Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pengamanan Kantor Kepolisian Diperketat

14 November 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Petugas Polresta Mojokerto melakukan pemeriksaan kepada warga yang hendak memasuki mapolresta di Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto, Rabu (13/11). (khudori/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Insiden bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11), membuat stabilitas keamanan di sejumlah daerah ditingkatkan. Meski sejauh ini kondisi Mojokerto masih kondusif, polisi tetap meningkatkan pengamanan di sejumlah tempat publik.

Apalagi, secara historis, Bumi Majapahit, salah satu daerah yang pernah menjadi sasaran aksi terorisme. Termasuk, sel-sel atau benih teroris disinyalir pernah terdeteksi masuk wilayah Mojokerto. Kapolresta Mojokerto AKBP Bogiek Sugiyarto, mengungkapkan, segala antisipasi gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtib) akan menjadi prioritas. Tidak hanya aksi terorisme, melainkan semua tindakan kriminalitas. ’’Jadi, peningkatan pengaman dan pelayanan juga terus kita tingkatkan,’’ ungkapnya, kemarin.

Lebih khusus untuk ancaman teror, seperti insiden bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Sejauh ini, polresta sudah melakukan pemetaan yang berpotensi terdapat ancaman teror. Di antaranya, di kantor-kantor polisi. Meliputi, mapolresta, mapolsek, dan Pos-pos kepolisian di titik tertentu, perkantoran pemerintah daerah, hingga tempat-tempat ibadah. Pemetaan itu dilakukan di tujuh kecamatan yang menjadi wilayah hukumnya. Yakni, tiga kecamatan di kota dan empat kecamatan wilayah hukum di kabupaten.

’’Pasca teror bom Medan, jajaran polresta meningkatkan kewaspadaan dan atisipasi. Utamanya, penjagaan markas komando,’’ tuturnya. Seperti yang nampak di Mapolresta Mojokerto, kemarin. Sejak pagi, sistem pengaman one gate sistem diterapkan. Semua masyarakat yang hendak masuk ke mako di Jalan Bayangkara, Kota Mojokerto ini, harus memarkir kendaraan di luar. Dijaga sejumlah personel berompi antipeluru dan dilengkapi senjata laras panjang, mereka yang hendak masuk, satu persatu menjalani pemeriksaan.

Selain diminta menunjukkan identitas, petugas juga menggeledah barang bawaan mereka. Termasuk membuka ransel yang dibawa dan melepas jaket yang dikenakan. Peningkatan pengamanan dilakukan sebagai bentuk antisipasi pasca peristiwa bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. ’’Namun, yang perlu kita tegaskan saat ini situasi wilayah hukum polresta secara umum dalam keadaan kondusif,’’ tegasnya.

Sehingga masyarakat tak harus takut dalam melangsungkan aktivitasnya. Sebab, keamanan dan kondusivitas mereka sudah dijamin. Baik oleh kepolisian atau TNI, serta instansi terkait yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya. ’’Namun, masyarakat tetap harus waspada untuk antisipasi teror secara bersama-sama dengan aparat,’’ tambahnya. Artinya, kejadian yang sebelumnya pernah terjadi tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi, Mojokerto salah satu daerah yang pernah menjadi sasaran aksi terorisme.

Seperti teror bom di malam Misa Natal tahun 2000 di GSJPDI Eben Haezer, Jalan Kartini. Anggota Banser bernama Riyanto yang turut membantu pengamanan wafat. Pada 19 Desember 2015 Densus 88 Antiteror menggerebek rumah sewa di Jalan Empunala, Kota Mojokerto. Tiga pria terduga teroris, Indraji Idham Wijaya, Bambang Sugito, dan Choirul Amin ditangkap. Satu wanita dan dua anak-anak turut diamankan. Di dalam rumah tersebut, petugas menemukan rakitan bom kaleng semprotan pembasmi nyamuk lengkap dengan sumbu.

Di hari yang sama, pasukan khusus ini kembali menggerebek rumah sewa M Choirul Amin di Desa/Kecamatan Trowulan. Hasil penggeledahan, sejumlah buku jihad dan dokumen palsu, satu set komputer, sebuah laptop, dua hardisk, satu set stempel palsu berhasil didapati. Tak berhenti sampai di situ, hasil pengembangan keesokan harinya atau 20 Desember 2015, Densus Antiteror kembali menggerebek rumah Bambang Sugito, di Dusun Sambiroto, Desa Mlaten, Kecamatan Puri. Di rumah yang ditinggali bersama istri dan anaknya, petugas menemukan dua jeriken cairan, rangkaian kabel, satu komputer meja, dan buku bertema jihad.

Terakhir, tanggal 17 Mei 2018, Densus 88 Antiteror kembali turun gunung ke Mojokerto. Mereka kembali melakukan penggerebekan di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi. Hasilnya, meski enam di antaranya berhasil kabur, saat itu petugas berhasil mengamankan ayah dan anak, Sutrisno dan Lutfi Teguh Oktafianto. Di dalam rumah, petugas menemukan 26 judul buku yang sebagian besar tentang jihad. ’’Artinya, kita tidak boleh underestimate. Kita harus selalu waspada dan antisipasi atas potensi-potensi sampai terburuk sekalipun,’’ kata Bogiek.

Sehingga, dalam peningkatan pengamanan wilayah petuagas diharuskan tak lupa membawa kelengkapan sesuai SOP (standar operasional prosedur). Seperti, rompi antipeluru, serta senjata api sesuai kebutuhan. ’’Termasuk tidak boleh sendiri saat melakukan penjagaan. Minimal ada dua personel,’’ jelasnya. Sedangkan, sebagai upaya deteksi dini, lanjut Bogiek, pihaknya selalu mengimbau masyarakat tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Masyarakat diminta tidak ragu melaporkan adanya aktivitas atau garak-gerik orang yang mencurigakan di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Laporan itu bisa dilakukan secara online melalui sambungan telepon 110 ataupun kantor polisi terdekat. ’’Tentunya laporan itu akan kita tindaklanjuti,’’ tegasnya. Meski diperketat, Bogiek menjamin pelayanan di kepolisian tetap berjalan dengan lancar dan mengedepankan kenyamanan dan keamanan.Sementara itu, Kasatsabhara Polresta Mojokerto AKP Amat, menambahkan, penerapan one gate sistem sebenarnya terus menerus dilakukan. Baik ada kejadian atau tidak ada. Dia menyebutkan, polresta selalu memasang satu pintu. ’’Sesuai SOP termasuk pemeriksaan setiap orang yang masuk ke polresta melewati penjagaan depan. Selanjutnya anggota mengantar tujuan orang tersebut. Ini sebagai bentuk pelayanan publik juga,’’ tandasnya.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia