabetan pedang cukup dalam. ’’Saat ini korban masih proses penyembuhan,’’ tuturnya. Memang, kasus penganiayaan ini sudah direncanakan sebelumnya. Para pelaku juga membagi peran masing-masing. Untuk memuluskan rencananya, mereka lebih dulu memancing Hafid keluar dari rumah melelalui Vina dan Yanti sebagai umpan. Modusnya, Yanti menghubungi korban melalui whatsapp. Isi pesan itu untuk mengajak korban bertemu. Ajakan keduanya pun direspons korban. Dia lantas mememui Vina dan Yanti dalam acara expo di Stadion Gajah Mada Mojosari pada Jumat (11/10) tahun lalu. Tak berhenti sampai di situ. Menjelang tengah malam, korban juga diminta untuk mengantar Vina pulang. Nahas, di jalan sepi Desa Kuripansari, Kecamatan Pacet, sekitar pukul 23.30 WIB, korban sudah dihadang oleh empat pelaku yang sudah menunggu. Di antaranya, Nurhasan, Wiwit, Zainul, dan Tompel. ’’Di lokasi, korban kemudian dikeroyok dan dianiaya menggunkan pedang. Korban menderita luka serius bagian muka. Dan itu mengakibatkan cacat seumur hidup,’’ paparnya.

Penganiayaan dengan sajam dilakukan Nurhasan sebanyak tiga kali. Selain mengakibatkan luka sabetan cukup dalam pada pipi kanan, punggung korban juga menjadi sasaran. Kapolres menegaskan, perburuan terhadap para pelaku lantas dilakukan Unit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto, sejak kasus tersebut dilaporkan polisi. Atau selama kurang lebih hampir empat bulan. Nah, pada Kamis (16/1) petugas berhasil meringkus lima tersangka sekaligus di rumah masing-masing. Yaitu, Vina, Ali, Nurhasan, Wiwit, dan Zainul. Sedangkan tersangka Yanti dan Tompel sampai saat ini masih dalam pengejaran.

Dari penangkapan ini, polisi turut menyita sejumlah barang bukti. Masing-masing dua unit sepeda motor, sebilah pedang, dan lima handphone. ’’Para tersangka kami jerat dengan pasal 170 KUHP, ancaman hukumannya paling lama penjara 10 tahun,’’ tegas Feby. Pasal tersebut menjelaskan, tentang kekerasan terhadap orang yang dilakukan bersama-sama.  Sementara itu, tersangka Vina mengaku bersedia menjadi umpan untuk memancing Hafid karena diajak Yanti. Menurut dia, Yantilah yang mengajak korban untuk bertemu di Stadion Gajah Mada. ’’Saya dapat bagian Rp 150.000,’’ ujarnya.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia