Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisi Temukan Satu Gudang Dekat Makam

11 Oktober 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Rumah industri dipasang garis polisi setelah diduga menjadi tempat produksi daur ulang camilan kedaluwarsa jenis cokelat dan pilus, di Kelurahan Seduri, Kecamatan Mojosari, Kamis (10/10).

Rumah industri dipasang garis polisi setelah diduga menjadi tempat produksi daur ulang camilan kedaluwarsa jenis cokelat dan pilus, di Kelurahan Seduri, Kecamatan Mojosari, Kamis (10/10). (Khudori/radarmojokerto.id)

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto - Produsen camilan diduga kedaluwarsa jenis cokelat dan pilus ternyata tidak hanya berada di rumah MJ, 45, warga Dusun Manukan, Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto saja.

Belakangan, pengemasan ulang jajanan diduga tak layak konsumsi ini juga terjadi di Jalan Paris, Kelurahan Seduri, Kecamatan Mojosari. Bahkan, puluhan karung pilus dan cokelat diduga expired sebelumnya diamankan petugas di garansi rumah MJ, tak lain dipasok dari gudang milik Purwo Asmorontoko (PA).

’’Iya, semuanya di pasok dari Pak Purwo situ,’’ ungkap RJ, seorang warga kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Kamis (10/10). Menurutnya, pusat dari pengemasan ulang produk kedaluwarsa berhasil dibongkar kepolisian ini dipasok dari gudang milik Purwo Jalan Paris RT 02, RW 02.

Dari lokasi ini, diduga tidak hanya dipasok ke rumah MJ yang dijadikan lokasi pengemasan ulang. Melainkan diduga ke sejumlah wilayah lain di wilayah Mojokerto.

Hanya saja, RJ mengaku tidak begitu tahu dimana dan kemana sasaran pemasokan cokelat dan pilus daur ulang ini. ’’Yang saya tahu, banyak orang juga mengambil untuk dikerjakan di rumahnya. Kalau yang di Manukan, itu hanya sebagian kecil,’’ terangnya.

Produksinya juga diduga sudah lebih dari setahun. Apalagi, lima bulan sebelumnya sempat diungkapkan MJ. Khususnya untuk produksi daur ulang cokelat. ’’Kalau yang di Manukan, sehari paling kira-kira tiga tong cokelat dikelola,’’ tambah RJ.

Berbeda untuk camilan pilus, yang dia tahu, baru berjalan beberapa minggu terakhir. Penelusuran Jawa Pos Radar Mojokerto, ke lokasi, sejumlah warga sudah tak asing lagi dengan Purwo yang diketahui menjadi pengusaha cokelat. Hanya saja, warga tak mengetahui pasti, dari dan kemana produk yang dihasilkan tersebut dijual.

Dari lokasi tersebut, nampak ada gudang berada satu gang dengan rumah Purwo. Tepatnya, sebelum atau berjarak 10 meter dari tempat pemakaman umum (TPU) lingkungan setempat. Gudang seluas tiga meter dengan kondisi memanjang itu tertutup rapat, dan digembok.

Namun, di dalam lokasi yang menjadi home industry tersebut, nampak garis polisi terpasang. ’’Iya, betul milik saya. Penggerebekan dilakukan Selasa (8/10) siang,’’ ungkap Purwo.

Hanya saja, pihaknya mengaku jika produksi cokelat miliknya tidak bermasalah. Dia sebatas mengakui, jika yang bermasah hanyalah jajanan pilus lantaran dianggap belum mengantongi izin.

Disinggung apakah itu merupakan produk kedaluwarsa yang diolah sekaligus dikemas ulang, pihaknya tak menjelaskan secara gamblang. ’’Itupun (pilus) baru beberapa hari. Belum sampai beredar,’’ tandasnya.

Sebelumnya, masyarakat harus lebih teliti dan berhati-hati dalam membeli produk jajanan ringan, utamanya bagi sang buah hati. Menyusul, jajanan tidak layak konsumsi belakangan ini masih marak diperjual belikan secara bebas di pasaran.

Setidaknya, hal itu terungkap setelah Satreskrim Polres Mojokerto mencium praktik curang pengelolaan atau daur ulang cokelat dan pilus dari sebuah rumah di Dusun Manukan, Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Pengemasan ulang camilan diduga telah kedaluwarsa ini dilakukan dalam garasi rumah milik MJ. Dari penggerebekan di rumah sekaligus tempat produksi ini, polisi menyita puluhan karung jajan pilus dan cokelat expired.

’’Ada sekitar 45-an karung berisi pilus yang diamankan polisi,’’ ungkap sumber kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Polisi juga menyita kompor dan wajan penggorengan yang digunakan mengeraskan camilan, serta mobil pikap Daihatsu Gran Max Nopol S 9197 NB. ’’Selain itu, ada dua bendel lebel merek camilan istimewa Dua Ikan, diduga sebagai produk kemasannya,’’ terangnya.

Di lokasi, polisi turut menyita mesin adonan molen yang belakangan ini digunakan untuk mencampur bumbu pilus, dan tiga tong cokelat yang sudah dicampur dengan wafer.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia