Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Features
Bung Joko, Pelukis Eksentrik Dawarblandong

Melek Zaman, Ogah Gunakan Satu Aliran

11 Januari 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Bung Joko tengah menumpahkan kreasi pada kanvas di studio lukisnya Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (fendihermansyah/radarmojokerto.id)

Tak hanya dikenal daerah yang kental dengan kesenian tradisional, di Kecamatan Dawarblandong juga bermukim pelukis ciamik yang sejak puluhan tahun silam getol menggelar pameran. Bung Joko, begitu penggiat seni memanggilnya. Bagaimana daya kreatif pelukis satu ini?

FENDY HERMANSYAH, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

BERKUNJUNG ke kediaman Bung Joko terbilang gampang. Rumahnya sekira selemparan batu dari Simpang Empat Dawarblandong ke utara. Di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong. Persis di pinggir jalan. Rumah dan galerinya menghadap barat.

Galeri berada di sisi kanan rumah yang dulu merangkap studio foto Kurnia yang terkenal seantero Dawarblandong-Balongpanggang. Begitu masuk, langsung tampak jajaran lukisan dipajang di dinding persegi.

Lukisan dengan aneka aliran itu merupakan karya pelukis kelahiran Pacitan, Jawa Timur ini. Ada yang bergaya realis kontemporer, abstrak, hingga ekspresionis. Ukurannya rata-rata di atas satu meter persegi. Dengan aneka tema. Mulai perempuan, kucing, kesenian tradisional, hingga pop. ’’Galeri ini baru saja terbangun. Setelah saya pensiun dari guru,’’ ujar Bung Joko kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Pria 57 tahun ini, memang baru tahun 2019 pensiun dari guru. Selepas itu, aktivitas berkesenian menjadi kegiatan utama sehari-harinya. Sosoknya yang besar dan berambut gondrong terbilang khas seniman. Terlebih, mengenakan kaus dan celana pendek hitam. Bung Joko menunjukkan aneka karya lukisannya. Tak hanya yang dipajang di ruang utama galeri. Ruang produksi yang masih satu area terdapat satu kanvas besar bergambar tiga perempuan penggesek biola. ’’Ini belum jadi. Masih sekitar 60 persen,’’ sambung dia.

Tak hanya di situ, di dinding tembok galeri dipajang lukisan. Beberapa ruangan di belakang juga tampak lukisan yang dipajang. Juga, mungkin karena keterbatasan ruang, ada yang ditumpuk berdiri. Di rumahnya, juga masih banyak lukisan Bung Joko yang dipajang dan disimpan rapi.

Barangkali hanya dapur dan teras depan rumah tak dipajangi lukisan. Dan juga kamar mandi. Yang mungkin, tentu saja disebabkan pertimbangan estetis.

Sebagian besar lukisan banyak pula yang sudah menjadi koleksi berbagai kalangan. Mulai orang umum, pengusaha pejabat, anggota dewan, hingga kolektor seni. Bung Joko mengaku dirinya memang produktif. Meski, menjadi pelukis yang juga berprofesi pendidik tidaklah gampang. ’’Yang memang harus tahan banting. Bagaimana membagi waktu antara mengajar, mendidik, tapi sekaligus tetap melukis,’’ beber dia.

Konsekuensi itu sengaja diambilnya. Menurut pria kelahiran bulan Oktober ini, menjadi pelukis membutuhkan tekad dan niat yang lurus. Juga, dedikasi yang tinggi. Karena, melukis tak mudah. Selain berbiaya produksi tinggi, juga butuh kreativitas sekaligus melek zaman.

Sikap tegas dan konsistensi melukis itu dipegang teguh hingga kini. Bahkan, sepanjang menjalani karir sebagai pelukis, dia banyak mengeksplorasi diri demi perkembangan karyanya.

Dia sendiri enggan menggunakan satu aliran lukis saja. Memang awal karir dia banyak bergaya realis. Namun, seiring perkembangan waktu dan pengalaman hidup, dia juga menjajal aliran ekspresionis, kontemporer, realis kontemporer, hingga abstrak. ’’Sebagai seniman saya tidak ingin terikat pada satu isme. Karena seniman itu bebas dan merdeka,’’ tukas dia.

Fatsoen berkesenian itu dilakoninya puluhan tahun. Alhasil, itu terlihat dari karya yang dipajang di galerinya. Setidaknya empat aliran yang dipajang. Dia paling suka gaya ekspresionisme. Aliran tersebut memang yang paling mendekati seperti karakter Bung Joko. Yang suka hal spontan, bersemangat, ceplas-ceplos, blak-blakan, sekaligus egaliter. ’’Itu saya selesaikan cukup 2,5 jam,’’ sebut Bung Joko sambil menunjuk lukisan tentang ayam bergenre ekspresionisme.

Setidaknya terdapat empat lukisan dengan tema ayam jago menggunakan aliran serupa aliran maestro lukis Indonesia, Affandi.

Bedanya, lukisan Bung Joko memiliki goresan yang otentik. Goresan itu terbilang dari hasil pencariannya selama ini. Lantaran, lukisan yang dibuatnya merupakan bentuk cerminan pengalaman hidupnya. Yang mana, memiliki aneka jenis aliran, tema, dan ukuran. 

Meski begitu, dirinya mengaku enggan melukis dengan gaya surealisme. Pikirnya, gaya yang banyak mengandung mimpi-mimpi itu kurang terasa nyaman di hatinya. Beda dengan aliran lain yang dianggapnya lebih tegas dan jelas letak estetisnya. ’’Yang paling di hati ya ekspresionis. Goresan kuas lugas dan langsung,’’ kata dia.

Mengenai tema lukisan, mantan kasek sekolah dasar di Gresik ini juga menggunakan banyak tema. Mulai pemandangan, tumbuhan, hewan, aktivitas manusia, kesenian tradisional, hingga yang bertemakan kritik sosial. Beberapa peristiwa sejarah, kerap dituangkannya dalam bentuk lukisan bertema kritik sosial.

Ke depan, dirinya ingin menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional Jakarta. Kakak kandung Mas Dibyo-pelukis terkenal Indonesia ini, terus berkarya. Terlebih, kini waktu melukis semakin leluasa pasca pensiun dari guru.

Rumahnya yang gampang diakses juga kerap menjadi jujugan para pelukis lain. Meski tinggal di desa, dia kerap bersentuhan dengan komunitas pelukis di kota-kota. Seperti kemarin, sejumlah pelukis Mojokerto datang ke galerinya. ’’Terus berkarya. Ikuti pameran. Dan yang penting, pelukis itu harus punya cirri khas,’’ pungkasnya. 

(mj/fen/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia