Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pengajuan Normalisasi Selalu Kandas

03 Januari 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Banjir di Desa Banyulegi, Dawarblandong masih belum surut. Musibah ini selalu rutin terjadi setiap musim penghujan. (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ancaman bencana banjir akibat luapan Sungai Lamong yang melintasi wilayah Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, tahun ini dipastikan akan terus terjadi. Menyusul, hingga kini anggaran untuk program normalisasi atau pembangunan tanggul sungai belum bisa terealisasi.

BBWS Solo sebagai pengelola disebut-sebut mengalami keterbatasan anggaran. ’’Tidak ada solusi apa pun dari pengelola sungai (BBWS Solo, Red). Baik normalisasi atau pembuatan tanggul,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini.

Menurutnya, persoalan banjir di wilayah Dawarblandong sebenarnya sudah menjadi ancaman serius bagi warga. Bencana tahunan yang selalu terjadi di tengah musim hujan tersebut harusnya cepat ditangani oleh pihak berwenang. Sebab, tidak jarang akibat luapan air sungai, lahan pertanian, permukiman, hingga rumah warga terendam banjir. Secara otomatis aktivitas warga akan lumpuh total.

Jangankan untuk ke ladang atau sawah, sebagai lahan pertanian yang diketahui menjadi pekerjaan mereka setiap hari, untuk memasak dan tidur pun mereka tidak bisa. ’’Bencana ini sudah menjadi langganan. Dan, setiap tahunnya terjadi. Harusnya, jadi prioritas,’’ katanya.

Normalisasi dan pembuatan tanggul sungai yang sebenarnya sudah diketahui menjadi solusi penanggulangan banjir, sejauh ini memang tak kunjung terealisasi. Hal itu menunjukkan jika penyelesaikan banjir di wilayah Dawarblandong dari pihak berwenang dinilai belum menunjukkan keseriusan. ’’Lagi-lagi, masalah anggaran yang masih menjadi persoalan dan hambatan,’’ tuturnya.

Dari detail engineeering design (DED) normalisasi dan pembuatan tanggul Sungai Lamong oleh BBWS Solo, yang selesai dibangun tiga tahun lalu. Penghitungan anggarannya, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 3 triliun. Dengan harapan, Kementerian PUPR hanya bisa menyuntik Rp 2 miliar-Rp 3 miliar setiap tahun. Atas minimnya anggaran tersebut, BPBD memastikan persoalan banjir di Dawarblandong tak bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi, pekerjaannya dicicil, dan dimulai dari Surabaya atau dari hilir ke hulu.

’’Sehingga dipastikan sampai wilayah Dawarbladong masih lama. Lagi-lagi ancaman banjir saat musim hujan masih terus terjadi,’’ paparnya. Kendati demikian, lanjut Zaini, bukan berarti Pemkab Mojokerto tinggal diam. Meski terganjal kewenangan, bukan berarti pemda tidak melakukan upaya mengentas atau menyelesaikan bencana banjir yang sudah menjadi langganan setiap musim penghujan ini.

Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur jalan desa di lokasi terdampak. Sayangnya,seiring ditinggikannya jalan desa, faktanya tidak membuat persoalan banjir berkurang. Sebaliknya, menyisahkan persoalan serius bagi warga sekitar. ’’Jalan desa ditinggikan dengan cor, tetapi rumah warga tidak tidak ditinggikan. Sehingga saat sungai meluap, rumah mereka semakin tenggelam,’’ paparnya.

Dengan demikian, solusi pencegahan praktis hanya berupa imbauan kepada warga agar selalu waspada dengan potensi banjir yang masih membayangi. ’’Jadi, jika air sungai naik, warga kami tekankan untuk segera mengungsi,’’ pungkas Zaini. Sekadar diketahui pergantian tahun baru 2020 nyatanya tak membuat masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Lamong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, terbebas dari banjir.

Selama musim penghujan ini, lagi-lagi ancaman bencana banjir menghantui wilayah permukiman warga. Seperti di Dusun Balong, Desa Banyulegi. Setidaknya, ada lima KK (kepala keluarga) dari 12 rumah yang tergenang sempat dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Selain agar tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan, akibat bencana banjir, rumah mereka sudah terendam air.

Banjir dikawasan ini terjadi sejak tahun 1972. Hanya saja, banjir saat itu belum masuk ke dalam rumah warga. Sebatas di area rerimbunan bambu di pelataran belakang rumah. Namun, lamban tahun, Sungai Lamong yang kian dangkal membuat luapan air kian parah. Derasnya air merendam persawahan hingga permukiman warga. Baru, di 2008 banjir mulai masuk rumah warga.

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia