Minggu, 19 Jan 2020
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Hujan Es di Mojokerto Karena Sirkulasi Siklonik

04 Desember 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Hujan es sebesar kelereng ini menimpa sejumlah lokasi di Mojokerto. (khudori/radarmojokerto.id)

KEPALA Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto M. Zaini menyatakan, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Juanda, Surabaya, dan BPBD Pemprov Jawa Timur, musim pancaroba saat ini memang selalu dibarengi angin kencang.

’’Bahkan tak jarang angin puting beliung berkecepatan tinggi,’’ tegasnya. Menyusul, dua minggu lalu, kecepatan angin rata-rata mencapai 40-70 km per jam. Akibatnya, setidaknya ada 47 bangunan dan sejumah pohon bertumbangan di beberapa desa wilayah Kecamatan Kemlagi. Kondisi seperti ini pun diperkirakan akan berlangsung sepanjang bulan Desember, karena dampak dari peralihan musim.

Musim pancaroba, lanjut Zaini, tak hanya berpotensi adanya angin kencang. Surat edaran BKMG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Surabaya, disebutnya juga berpotensi hujan lebat secara tiba-tiba disertai angin kencang hingga fenomena butiran es sesaat yang berasal dari awan comulunimbus. Baik itu puting beliung maupun downburst.

’’Selain itu, terjadi peningkatan intensitas sambaran petir berasal dari awan comulunimbus,’’ ujarnya.Zaini menegaskan, hujan yang terjadi saat pancaroba bersifat sporadik atau tidak merata. Dan, terjadi secara tiba-tiba dengan itensitas cukup tinggi.  ’’Bahkan, potensi terjadi cuaca ekstrem, seperti hujan es yang terjadi di beberapa wilayah Mojokerto sekarang ini (kemarin, Red),’’ jelasnya.

Fenomena alam ini tidak hanya terjadi di wal musim hujan kali ini saja, melainkan akan terjadi di setiap musim pancaroba. Peralihan dari musim kemarau ke penghujan atau peralihan musim penghujan ke kemarau. Penyebabnya, ada sirkulasi siklonik di perairan timur Filipina dan samudera Hindia barat daya Sumatera. Sirkulasi siklonik sendiri merupakan pusaran angin yang memicu massa udara atau uap air sebagai faktor utama pembentukan awan yang akan bergerak ke arahnya.

’’Kondisi itu yang akhirnya menyebabkan daerah di sekitar sirkulasi memiliki potensi pertumbuhan awan signifikan. Itu sesuai surat edaran BKMG Stasiun Meteorologi,’’ tandasnya.

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia