Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Jual Ayam Tiren, Pelaku Berdalih untuk Pakan Lele

13 November 2019, 09: 25: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Ayam tiren yang telah dicuci, kemudian dimasukkan ke dalam lemari es. (khudori/radarmojokerto.id)

PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kepolisian mengembangkan dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus produsen rumahan (home industry) bangkai ayam di Dusun Balonglombok, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (9/11). Bahkan, korsp Bhayangkara menyatakan, saat ini sedang mengejar pengepul atau distributor hasil olahan ayam tiren (mati kemarin).

”Sudah tentu dong, (distributornya) kita buru,” ungkap Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Hariyatno, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin. Pendalamaan ini tak lain untuk mengungkap ada tidaknya persengkongkolan jahat antara bos pengolah ayam tiren, Alex Suwardi, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, dengan distributor asal Malang tersebut. ’’Yang jelas, masih kita dalami,” tambah Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Prima.

Tidak hanya distributor. Dewa menyatakan, pengembangan bisnis olahan ayam tiren ini juga akan menyentuh pihak lain. Yakni, peternak sebagai pihak penjual atau penyuplai ayam tiren. Dimana, keberadaan mereka disebut-sebut berada di wilayah Kecamatan Gondang. ”Semua pihak yang diduga terlibat. Termasuk penyuplai ayam dari peternak,’’ tandasnya.

Meski belum ada fakta baru di balik terungkapnya produsen olahan daging ayam tiren ini, polisi masih akan terus menggali berbagai keterangan. Agar kasus tersebut benar-benar terang.

Di antaranya, memeriksa secara intens Alex Suwardi, 54, warga asal Krajan Wetan, Desa Purworejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Serta, tujuh orang pekerja yang didatangkan oleh tersangka dari Tanggerang, Banten. ’’Kami juga bekerjasama dengan Dinas Peternakan (Dispari) Kabupaten Mojokerto untuk mengidentifikasi penggunaan bahan pengawet berupa formalin,’’ terangnya.

Dari serangkaian pemeriksaan ini, lanjut Dewa, tersangka disinyalir bukanlah pemain baru dalam bisnis haram tersebut. Tersangka, kata Dewa, sudah beroperasi tidak kurang dari dua minggu terakhir, sebelum akhirnya digerebek polisi. ’’Pengakuannya, barangnya memang belum sampai terjual,’’ tuturnya.

Dugaan ini didukung dari keterangan sejumlah saksi dan barang bukti yang ditemukan polisi di rumah tersangka saat penggerebekan. Meliputi, almari pendingin atau freezer boks. Dijelaskan Dewa, modus bisnis haram tersangka ini terbilang cukup rapi. Tersangka diduga sengaja mencari bangkai ayam lebih dulu kepada para peternak ayam di kawasan Gondang. Dengan dalih, bangkai-bangkai ayam itu akan dimanfaatkan untuk pakan ternak lele di rumahnya. Namun, lanjut Dewan, hal itu hanya akal-akalan tersangka saja. Bangkai ayam yang sudah dibelinya bukannya untuk pakan lele. Melainkan, diolah kembali lalu dijual kembali ke pasaran melalui distributor di wilayah Malang.

Yakni, dengan harga Rp 15 ribu per kg. Namun, sebelum ayam tiren diperdagangkan, kejahatan tersangka lebih dulu terendus polisi. Rumah produksinya kemudian digerebek. Dari dalam rumah sewa itu, polisi mendapati4 kuintal ayam tiren kemasan plastik siap jual. ’’Motiviasi tersangka karena keuntungan. Modal sedikit, untung besar,’’ tegasnya.

Meski demikian, Dewa menyatakan, bukan tidak mungkin jumlah tersangka dalam kasus ini akan bertambah. Jika terdapat bukti-bukti kuat, peternak atau distributor dapat terjerat hukum. Hanya saja, saat ini kepolisian mengalami kesulitan untuk mendeteksi keberadaan distributor akibat sistem jaringan antara tersangka dan distributor terputus.

’’Karena yang di Malang, disebutkan nama orangnya saja. Tapi, alamatnya tidak jelas. Itu pun dia (distributor, Red) belum sampai ambil dan edarkan ke konsumen,’’ tegasnya. Sebelumnya, saat penggerebekan berlangsung petugas mendapati aktivitas pengolahan ayam tiren.

Polisi memergoki tujuh pekerja sedang melakukan aktivitas pemotongan bangkai ayam. Sejumlah barang bukti pun turut diamankan. Diantaranya, satu unit mesin pendingin berisi bungkusan daging ayam tiren, satu unit mesin penggiling daging, satu timbangan merek GSF, tiga buah drum plastik untuk merendam bangkai ayam, tujuh bungkus kantong plastik, enam cutter, satu buah pisau kecil, delapan masker, satu sak berisi bungkus plastik isi daging ayam, satu sak berisi bangkai ayam, dan satu sak potongan-potongan daging bangkai ayam. Bangkai ayam yang sudah diolah dan telah di-packing menjadi kemasan plastik, nantinya akan diambil oleh pembelinya dari Malang. 

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia