Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Kejari Segera Panggil dan Periksa Tersangka Korupsi Proyek Irigasi

14 Oktober 2019, 08: 50: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono memastikan tak hanya satu tersangka dalam kasus korupsi yang ditanganinya.

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono memastikan tak hanya satu tersangka dalam kasus korupsi yang ditanganinya. (dok/radarmojokerto.id)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto segera melayangkan surat panggilan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek irigasi air dangkal di Dinas Pertanian (Disperta) setempat. Korps Adhyaksa ini berjanji, paling lambat, pekan ini akan memanggil tersangka untuk segera menjalani pemeriksaan.

Hal itu ditegaskan Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Mojokerto Agus Hariyono. Menurutnya, sejak kejari menetapkan Suliestyawati sebagai tersangka, penyidik belum pernah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. ’’Sudah kita agendakan minggu depan,’’ ujarnya.

Suliestyawati tercatat telah menjalani pemeriksaan di depan penyidik. Kejari menyebut, sudah tiga kali melakukan pemeriksaan terhadap Suliestyawati yang juga menjabat PPK tersebut. Pemeriksaan saat itu sebatas sebagai saksi.

Meski telah melakukan penetapan tersangka terhadap PPK, namun Agus masih ogah menyebut secara detail atas pelanggaran hukum yang terjadi dalam proyek tersebut. Ia Hanya memastikan, jika PPK telah melakukan pengkondisian terhadap pelaksana proyek. ’’Ada sesuatu keadaan yang seharusnya dilakukan tetapi tidak dilakukan,’’ ungkapnya.

Dikonfirmasi lebih detail atas pengkondisian itu, mantan Kasi Pidsus Kejari Pasuruan ini, mengaku belum waktunya menjelaskan ke publik. ’’Tidak elok kalau harus saya jelaskan sekarang,’’ pungkas dia.

Pun demikian dengan nama tersangka lain dalam proyek ini. Terdapat dua nama lain yang dikabarkan terseret dalam kasus ini. Keduanya merupakan pihak swasta yang menjalankan proyek tersebut.

Sementara itu, sumber Jawa Pos Radar Mojokerto, menceritakan, munculnya tersangka dalam kasus disperta ini dinilai belum tuntas. Karena, masih terdapat nama yang cukup berperan dalam kasus ini.

Yakni, broker proyek. ’’Saat itu, ada fee yang sangat besar. 15 persen untuk tangan pertama. Dan, itu dilakukan orang luar. Bukan orang dinas,’’ jelas salah satu kontraktor yang juga mengerjakan sejumlah proyek irigasi tersebut.

Uang pelicin yang sangat besar, katanya, berdampak sangat luas. Di antaranya, berbagai spesifikasi yang tercantum dalam perencanaan, harus diminimalisir. ’’Semisal, pipa yang seharusnya ditanam, tetapi dibiarkan tergeletak dan dibiarkan begitu saja,’’ tambahnya.

Bahkan, beberapa titik pengeboran, terpaksa terbengkalai meski tak mengeluarkan air. Sehingga, asas manfaat dalam proyek tersebut tak dirasakan oleh para petani. ’’Saya sangat berharap, kasus ini tuntas. Tidak sekadar menjerat satu atau tiga tersangka,’’ pungkasnya.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia