Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Sakit Berat, Hukuman Eks Kades Wonosari Diperberat

02 November 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawa pos radar mojokerto

Palu hakim memberikan hukuman tambahan ke Yasin Hasyim, eks kades Wonosari, Ngoro. (ilustrasi)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Langkah banding jaksa penuntut umum (JPU) atas vonis mantan Kades Wonosari, Kecamatan Ngoro, Muh. Yasin Hasyim, akhirnya turun, kemarin (1/11).

Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) akhirnya memperberat hukuman pria yang kini tengah mengalami sakit gagal ginjal tersebut. Yasin terbukti melanggar pasal 12 huruf e Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana. JPU Kejari Mojokerto Erfandy Kurnia, SH, menegaskan, Yasin harus menjalani hukuman penjara selama 4 tahun, denda Rp 200 juta subsider 1 bulan, serta membayar uang pengganti senilai Rp 896.405.000. ’’Ada waktu sebulan untuk membayar uang pengganti,’’ ungkapnya.

Jika selama batasan waktu tak mampu dipenuhi, maka jaksa akan melakukan penyitaan terhadap harta yang dimilikinya. Namun, jika tak mencukupi, maka hukuman akan ditambah selama 6 bulan. Erfandy menambahkan, hukuman ini tak jauh berat dibanding putusan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Hakim PT hanya memperberat hukuman subsider denda senilai Rp 200 juta. Dari sebelumnya hanya sebulan, kini naik menjadi Rp 6 bulan. ’’Untuk itu, kami masih pikir-pikir. Kita lihat saja nanti apakah kasasi atau tidak,’’ bebernya. Jika memang kedua belah tak mengajukan kasasi, kata Erfandy, maka JPU akan tetap mengeksekusi Yasin ke Lapas kelas II-B Mojokerto.

’’Meskipun dia sedang sakit berat, tetap harus dieksekusi. Tetapi, nanti kita lihat kondisi terakhirnya seperti apa,’’ tandasnya. Hukuman yang dijatuhkan hakim PN dan PT Surabaya ini, lebih rendah dari tuntutan JPU. Saat menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Surabaya, Yasin dituntut hukuman penjara selama 5 tahun, denda Rp 200 juta, dan uang pengganti Rp 896.405.000. Yasin dinilai jaksa terbukti menilap uang portal di kampungnya hingga Rp 1,7 miliar. JPU menilai, hukuman itu layak diberikan lantaran kades ini memanfaatkan jabatannya untuk meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Padahal, uang portal yang seharusnya masuk ke kas desa tersebut, justru dinikmatinya sendiri.

Besarnya dana yang masuk ke kantong pribadi itu sudah terjadi selama tiga tahun menjabat. Erfandy membeber, praktik haram itu terhitung sejak tahun 2016 silam. Sasarannya adalah truk-truk angkutan hasil tambang galian C (sirtu) yang melintas di Desa Wonosari. Setiap truk tambang yang melintas, dipasang tarif Rp 4 ribu untuk truk berukuran kecil, dan truk besar senilai Rp 5 ribu. Praktik korup yang dilakukan pelaku ini, membuahkan hasil yang tak sedikit. Per bulan, pendapatannya bisa mencapai Rp 30 juta. Padahal, pungutan yang dilakukan juga tak disertai payung hukum.

Dalam proses persidangan Pengadilan Tipikor, Surabaya, di Sidoarjo, hakim pun sempat memerintahkan jaksa untuk melakukan penahanan. Namun, rencana penahanan urung dilakukan setelah pihak lapas melakukan penolakan.Dari data yang diperoleh Jawa Pos Radar Mojokerto, Yasin mengalami gagal ginjal sejak tahun 2016 lalu. Sejak itu, ia harus melakukan check-up dan cuci darah secara rutin. Dua kali dalam sepekan.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia