Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kemarau Panjang, Siswa di Mojokerto Gelar Salat Minta Hujan

16 Oktober 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.id

Para pelajar menggelar salat Istisqa atau salat meminta hujan di Lapangan Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Selasa (15/10). (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

GEDEG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini mengundang keprihatinan para guru dan siswa di MI Al Huda Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Selasa (15/10), beralaskan tikar, mereka menggelar salat Istisqa atau salat meminta hujan di lapangan setempat.

Pantaun di lokasi, meski sebagian siswa masih mengantuk, mereka nampak antusias dan khusyuk saat melangsungkan salat minta hujan. Selama bertolak dari sekolah sekitar pukul 07.30 menuju lapangan yang jaraknya sekitar 50 meter, siswa terus melantunkan salawat.

Langkah ini menjadi bentuk perhatian pada lingkungan yang terus mengering. ’’Kita memohon ampunan kepada Allah, selalu bersedekah, serta meminta agar diturunkan hujan di musim kemarau ini,’’ ungkap guru agama MI Al Huda, Muhammad Izul Al Khafi.

Sebab, di musim kemarau ini, tercatat masih ada tiga kecamatan yang dilanda kekeringan. Bahkan ratusan hektare hutan juga hangus terbakar akibat panas berkepanjangan.

Dilaksanakannya salat minta hujan di tengah tanah lapang memiliki hukum sunah bagi warga muslim. Dengan demikian, di musim kemarau yang terjadi sejak enam bulan terakhir ini pihaknya berharap agar segera diturunkan hujan. Selain air menjadi kebutuhan pokok, sumber air juga sudah kian menyusut. ’’Persediaan air bersih kian menipis,’’ ujarnya.

Jangankan untuk mengairi lahan pertanian dan ternak warga, untuk pemenuhan kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK) pun di sebagian wilayah ada yang kesulitan. Di lain sisi, teriknya matahari juga dinilai akhir-akhir ini begitu panas. Sehingga ini momen yang pas jika meminta agar segera diturunkan hujan.

’’Ini sekaligus sebagai pembelajaran bagi siswa dalam syariat Islam sunnah hukumnya salat meminta hujan. Sehingga, tertanam rasa syukur, sabar dan tawakal kepada Allah,’’ paparnya.

Salah satu siswa, Firman Tri Bayu Prakoso, berharap, dengan digelar salat Istisqa ini, Allah bisa menyegerakan turun hujan. ’’Kita juga mendoakan warga yang sedang dilanda kekeringan agar cepat bisa dilimpahkan air,’’ terangnya.

Bencana kekeringan dan kebakaran hutan hingga sampai saat ini masih melanda di Kabupaten Mojokerto. Dari data BPBD, bencana kekeringan di musim kemarau ini semakin meluas.

Tak hanya terjadi di wilayah yang menjadi langganan, kekurangan air bersih juga merembet ke wilayah Trawas. Bahkan, mereka yang terdampak kekeringan di lereng Gunung Penanggungan sisi selatan jumlahnya bertambah.

Dampak kekeringan ini dialami 509 jiwa yang tergabung dalam 277 KK (kepala keluarga). Diprediksi, seiring musim kemarau berkepanjangan warga yang mengalami hal serupa akan bertambah. Zaini mengungkapkan, hasil assessment BPBD, memang terjadinya kekurangan air bersih di Desa Duyung tak lepas dari berbagai faktor.

Sementara krisis air bersih di Kecamatan Ngoro juga bertambah. Jika sebelumnya hanya tiga desa terdampak, masing-masing Kunjorowesi, Manduromanggunggajah, dan Kutogirang, sekarang berkembang menjadi empat.

Satu desa tambahan yang mengalami hal serupa adalah Dusun Jedong Wetan, Desa Wotanmas Jedong dengan terdampak 240 jiwa (80 KK). Sehingga, jika ditotal, sekitar ada 3.297 jiwa tersebar di empat desa terdampak kekeringan.

Sedangkan di Kecamatan Dawarblandong, krisis air berdampak pada 750 jiwa di Dusun Sekeping dan 700 jiwa di Dusun Dawar. Selebihnya, dialami 375 jiwa di Dusun Tempuran; 825 jiwa Dusun Ngagrok, 420 jiwa di Dusun Genceng, dan 450 jiwa di Dusun Mlati, Desa Simongagrok.

Sedangkan kebakaran hutan selama musim kemarau ini telah menghanguskan 725 hektare hutan. Bahkan Pemerintah Kabupaten Mojokerto menetapkan setatus tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan hingga 27 Oktober 2019.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia