Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ekskavasi Situs Kumitir Terganjal Anggaran

09 November 2019, 09: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Wabup Pungkasiadi, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Fitra Arda, dan BPCB Jatim, mengunjungi Situs Kumitir, Kec. Jatirejo, Jumat (8/11). (sofan/radarmojokerto.id)

JATIREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Ekskavasi Situs Kumitir, di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, terganjal minimnya anggaran. Baik dari Pemerintah Kabupaten Mojokero maupun dari pemerintah pusat. Terbukti, sejak tahun 2017 awal ditemukannya situs, baru bisa diekskavasi akhir bulan Oktober lalu. Itu pun hanya dilakukan dalam waktu 10 hari saja.

Sehingga, diperkirakan ekskvasi baru bisa dilanjutkan pada tahun 2020 mendatang. Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Fitra Arda, mengatakan, anggaran untuk penanganan Situs Kumitir di tahun ini memang tergolong minim. ”Tahun ini pemerintah hanya mengalokasikan dana Rp 2 miliar,” katanya saat mengunjungi Situs Kumitir bersama Wabup Pungkasiadi kemarin. Dana itu pun dimanfaatkan untuk ekskavasi penemuan situs di seluruh Indonesia.

Dengan demikian, ekskavasi kali ini hanya sebatas menampakkan  sekitar 100 meter dari total 200 meter struktur talud kuno diperkirakan mengelilingi sebuah bangunan suci ini. Sementara, sejumlah para perajin bata merah di Situs Kumitir tetap meminta dana konpensasi atas tanah sewa mereka yang masuk ke wilayah situs. Namun, sampai saat ini kompensasi tersebut belum masuk dalam anggaran 2020.

Sejumlah pelajar ikut menilik temuan situs Kumitir, Jatirejo.

Sejumlah pelajar ikut menilik temuan situs Kumitir, Jatirejo.

”Untuk sementara ini kita fokuskan kepada pencarian struktur terlebih dahulu,” tandasnya. Dirinya meminta masyarakat untuk bersabar sembari menunggu pencairan konpensasi di tahun depan. Dimana pihaknya akan mengambil dana dari pos anggaran penanganan kasus tersebut untuk memberi kompensasi kepada para perajin bata. Fitra Arda berharap tidak ada masyarakat yang dirugikan. Namun, masyarakat juga harus mengerti bahwa ekskavasi juga demi kepentingan negara. ”Intinya, saling memahami, saling kerja sama atau gotong royong. Itu yang paling utama," tandasnya.

Kendati demikian, ia menjajinkan akan menuntaskan proses ekskavasi ini meski dilakukan secara bertahap. ”Saya yakin di tengah-tengah talud kuno ini ada sesuatu. Ini menjadi harapan bagi kita untuk mengungkap nilai-nilai sejarah Majapahit,” paparnya. Sementara Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho, menyatakan, sampai saat ini kedua perajin batu bata sebagai penemu situs, serta pemilik tanah memang baru sebatas diberikan kompensasi Rp 1 juta.(hin)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia