Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Limbah Medis Di Sungai, Dinkes Bantah Bukan dari Puskesmas

06 Desember 2019, 09: 15: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Warga menunjukkan sampah medis yang dibuang di bantaran sungai Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, Kamis (5/12). (sofankurniawan/jprm)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto menyatakan jika limbah medis yang ditemukan di bibir Sungai Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, bukan berasal dari fasilitas kesehatan (faskes) di bawah jajarannya. Diduga, berbagai peralatan medis dan obat bekas tersebut dibuang oleh oknum tak bertanggung jawab.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko mengatakan, pihaknya langsung menginstruksikan petugas ke lapangan setelah menerima laporan temuan limbah medis yang berserakan di antara tumpukan sampah, di Kecamatan Jatirejo.

Menurutnya, dari hasil pengecekan, limbah medis tersebut diklaim bukan berasal dari puskesmas maupun faskes milik Pemkab Mojokerto. ”Tadi (kemarin, Red) sudah dicek ke sana (Jatirejo). Itu di luar puskesmas, bukan punya kita,” terangnya. Pasalnya, sebut dia, seluruh faskes di bawah Dinkes telah menerapkan standar dalam pembuangan limbah medis di 27 puskesmas maupun di RSUD. Menurutnya, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan pengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sujatmiko menyebutkan, masing-masing puskesmas telah menerapkan pemilahan sampah sejak sebelum dikirim ke pembuangan akhir. Masing-masing dibedakan antara sampah medis dan nonmedis. Khusus untuk sampah medis, secara terjadwal akan diambil oleh pihak pengolah limbah B3. ”Jadi, sudah ada standar limbah B3 sendiri. Di rumah sakit juga sama seperti itu, sampahnya sudah dipilah-pilah dulu,” ujarnya. Lalu dari mana asal limbah medis itu? Sujatmiko enggan berspekulasi lebih jauh. Sebab, terdapat berbagai kemungkinan bekas peralatan medis itu bisa terbuang sembarangan di tanggul jembatan Desa Dinoyo.

Diduga, hal itu dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab di luar faskes milik pemerintah. ”Tapi, saya tidak mau momojokkan yang lain, karena siapa-siapa pembuangnya kita juga tidak tahu,” tandasnya. Plt Direktur RSUD Prof dr Soekandar Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini, juga belum bisa memastikan risiko bahaya yang berpotensi ditimbulkan dari limbah medis tersebut. Untuk mengetahuinya, harus ditelusuri lebih dulu asal muasalnya.

Terutama, memastikan apakah peralatan yang ditemukan itu merupakan bekas digunakan untuk keperluan medis atau tidak. ”Apa pun bisa bahaya, tapi kita harus lihat dulu. Misalnya spet (jarum suntik) itu bisa dari medis, tapi mungkin juga dipakai cartridge (printer),” imbuhnya. Disamping itu, jenis temuan limbah medis juga terdapat botol urine, alat tes kehamilan, hingga alat tes HIV/AIDS.

Oleh karena itu, atas temuan limbah medis tersebut juga akan menjadi bahan evaluasi bagi dinkes. Dia menegaskan, saat ini peralatan medis tersebut bisa dengan mudah dibeli oleh masyarakat umum. Baik yang dijual langsung di toko maupun apotek, maupun secara online. Untuk itu, pihaknya menyatakan akan lebih memperketat terkait penjualan peralatan medis agar tidak mudah diperjualbelikan oleh sembarang orang. ”Itu yang akan kita tertibkan lagi ke depan. Agar alat-alat medis tidak boleh di jual secara umum,” tandasnya.

(mj/ram/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia