Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Komunitas Crossfit, Olahraga Khas Perkotaan

Dulu 107 Kilogram, sekarang Berat Badan Jadi 84 Kilogram

12 Oktober 2019, 09: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Olahraga itu tak sekadar menggerakkan tubuh. Bagi sekumpulan anak-anak muda ini, olahraga secara mendasar memiliki ilmu dan teknologinya.

Olahraga itu tak sekadar menggerakkan tubuh. Bagi sekumpulan anak-anak muda ini, olahraga secara mendasar memiliki ilmu dan teknologinya. (dok/radarmojokerto.id)

Sentuhan teknologi dalam olahraga dipercaya meningkatkan efektifitas kebugaran dan daya tahan tubuh. Kian lengkap pula digabungkan latihan kardio dengan beban. Seperti yang tengah digandrungi kelompok yang menamakan komunitas crossfit ini.

GAYA hidup khas perkotaan dianggap kian jauh dengan gaya hidup sehat. Besarnya polusi, rutinitas kerja, dan tekanan sosial yang tinggi, kerap kali mengalihkan pandangan warga terhadap olahraga.

Padahal, olahraga itu tak sekadar menggerakkan tubuh. Bagi sekumpulan anak-anak muda ini, olahraga secara mendasar memiliki ilmu dan teknologinya.

Yang mana, sekarang ini sudah digunakan secara global. Namun, banyak orang yang masih salah dalam berolahraga. Olah gerak badan ini dilakukan sekenanya. Bahkan, dilakukan dengan gerakan-gerakan yang zadul.

’’Bagian mendasar dari olahraga itu sebenarnya bisa memaksimalkan latihan pada fungsi-fungsi tubuh,’’ ujar Argo Pamungkas, koordinator komunitas crossfit.

Ditemui di area kantin Pemkot Mojokerto, guru olahraga ini bercerita tentang banyak tentang komunitas crossfit yang baru seumur jagung ini. Komunitas yang memiliki perhatian lebih terhadap olahraga yang mengabungkan latihan kardio dengan latihan beban.

’’Dalam pelaksanaannya didampingi dengan teknologi,’’ lanjutnya. Seperti apa sih crossfit itu? Ia bersama dua teman dalam komunitas yang kemudian diberi nama Be.IT ini mengatakan, latihan ini didasarkan kombinasi tersebut.

Di mana, latihan dengan gerakan yang memaksimalkan fungsi tubuh. Kemudian, ditambah latihan beban. ’’Baik beban yang didapat dari berat tubuh atau beban dari benda lain,’’ kata dia.

Irdinata, anggota Be.IT mengakui, komunitas ini baru saja berjalan. Namun, setiap digelar open training selalu bertambah saja peminatnya. Memang, awalnya banyak diawali warga Mojokerto yang gemar basket.

Namun, seiring waktu, mereka ingin meningkatkan performance. ’’Perfomance ini bisa banyak, misal mengurangi berat badan, meningkatkan lompatan, mencapai kondisi tubuh ideal, dan lainnya,’’ sambungnya.

Bentuk latihannya berupa aneka gerakan. Jika dilihat kasat mata memang tak seperti olahraga permainan atau olahraga rekreatif lainnya. Karena, kadang tak butuh tempat luas atau bahkan perlengkapan.

’’Latihan dengan hanya gerakan tubuh biasa saja bisa. Seperti, jalan di tempat, lari di tempat dan banyak sekali ragamnya,’’ tukas dia. Argo menyebutkan, latihan dalam komunitas crossfit bisa beragam.

Bahkan, dapat menggabungkan dengan jenis teknik pernafasan dan gerakan tubuh lainnya macam yoga. ’’Jadi, dalam melatih gerakan, anggota bisa memberi masukan. Gerakan ini berfungsi untuk ini. Gerakan itu bisa untuk yang lain,’’ beber dia.

Dia sendiri sudah mengantongi sertifikat kepelatihan crossfit. Ketika berlatih, dirinya juga menjadi instruktur pendamping. Olahraga jenis ini memang banyak berkembang di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, di dunia telah memiliki kompetisinya. ’’Kalau di sini belum populer,’’ tukas dia.

Irdinata yang dulunya olahraga sekenanya merasakan betul manfaat crossfit. Dulu berat badannya 107 kilogram sekarang turun drastis menjadi 84 kilogram. Dengan tinggi badan 170 cm.

’’Tidak sampai empat bulan ini latihan crossfit. Jadi, awalnya memang berat,’’ beber pria brewokan ini. Awal latihan crossfit, dia dikenalkan dengan gerakan pemanasan. Gerakan itu dipandangnya biasa saja. Karena sebelumnya dia sudah terbiasa berolahraga, macam lari, sepeda, dan lainnya.

’’Tapi, pertama kali pemanasan. Saya hampir kapok. Karena berat banget dan hampir muntah,’’ sambungnya. Hari kian hari latihan, badannya betul-betul alami kesakitan. Seperti njarem, otot kaku, hingga kaki lemas. ’’Karena memang gerakan memaksimalkan fungsi tubuh. Juga, tiap gerakan menyentuh otot-otot,’’ timpalnya.

Tiap latihan digunakan beragam peralatan teknologi, semacam GPS, oksimeter, heartmeter, hingga publikasinya dengan teknologi informasi. Latihan crossfit disesuaikan dengan tujuan orang yang berlatih. Sehingga, gerakan yang dilakukan bisa tak sama dengan orang lain.

Semisal, ingin menguruskan badan, kurangi berat badan, membentuk otot, hingga mencapai tingkat lompatan tertentu. ’’Sebelum berlatih, kami ajak diskusi dulu. Inginnya apa. Punya trauma apa, apa ada cedera sebelumnya. Karena kondisi orang beda-beda,’’ tutur Argo.

Meski begitu, olahraga ini tetap mengandung unsur rekreatif. Itu seperti penggunaan tali, bola, dan perlengkapan beban lainnya. ’’Kalau battle rope ini disukai perempuan. Karena senang bikin tali bergelombang. Bebas gitu, tapi tetap otot terlatih,’’ singkatnya.

(mj/fen/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia