Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Sakit Komplikasi, Dokter Spesialis Cabul Urung Ditahan

10 Januari 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Tersangka kasus dugaan asusila dr Andaryono, Sp. OG menjalani pemeriksaan di ruang Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto, Kamis (9/1). (khudori/radarmojokerto.id)

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tersangka dugaan asusila dr Andaryono, Sp. OG akhirnya memenuhi panggilan penyidik Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto, Kamis (9/1). Didampingi kuasa hukumnya, dokter sepesialis kandungan ini menjalani pemeriksaan selama empat jam lebih.

Di antaranya mendalami dugaan kasus asusila rentan dengan human trafficking yang dilakukan di tempat praktiknya di Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. ’’Ada 46 pertanyaan yang sudah kita tanyakan (kepada tersangka),’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Primayoga, kemarin.

Namun, tersangka yang sempat mangkir dari panggilan pertama Selasa (7/1) lalu, sejauh ini belum dilakukan penahanan. Penyidik menilai, selain kooperatif selama proses penyidikan, dalam waktu bersamaan dr Andaryono juga mengaku sedang sakit. ’’Dari kuasa hukum yang bersangkutan (tersangka) sedang sakit. Hari ini (kemarin, Red) kami tidak melakukan penahan,’’ tegasnya.

Hal itu, lanjut dia, dibuktikan dengan surat keterangan dokter RSUD Prof dr Soekandar Mojosari. Rumah sakit pelat merah tersebut selama ini juga sebagai tempat dinas tersangka. ’’Intinya, yang bersangkutan sedang sakit komplikasi,’’ imbuhnya. Informasi dari surat yang diterima tim penyidik, dr Andaryono diketahui mengalami sakit diabetes dan komplikasi ke jantung. Namun, ketika ditanya apakah alasan sakit tersangka juga dikuatkan dengan pemeriksaan dokter polisi, Dewa menyebutkan tidak perlu.

Sebab, surat keterangan yang diberikan kuasa hukum dianggapnya sebagai produk kedokteran. ’’Saya rasa sudah cukup, tidak perlu kami kroscek lagi. Karena ini kode etik profesi kedokteran,’’ terangnya. Untuk itu, atas dasar tersebut, melalui kuasa hukumnya, tersangka mengajukan diri untuk tidak dilakukan penahanan. Dengan demikian, kehadiran dalam pemeriksaan sebagai tersangka kali pertama ini, penyidik lebih fokus melengkapi berkas berita acara pemeriksaan (BAP). Untuk selanjutnya segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto. ’’Akan kami koordinasikan dengan jaksa penuntut umum (JPU) secepatnya,’’ ujarnya.

Disinggung soal pengakuan tersangka perihal peristiwa yang menjeratnya, Dewa enggan membeber. Dia menegaskan, baiknya hal itu menjadi konsumsi penyidik yang nantinya sebagai materi persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Termasuk, soal dugaan human trafficking. ’’Tapi, berkasnya kita kirim. Biar nanti pengadilan yang membedah,’’ tuturnya.

Sementara itu, seusai melanjalani pemeriksaan, dr Andaryono memilih menghindar dari pertanyaan wartawan yang sudah menunggunya di luar ruang unit PPA. Mengenakan hoodie, dia yang menutup wajahnya dengan kertas cokelat memilih bergegas menuju mobil yang menjemputnya di depan halaman unit PPA. ’’No comment,’’ lontarnya berulang kali. 

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia