Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Satpol PP dan ESDM Jatim Turun ke Jatirejo

11 Januari 2020, 09: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Petugas Satpol PP Pemprov Jatim meninjau salah satu lokasi galian C di wilayah Kecamatan Jatirejo, Jumat (10/1). (Shalihin/radarmojokerto.id)

JATIREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Menjamurnya usaha pertambangan galian C (sirtu) di wilayah Kecamatan Jatirejo dan Gondang, Kabupaten Mojokerto, seringkali dikeluhakan masyarakat setempat akibat dampak yang ditimbulkan. Bahkan, sejumlah tambang itu diduga tidak mengantongi izin alias ilegal.

Kasatpol PP Provinsi Jatim Budi Santosa mengatakan, inspeksi mendadak (sidak) yang dilaksanakan kemarin adalah tindaklanjut pemprov atas pengaduan masyarakat Jatirejo dan Gondang. Dimana, belakangan ini mereka mengeluhkan aktivitas pertambangan di wilayahnya. Sebab, semakin hari galian dinilai kurang memperhatikan dampak lingkungan.

Budi mengungkapkan, sidak bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan ESDM Pemprov Jatim itu merupakan langkah awal untuk melihat kondisi sebenarnya.

Menyusul, pihaknya tidak bisa menentukan keputusan tanpa memantau kondisinya terlebih dahulu. ”Tidak hanya sekadar dialog. Kita harus mengetahui permasalahannya seperti apa,” katanya. Sasaran dari petugas penegak perda (perda) itu tak lain adalah dengan menyisir pulahan tambang di dua kecamatan, yakni Gondang dan Jatirejo.  Ironisnya, sejumlah tambang tersebut rata-rata diduga tidak mengantongi izin. Terbukti dalam hasil sidak kemarin petugas menemukan tambang liar di sekitar 10 titik. ”Yang kita datangi tadi (kemarin, Red) hanya ada dua tambang yang ilegal,”katanya.

Oleh karena itu, berikutnya pihaknya akan memangil sejumlah pengusaha galian untuk dilakukan pembinaan. Sebab, satpol PP mengancam tidak akan merekomendasikan izin pertambangan jika lokasinya berada di areaa yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir maupun tanah longsor. ”Karena tugas satpol PP dan ESDM harus sosialisasi dulu sebelum mengurus izin. Agar mereka tahu dampaknya seperti apa. Supaya tidak sampai mengganggu lingkungan,”terangnya.

Kendati demikian, jika kondisi tersebut dibiarkan berjalan tanpa adanya pembinaan, dikhawatirkan berdampak terhadap banyak orang.  Saat ini, dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah tambang tersebut sudah sangat tampak. Seperti tanggul sungai jebol diduga disebabkan oleh aktivitas penambangan. ”Kalau tanah sudah berongga, itu dampak longsornya sangat luar biasa,” tandasnya. (hin)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia