Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Jadi Tersangka, Dokter Spesialis Mangkir dari Panggilan Polisi

08 Januari 2020, 09: 50: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

dr Andaryono Sp. OG, tergesa-gesa memasuki mobil saat dikonfirmasi wartawan di tempat praktiknya, Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, beberapa waktu lalu. (khudori/radarmojokerto.id)

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tersangka dugaan kasus asusila rentan dengan human trafficking, dr Andaryono, Sp. OG, di tempat praktiknya Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, mangkir dari panggilan pertama sebagai tersangka kemarin. Tidak hadirnya dokter sepesialis kandungan di ruang penyidik satreskrim tersebut tak lain karena alasan sedang ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan.

’’Hari ini (kemarin, Red) tak bisa hadir karena ada kerjaan. (Panggilannya) minta diundur,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Primayoga, kemarin. Menurutnya, penjadwalan ulang pemeriksaan dr Andaryono ini didapat penyidik dari hasil klarifikasi pengacara tersangka kemarin. ’’Kamis (lusa, Red) katanya datang,’’ tambahnya. Apakah benar akan datang memenuhi panggilan? Dewa mengaku tidak bisa menjamin.

Ia akan lebih memilih untuk menunggu hadir tidaknya tersangka pada Kamis (9/1) mendatang. Begitu juga dengan upaya bahwa akan dilakukan penahanan atau tidak, pihaknya juga belum bisa memastikan. Ia menegaskan, penyidik saat ini telah menjadwalkan ulang pemeriksaan tersangka. Pemeriksaan ini sebagai upaya polisi dalam melakukan konfirmasi akan temuan-temuan barang bukti yang sudah dikantongi sebelumnya. ’’Ya dilihat dulu, hadir tidak kan pihak sana yang minta mundur,’’ tandasnya.

Penetapan tersangka terhadap dr Andayono dalam kasus dugaan persetubuhan terhadap PL, 15, remaja asal Kecamatan Jatirejo, ini tak lepas dari bukti kuat yang sudah didapat tim penyidik unit pelayanan perempuan dan anak (PPA). Penyidik sudah menemukan unsur pidana dalam serangkaian penyidikan pada perkara yang sudah bergulir sejak 18 November 2019 lalu.

Sebelumnya, oleh polisi sang dokter dijerat dengan pasal 81 ayat 2 juncto pasal 2 ayat 1, UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak. Ancamannya hukumannya selama 15 tahun penjara. Dalam pasal ini juga dijelaskan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan juga didenda paling maksimal Rp 5 miliar.

Peningkatan status tersebut juga dikuatkan dari tiga saksi ahli yang sudah terkonfirmasi, dengan dibuktikan surat berita acara pemeriksaan. Di antaranya, ahli forensik, ahli pidana, dan dokter RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, sebagai pihak mengeluarkan hasil visum rumah sakit. Saksi ahli ini untuk menguatkan fakta-fakta yang sudah diungkap penyidik dalam proses penyidikan selama ini.

’’Keterangan ahli ini untuk menguatkan alat bukti yang sudah dikumpulkan kepolisian,’’ terang Dewa. Ahli pidana yang didatangkan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, misalnya. Keterangannya dinilai penting untuk mengkaji sekaligus menguatkan fakta-fakta yang sudah ditemukan penyidik. Keterangan ahli ini sekaligus sebagai pendukung kuat untuk menuntaskan kasus ini. Termasuk dari keterangan dokter rumah sakit yang mengeluarkan hasil visum. Meski diketahui hasil visum korban terdapat luka lecet pada alat vital, keterangan ahli juga dianggap perlu menerangkan itu kepada penyidik. ’’Sebagai bukti otentik, keterangan ahli ini juga dibuatkan surat berita acara,’’ ujarnya.

Setidaknya,dalam penyidikan ini, polisi telah memeriksa 19 orang saksi. Di antaranya adalah korban, ibu korban, dr Andaryono, AN, RT kakak AN, SC, kakak ipar AN, YS, warga Kecamatan Bangsal, dan lima asisten dr AD. Serta sopir pribadi dr Andaryono. Selain itu, ada tiga saksi baru juga yang sebelumnya turut dimintai keterangan.

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia