Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Diduga Korupsi Proyek, Kepala Disperta Tersangka

11 Oktober 2019, 11: 37: 50 WIB | editor : Imron Arlado

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono memastikan tak hanya satu tersangka dalam kasus korupsi yang ditanganinya.

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono memastikan tak hanya satu tersangka dalam kasus korupsi yang ditanganinya. (imron arlado/radarmojokerto.id)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Suliestyawati, ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Jumat (11/10) pagi. Ia diduga sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas bobroknya proyek irigasi air dangkal tahun 2016 silam.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono, mengatakan, Suliestyawati terseret menjadi tersangka lantaran ia menjadi menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek yang didanai APBN tersebut. ’’Setelah melakukan ekspose internal, kami meningkatkan status S selaku PPK dan kepala Disperta sebagai tersangka,’’ ujarnya.

Sulistyawati, kata Rudy, memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menjalankan sebuah proyek. ’’Dia mengendalikan secara penuh pelaksanaan kontrak tidak sebagaimana mestinya,’’ jelasnya.

Meski ia tak merinci pelanggaran hukum yang dilakukan Kadisperta, namun mantan Kajari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini menyebut, ulah Suliestyawati telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 519.716.400.

Kerugian disebabkan oleh tak rampungnya proyek dengan pagu sebesar Rp 4,188 miliar tersebut. Dari angka itu, realisasi kontrak mencapai Rp 3,961 miliar. Sementara, dana proyek dicairkan sebesar Rp 2.864 miliar. ’’Dari 36 titik, hanya mampu diselesaikan 68,57 persen,’’ ungkap Rudy.

Penetapan tersangka Suliestyawati, kata Rudy, sudah melalui proses panjang. Diantaranya, penyidik  menghadirkan tim ahli dari Fakultas teknil sipil dna perencanaan dari ITN Malang.

Apakah Suliestyawati menjadi tersangka tunggal dalam kasus ini? Kajari memastikan, tak satu nama. Hanya saja, ia ogah menyebut nama lain yang terseret dalam kasus tersebut.

Sebelumnya diketahui, kejari menemukan indikasi korupsi di tubuh Disperta Kabupaten Mojokerto. Pada 22 Juli lalu, penyidik meningkatkan status dari penyelidikan ke penyidikan. Dengan naiknya status tersebut, maka proses pemeriksaan dan perburuan alat bukti kian intensif.

Terakhir, penyidik melakukan penggeledahan kantor Disperta di Jalan RA Basuni, Desa/Kecamatan Sooko. Di sana, penyidik menyita tiga kardus berkas yang berkaitan dengan proyek sebanyak 5 paket dengan 38 kegiatan itu. Penggeledahan kemudian dilanjutkan ke Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKA).

Meski telah melakukan penggeledahan, namun langkah penyidik kejari tak juga berujung. Pemeriksaan pun kian mengerucut. Di tengah proses penyidikan ini, kadisperta mendadak mengajukan pengunduran diri dari jabatan sebagai kepala dinas. Kabar beredar, Sulies begitu Suliestywati disapa, sudah berpamitan dengan para staf dan pejabat di lingkungan disperta.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia