Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Puluhan Sekolah Rusak, Disebabkan Faktor Usia

08 November 2019, 10: 20: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Gedung SDN di kawasan Dawarblandong ini mengalami kerusakan parah. (sofan/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Kelayakan kondisi gedung sekolah juga menjadi atensi Pemkot Mojokerto. Setidaknya, belasan sekolah yang rusak telah tersentuh rehabilitasi tahun ini. Meski demikian, dalam waktu dekat Dinas Pendidikan (Dispendik) juga melakukan evaluasi secara menyeluruh dengan mengumpulkan seluruh operator data pokok pendidikan (dapodik) guna lebih detail dalam mendata kerusakan aset sekolah.

Kepala Dispendik Kota Mojokerto Amin Wachid, menjelaskan, pendataan kondisi gedung sekolah telah dilakukan sejak menjelang digulirkan tahun ajaran baru 2019/2020. Disebutkan Amin, Dispendik telah membentuk tim khusus yang ditugaskan melakukan pendataan terhadap seluruh kondisi fisik sekolah negeri di Kota Onde-Onde. "Antisipasi sudah sejak April kami laksanakan. Jadi, ada tim untuk menyisir semua sekolah," paparnya.

Hasilnya, ditemukan sebanyak 14 lembaga pendidikan negeri yang kondisi fisiknya mengalami kerusakan dalam kategori sedang. Karena dikhawatirkan mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) atau bahkan membahayakan warga sekolah, maka semua sekolah tersebut menjadi sasaran prioritas dilakukan rehabilitasi.

"Makanya, kita rehab langsung tahun ini. Alhamdulilah, sudah ada yang hampir selesai," paparnya. Belasan sekolah yang disentuh perbaikan fisik itu masing-masing TK Pembina Magersari; TK Pembina Prajurit Kulon; SDN Surodinawan; SDN Wates 1, 3, dan 4; SDN Miji 1, 2, dan 4; SDN Kedundung 1; SDN Kranggan 3, dan SDN Gedongan 1, dan SMPN 8 Kota Mojokerto.

Proyek rehabilitasi tersebut kurang lebih menyerap anggaran sebesar Rp 4 miliar, bersumber dari dana APBD. Amin menambahkan, sasaran perbaikan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing sekolah. Meliputi, sentuhan fisik di ruang kelas, perbaikan plafon, hingga merombak atap bangunan. Dia menyebutkan, rata-rata kerusakan terjadi pada bangunan lama. "Jadi lebih banyak karena faktor usia, bukan konstruksi. Sehingga kayunya pada lapuk karena termakan usia, sehingga atap mau ambrol," tandasnya.

Tak hanya itu, Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto ini, menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya juga telah mengagendakan untuk mengumpulkan seluruh operator dapodik sekolah. Menurutnya, langkah itu merupakan upaya untuk mengevaluasi, serta memberikan pembekalan kepada total 90 tenaga operator yang tersebar di SD/SMP negeri se-Kota Mojokerto. Amin menyatakan, pada pertengahan November ini, Dispendik telah melakukan kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan SMK Negeri 1 Kota Mojokerto, untuk melakukan pelatihan tentang pendataan aset sekolah yang mengalami kerusakan.

Pasalnya, tenaga operator tersebut merupakan ujung tombak dari masing-masing sekolah agar mendapatkan bantuan melalui pendataan di dapodik. "Dia (operator dapodik) itu tidak hanya memasukkan data siswa dan guru, tapi aset sekolah juga. Jadi, selama dua hari nanti dibekali pelatihan tentang bagaimana menilai aset yang rusak. Misalnya, kerusakannya berapa persen," ulasnya. Di sisi lain, memaski musim penghujan ini juga tidak luput dari perhatian Dispendik. Sejak Oktober lalu pihaknya mengaku telah menginstruksikan seluruh sekolah untuk mengecek kondisi fisik, terutama bagian atap bangunan. Sebab, tidak menutup kemungkinan masih ada sejumlah sekolah yang kondisinya mengalami kerusakan.

Jika masih dalam kategori ringan-sedang, bisa dialokasikan melalui anggaran pemkot. "Memang kami tidak memungkiri sekolah yang masih seperti itu (rusak), tapi kami juga punya anggaran untuk rehab dan pemeliharaan dari APBD," tandas Amin. Tahun ini, di samping perbaikan juga dialokasikan dana pemeliharaan yang menyasar sebanyak 12 lembaga. Meliputi, SDN Wates 5, dan 6; SDN Kranggan 2, 4, dan 5; SDN Kedundung 3; SDN Mentikan 2; SDN Blooto 1, dan 2; SDN Purwotengah 2; SDN Meri 1; SDN Gedongan 3; SDN Sentanan; SDN Balongsari 6; serta SMPN 9. Total seluruhnya dijatah Rp 800 juta untuk kebutuhan pemeliharaan rutin yang bersifat ringan.

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia