Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Biadab! Beli Bangkai Ayam, Diolah, lalu Dijual Lagi

12 November 2019, 08: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno menunjukkan barang bukti penggerebekan home industry ayam tiren dalam pers rilis ungkap kasus di mapolres, Senin (11/11). (khudori/radarmojokerto.id)

PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tingginya minat masyarakat dalam mengonsumsi daging ayam justru dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk mendapat untung besar. Baru-baru ini terungkap produsen olahan daging ayam tiren (mati kemarin) atau telah menjadi bangkai. Bahkan, proses yang dilakukan dinilai sangat menjijikkan. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan jeli ketika membeli ayam di pasaran.

Terungkapnya produsen rumahan bangkai ayam ini dilakukan Satreskrim Polres Mojokerto, di sebuah rumah di Dusun Balong Lombok, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Dalam penggerebekan pengolahan ayam tak layak konsumsi tersebut, polisi menetapkan satu orang sebagai tersangka. Ia adalah pemilik home industry, Alex Suwardi, 54, warga asal Krajan Wetan, Desa Purworejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. ’’Ada sekitar empat kuintal lebih ayam tiren yang diamankan,’’ ungkap Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno, di mapolres Senin (11/11).

Penggerebekan dilakukan polisi pada Sabtu (9/11) pukul 11.30. Itu setelah sebelumnya polisi mendapati informasi dari masyarakat, jika di salah satu rumah warga diduga dijadikan sebagai tempat pengolahan ayam tiren. Saat dilakukan penyelidikan, petugas memang mendapati aktivitas pengolahan ayam tiren tersebut seperti yang dilaporkan. Di dalam rumah yang disewa tersangka ini, petugas mendapati tujuh orang pekerja sedang melakukan aktivitas pemotongan bangkai ayam.

Saat ini, status mereka sebagai saksi. Mereka sengaja didatangkan oleh tersangka dari Tangerang, Provinsi Banten, untuk dijanjikan pekerjaan layak. Namun, saat di Mojokerto, ternyata mereka dimanfaatkan sebagai buruh pemotongan sekaligus pengolahan ayam tiren. Dengan upah Rp 3 ribu per kilogramnya. ’’Ayam-ayam yang sudah terpotong tersebut lalu dibungkus plastik, dan dimasukkan ke almari pendingin,’’ tuturnya.

Sejumlah barang bukti juga ikut diamankan dalam penggerebekan ini. Di antaranya, satu unit mesin pendingin berisi bungkusan daging ayam tiren, satu unit mesin penggiling daging, satu timbangan merek GSF, tiga buah drum plastik untuk merendam bangkai ayam, tujuh bungkus kantong plastik, enam cutter, satu buah pisau kecil, delapan masker, satu sak berisi bungkus plastik isi daging ayam, satu sak berisi bangkai ayam, dan satu sak potongan-potongan daging bangkai ayam.

Setyo menegaskan, ayam-ayam yang sudah diolah dan telah di-packing menjadi kemasan plastik, nantinya akan diambil sendiri oleh pembelinya. Pembeli itu belakangan diketahui juga bertempat tinggal di Malang. ’’Jadi semacam ada distributornya. Mengambil sendiri di lokasi. Lalu, dibawa ke Malang,’’ tuturnya. Meski pengakuan tersangka peredarannya baru di sekitaran Malang, pihaknya menekankan pada masyarakat Mojokerto untuk lebih waspada atas peredaran ayam tiren ini. Utamanya di pasar-pasar tradisional yang menjadi salah satu sasaran produsen ayam tiren.

Modus kejahatan konsumen dilakukan tersangka ini dengan lebih mencari bangkai ayam dari peternak di area Kecamatan Gondang. Untuk mendapatkan untung lebih, selama ini, ia dibantu oleh tujuh pekerja. Untuk mengolah, tersangka dan pekerja lebih dulu membersihkan bulu ayam. Setelah dibersihkan jeroannya, bangkai-bangkai ayam tersebut kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Selanjutnya, potongan daging ayam dikemas menggunakan kantong plastik. Tersangka tak menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan bau busuk ayam.

Potongan daging ayam yang telah dikemas hanya dimasukkan ke dalam mesin pendingin. ’’Dada paha-dada paha dipisahkan. Setelah itu ayam diredam es batu, baru di-packing dan dimasukkan kulkas freezer boks,’’ terangnya. Setyo memastikan, ayam tiren yang diolah Alex ini sangat tidak layak konsumsi. Hal itu berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya. Di samping itu, potongan daging ayam yang disita dari tersangka juga berbau busuk. ’’Rencananya dijual di pasar untuk dikonsumsi. Sudah siap, tinggal dimasak,’’ tandas polisi dengan dua melati di pundak ini.

Harga jual ayam tiren olahan, oleh tersangka belakangan diketahui dijual lebih murah dibanding harga daging ayam biasa di pasaran. Yakni, dijual Rp 15 ribu per kg dari harga normal daging ayam broiler yang di wilayah Jatim, biasa dijual sekitar Rp 34 ribu per kg. Dari angka penjualan itu, tersangka masih mendapatkan untung Rp 13 ribu per kg. Sebab, selama ini tersangka mendapat dari para peternak seharga hanya Rp 2 ribu per kg. Hanya saja, tersangka  berdalih belum sekalipun sempat menjualnya. ’’Jadi belum sampai jual. Baru saja mau diambil dari Malang, tapi sudah ketangkap duluan,’’ ungkap tersangka, Alex Suwardi.

Namun, disebut-sebut sudah dua kali ini dirinya mendapat kiriman ayam tiren dari peternak untuk diolah dan diperjualbelikan. ’’Pertama dua kuintal, kedua sepuluh karung, saya kembalikan tujuh karung karena kebanyakan,’’ tegasnya. Akibat perbuatannya, dia dijerat pasal 204 KUHP subsider pasal 63 ayat 1 juncto pasal 8 ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Lebih subsider pasal 135 juncto pasal 71 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia