Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Waspada Kiriman Air Kali Kromong

08 Januari 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Petugas gabungan mengevakuasi sampah dari Sungai Brangkal yang tersangkut di bawah jembatan Jalan Raya KH Usman, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Selasa (7/1). (Rizalamrullah/radarmojokerto.id)

PRAJURIT KULON, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kawasan, termasuk di Kota Mojokerto membuat pemkot bersiaga dalam menghadapi bencana. Tidak hanya mengantisipasi meluapnya air di sungai-sungai dalam kota, atensi juga dilakukan untuk mewaspadai kiriman air dari hulu sungai di wilayah kabupaten.

Sebab, tingginya curah hujan yang mengguyur dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak pada meningkatnya debit air. Akan tetapi, derasnya aliran air juga turut membawa material sampah yang menghambat arus sungai. Seperti yang terjadi kemarin, berbagai jenis sampah tersangkut di kaki jembatan di Jalan Raya KH Usman, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.

Akibatnya, aliran air di Sungai Brangkal menjadi tersendat untuk menuju ke hilir. ’’Karena curah hujan belakangan ini cukup tinggi dari hulunya (Pacet, Red). Sehingga banyak sampah yang ikut hanyut,’’ terang Wali Kota Ika Puspitasari usai meninjau sampah yang menyumbat aliran Sungai Brangkal, Selasa (7/1).

Ning Ita, sapaan akrab wali kota menyebutkan, sampah yang nyangkut di jembatan penghubung antara wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto, itu terdiri dari pepohonan, bambu, plastik, hingga sampah popok.

Selain itu, petugas mengevakuasi sampah yang berasal dari perabotan rumah tangga, seperti kasur dan bantal. ’’Kalau tidak segera kita bersihkan, dalam waktu beberapa jam ada curah hujan yang tinggi lagi bisa sangat membahayakan,’’ tandasnya.

Menurutnya, masalah sampah tersebut bisa meningkatkan potensi memicu meluapnya air sungai ke wilayah Kota Onde-Onde. Selain itu, dikhawatirkan bisa menyebabkan jebolnya tanggul. Terlebih, kota yang terdiri dari tiga kecamatan ini wilayahnya dikelilingi oleh sungai.

Sebelumnya, orang nomor satu di lingkup pemkot tersebut menyatakan telah berkoordinasi ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait penanganan sampah itu. Namun, karena belum mendapat respons, maka pihaknya mengambil langkah antisipatif dengan menerjunkan sekitar 100-an personel untuk mengangkatnya dari permukaan sungai.

Pasalnya, sebut Ning Ita, sampah tersebut butuh penanganan segera sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar. ’’Ini potensi kerawanannya kepada warga kita, kalau BBWS tidak bergerak, kita yang harus bergerak,’’ tegasnya.

Kemarin, tenaga gabungan dari satpol PP, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH), itu kemudian mengevakuasi sedikitnya lima truk sampah. Karena itu, wali kota perempuan pertama ini, menegaskan, jika Sungai Brangkal menjadi salah satu prioritas dalam upaya pencegahan banjir di kota. ’’Sungai Brangkal itu hulunya di Sungai Kromong. Makanya, kalau curah hujan tinggi kita juga harus waspada,’’ tandasnya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Mojokerto Heryana Dodik Murtono menambahkan, selama intensitas hujan tinggi, pihaknya akan menempatkan personel di sepanjang aliran Sungai Brangkal. Setidaknya, yang menjadi fokus adalah di titik jembatan. Titik pertama di jembatan Jalan Raya KH Usman, kemudian di jembatan Tribuwana Tunggadewi, dan jembatan Mentikan.  ’’Selain memantau debit air, juga mengecek jika ada sampah yang menyumbat,’’ tambahnya.

Di sisi lain, untuk, antisipasi banjir juga dilakukan dengan memasimalkan 32 rumah pompa. Pihaknya memastikan seluruh mesin pompa telah siap. Masing-masing disiagakan penjaga selama 24 jam jika sewaktu-waktu terjadi banjir dan genangan air.

(mj/ram/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia