Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Hadirkan Gus Miftah, dan Resmikan Graha Makarim

08 November 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawa pos radar mojokerto

Gus Miftah (berkacamata hitam) saat menyampaikan ceramah di SMA Negeri 1 Sooko Mojokerto didampingi Kasek Drs. H. Nurhidayat, MMPd (tengah). (Doditmulyanto/radarmojokerto.id)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto - SMA Negeri 1 Sooko Mojokerto memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Rabu (6/11) peringatan maulid ini digelar dengan tidak biasa. ’’Memang, tahun ini ada yang spesial dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Sooko Mojokerto,’’ kata Kasek SMA Negeri 1 Sooko Mojokerto, Drs H Nurhidayat, MMPd.

Ada beberapa kegiatan yang dapat dibilang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain menggelar pentas seni bersifat keagamaan, ada dua hal yang tidak bisa dilupakan oleh warga sekolah. ’’Pertama, peresmian nama dan tempat baru. Yakni, pusat kegiatan guru (PKG), sekarang berubah menjadi Graha Makarim. Serta sebagai puncak acara maulid, kami menghadirkan seorang ulama nyentrik, Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah,’’ imbuhnya.

Perlu diketahui, dana perbaikan PKG yang sekarang berubah menjadi Graha Makarim ini, dibiayai oleh komite sekolah. Nurhidayat berharap, dengan kehadiran Gus Miftah, siswa bisa memahami betul apa yang disampaikan. ’’Semoga anak-anak bisa mengambil hikmah maulid atau kelahiran Nabi. Serta meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW,’’ tegasnya. Peringatan hari besar Islam (PHBI) di sekolah negeri favorit tersebut mengangkat tema Tersakiti Bukan Alasan Menjadi Jahat. 

Dalam ceramah agamahnya, Gus Miftah menerangkan, kenapa ajaran agama tidak bisa diterima dengan akal. Karena, lanjutnya, kalau semua agama bisa diilmiahkan, berarti tidak ada bedanya agama dengan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, orang tidak akan butuh agama dan cukup dengan menempuh perkuliahan sudah selesai. ’’Justru inilah uniknya agama, tidak semuanya diterima oleh akal. Maka, belajar agama yang benar adalah akal yang mengikuti hati, bukan hati yang mengikuti akal. Kalau hati yang mengikuti akal akan rusak. Yang benar, akal harus tunduk dengan kepentingan hati,’’ ungkapnya.

Selain menyampaikan tausiah, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Jogjakarta ini, secara simbolis meresmikan sanggar Graha Makarim dengan memotong tumpeng.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia