Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Empat Pelajar Di Mojokerto Terjangkit HIV/AIDS

04 Januari 2020, 08: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Jumlah Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Mojokerto yang setiap tahun terus bertambah menjadi perhatian instansi terkait. (fendihermansyah/radarmojokerto.id)

Kasus penderita HIV-AIDS kian tahun terus meningkat. Hal itu menimpa berbagai latar belakang profesi, pendidikan, hingga usia. Tak terkecuali kalangan anak sekolah yang terindikasi tertular melalui seks bebas dan narkoba.

KLINIK Voluntary Counseling dan Testing (VCT) RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto menyebutkan, terdapat 925 penderita HIV-AIDS dalam kurun tahun 2006 hingga tahun 2019. Per April hingga Desember tahun 2019, pertambahan penderita penyakit menular itu telah mencapai 71 orang.

Dalam catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto, proporsi kumulatif kasus HIV yang ditemukan per kelompok umur tahun 2002 hingga oktober 2019, mencapai 943 penderita.  Kelompok umur 25 tahun sampai 49 tahun paling mendominasi. Yakni, 651 kasus HIV alias sebesar 69 persen. Peningkatan jumlah penderita penyakit mematikan itu diperkirakan terjadi disebabkan perilaku seks bebas serta maraknya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Berbagai latar belakang komunitas, pekerjaan, hingga usia sudah terjangkiti.

Fenomena baru yang muncul di tahun 2019, yakni adanya kasus penderita berlatar belakang siswa. Itu terjadi di tingkat SMP dan SMA. Total ada empat siswa yang diketahui positif HIV/AIDS ketika menjalani rangkaian tes di klinik VCT RSUD Wahidin Sudiro Husodo. Yakni, menjangkit satu siswa SMP, sedang tiga lainnya adalah siswa SMA. Kebanyakan mereka berdomisili di luar Kota Mojokerto.

Manajer Kasus Klinik VCT Kota Mojokerto Eko Hariyanto mengatakan, didasarkan hasil konseling, tren baru itu menjangkiti anak berusia 16 tahun. Di tingkat SMA, menjangkiti siswa putra yang merupakan penyuka sesama jenis. Mereka terjangkit dikarenakan menjalankan perilaku seks bebas. ’’Jadi mereka itu LSL (lelaki suka lelaki),’’ ujar dia. Terjangkitinya siswa sekolah itu, ditaksir dari penularan kalangan LGBT (lesbi, gay, biseksual, dan transgender). Yang mana, dari LSL kemudian mencari pasangan yang lebih muda alias berondong. ’’Yang pria dewasa sudah bekerja mencari pasangan yang berondong lalu tertular,’’ imbuh dia.

Sedangkan, siswa SMP yang tertular didasarkan hasil konseling, penularannya ditengarai kuat melalui praktik penggunaan narkoba. Juga didukung pula perilaku seks bebas. ’’Yang SMP juga putra kemungkinan dari pemakaian narkoba dan seks bebas,’’ tukas Eko. Munculnya fenomena itu cukup mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Eko turut mendorong kalangan orang tua dan sekolah untuk lebih mengawasi pergaulan anak atau siswanya.

Perilaku yang aneh atau gerak-gerik yang mencurigakan dapat dikonselingkan ke klinik VCT. ’’Kami imbau agar lebih diperketat pengawasan. Untuk pemeriksaan lebih detail dapat dilakukan konseling di klinik VCT,’’ tandasnya.

(mj/fen/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia