Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembakar Bos Rongsokan Divonis Mati

05 November 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawa pos radar mojokerto

Terdakwa pembunuhan berencana, Priono Alias Yoyok dan Dantok Narianto menangis usai mendengar putusan yang dibacakan Majelis Hakim PN Mojokerto, Selasa (4/11). (sofan/radarmojokerto.id)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto kembali menjatuhkan hukuman setimpal terhadap terdakwa kasus pembunuhan.

Senin (4/11), mejalis hakim memvonis hukuman mati terhadap Priono alias Yoyok bin Jupri, 38. Priono merupakan satu dari dua terdakwa kasus pembunuhan juragan atau bos rongsokan, Eko Yuswanto, 32, warga Dusun Tumenggung, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten  Mojokerto.

Sedangkan, terdakwa dua, Dantok Narianto alias Gundul bin Dodik Narianto, 36, dijatuhi hukuman selama 20 tahun penjara. Warga asal Dusun Dimoro, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri ini, terbukti membantu Priono saat mengeksekusi pembunuhan berencana Eko Yuswanto.

Isteri almarhum Eko Yuswanto, Laili Fitria, mengaku puas atas hukuman mati bagi pembunuh suaminya tersebut.

Isteri almarhum Eko Yuswanto, Laili Fitria, mengaku puas atas hukuman mati bagi pembunuh suaminya tersebut.

Untuk menghilangkan jejak pembunuhan, jasad korban juga dibuang dan dibakar di kawasan hutan kayu putih Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, pada Minggu (12/5).

Ketua Majelis Hakim Joko Waluyo, SH, mengungkapkan, kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Para terdakwa, lanjut Joko Waluyo, juga bersama-sama berniat menghilangkan jenazah korban, dengan maksud untuk menyembuyikan tewasnya korban. Sehingga, keduanya laik diganjar dengan hukuman mati dan penjatuhan vonis selama 20 tahun penjara.

’’Oleh karena itu, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa satu, Priono alias Yoyok bin Jupri dengan pidana mati. Dan, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dua, Dantok Narianto alias Gundul bin Dodik Narianto, dengan pidana penjara selama 20 tahun, dikurangi masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dua,” ungkap Joko Waluyo membacakan amar putusan.

Selama ini diketahui, Priono juga merupakan warga asal Dusun Tumenggung, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan. Atau masih hidup bertetangga dengan korban.

Menurut Joko Waluyo, meski keduanya melakukan pembunuhan berencana, namun tidak semua dijatuhkan hukuman mati. Sebab, terdakwa dua hanya sebagai orang yang turut serta melakukan pembunuhan maupun pembakaran mayat korban, atas ajakan terdakwa Priono. ”(Vonis 20 tahun) ini bertujuan memberikan kesempatan kepada terdakwa dua untuk dapat menyadari kesalahannya. Sehingga terdakwa dua dapat bertobat, serta menjadi pribadi yang lebih baik  dan berguna, meskipun bagi dirinya sendiri,” jelasnya.

Oleh majelis hakim, Priono dan Dantok dinilai terbukti melanggar pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, juncto pasal 55 ayat 1 KUHP tentang Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana dan pasal 181 KUHP tentang Menghilangkan Jenazah  untuk Menyembunyikan Kematian Seseorang, juncto pasal 55 ayat 1 KUHP.

Setelah dilakukan pembacaan putusan oleh majelis hakim di ruang sidang Tirta PN Mojokerto, kedua terdakwa hanya tertunduk di kursi pesakitan, dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang dan berpeci. Sedangkan, pasca vonis hukuman mati dibacakan, Priono nampak menangis di depan majelis hakim, seolah menyesali perbuatan yang sudah dilakukan terhadap korban.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Askohar, SH, mengaku keberatan atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim. Yakni, berupa hukuman mati bagi Priono, dan hukuman penjara selama 20 tahun bagi Dantok. ”Kami berharap vonis terhadap Priono disamakan dengan Dantok. Seringan-ringannya selama 20 tahun. Alasannya, karena Priono selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Punya dua anak dan seorang istri,” katanya ditemui seusai persidangan.

Dia juga menegaskan, ke depan akan tetap memperjuangkan hak secara hukum bagi kedua terdakwa. Dengan mengajukan banding atas putusan majelis hakim PN Mojokerto ke Pengadilan Tinggi (PT) Jatim di Surabaya.”Khususnya untuk terdakwa satu, Priono,” tandasnya.

Sementara itu, istri Eko Yuswanto, Laili Fitria, mengaku menerima atas hukuman mati yang dijatuhkan majelis hakim terhadap Priono. Di sisi lain, ibu dari dua anak ini mengaku kecewa karena tidak bisa menyaksikan langsung vonis hakim terhadap dua terdakwa pembunuhan suaminya.

Menyusul, kedatangan keluarga terlambat dalam menyaksikan sidang putusan. Majelis hakim mengajukan jadwal putusan lebih awal dari yang ditentukan sebelumnya. ”Yang membuat kami kecewa, karena tidak bisa mengikuti persidangan putusan tadi (kemarin, Red),” tandasnya.

Di sisi lain, ibu kandung Eko Yuswanto, Misila, sempat pingsan di halaman Pengadilan Negeri Mojokerto. Karena tidak bisa mengikuti langsung proses persidangan. Padahal, kemarin dia sengaja datang dari Solo hanya untuk menyaksikan langsung putusan vonis terdakwa yang membunuh putranya semata wayangnya. ’’Karena, Mas Eko sendiri, adalah anak satu-satunya,’’ imbuh Laila.

Sebelumnya, PN Mojokerto menjatuhkan hukuman mati terhadap Rosat, 48, pada Senin (11/3) lalu. Ia adalah terdakwa kasus pembunuhan disertai pemerkosaan anak di bawah umur, Elsa Marsia, 11 Putusan yang dibacakan di ruang Cakra tersebut lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kota Mojokerto.

Sebelumnya JPU menuntut terdakwa selama 15 tahun dan denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan. Ketua Majelis Hakim PN Mojokerto, Joko Waluyo, mengatakan, vonis yang dijatuhkan majelis hakim tersebut sudah tepat.

Dia menilai terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana kekerasan disertai pemerkosaan. Hingga mengakibatkan korban asal Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, tersebut meninggal dunia. Joko   menjelaskan, putusan majelis ini sudah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan. Hakim menilai perbuatan terdakwa dinilai sadis, keji, dan tidak   berprikemanusian. ”Karena  sebelum  memperkosa,  terdakwa  terlebih  dahulu  menyiksa korban,’’  katanya.

Tidak   hanya   itu,   pada   saat   pemerkosaan   terjadi,  kondisi   korban   tidak   sadarkan   diri. Namun, terdakwa tetap memperkosa menggunakan handbody sebagai pelicin. ”Dan berdasarkan bukti visum at repertum, terdakwa juga melakukan sodomi,” paparnya.

Joko   menambahkan, pemerkosaan   dilakukan   terdakwa  ketika kondisi   korban sekarat hingga akhirnya meninggal dunia.(hin)

(mj/ori/ris/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia