Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle
Mengenang Karya Sucipto Hadi lewat A Tribute

Sketsa Dipajang sebagai Obat Kerinduan Seniman

08 Oktober 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Pengunjung pameran di Rumah Budaya Selo Adji Trowulan ini akan disapa lukisan karya Ponido bertajuk Koncokoe. Pameran ini akan berakhir 12 Oktober nanti.

Pengunjung pameran di Rumah Budaya Selo Adji Trowulan ini akan disapa lukisan karya Ponido bertajuk Koncokoe. Pameran ini akan berakhir 12 Oktober nanti. (imronarlado/radarmojokerto.id)

Sucipto Hadi, perupa asal Belahantengah, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini, telah tutup usia awal tahun lalu. Tetapi, rasa duka mendalam itu masih tersimpan di benak para seniman Mojokerto. Untuk mengenangnya, mereka memajang deretan karyanya di Rumah Budaya Selo Adji.

WAJAHNYA selalu semringah. Pria berkumis tebal dan berkacamata itu, selalu menebar senyum kepada siapa saja. Ia pun selalu menghargai setiap lawan bicaranya. Itulah potret sederhana Sucipto Hadi yang tergambar dalam sebuah lukisan berukuran 90x90 cm dan bertajuk Koncokoe. Lukisan ini terpajang di deretan lukisan yang tertata apik di Rumah Budaya Selo Adji, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

’’Ini sebuah penghargaan bagi beliau. Kita masih sangat kehilangan,’’ cerita perupa Mojokerto, Samsul Hadi. Pria yang akrab disapa Ponido ini, menambahkan, terngiangnya dengan Pak Cip, bukan tanpa sebab. Baginya, Sucipto mampu menjaga hubungan dan komunikasi dengan siapapun. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga mereka yang sudah berusia senja. Perupa lainnya, Samsulhadi Prawiro, menuturkan, bagi para perupa, almarhum memiliki potensi yang luar biasa. Ia pun kerap menginspirasi seniman di Mojokerto. Di antaranya, mengeksplore karya melalui lingkungan sekitar.

Pak Cip yang kesehariannya mengajar di SMA Negeri 1 Gondang, kerap melahirkan karya-karya naturalistik. ’’Lihat saja. Banyak sekali karya yang dipengaruhi oleh alam di sekitarnya. Mulai pegunungan, perbukitan hingga sunset,’’ jelasnya. Dalam pameran kali ini, para perupa mengumpulkan banyak karya Pak Cip semasa hidup. Namun, dari banyaknya lukisan, mereka mengaku kesulitan menemukan tahun pembuatan. ’’Dokumentasinya agak kabur. Sehingga sulit mencari waktu pembuatan,’’ ungkap Samsul.

Semasa hidup, Sucipto memang melahirkan banyak karya lukisan. Entah sekadar mengisi waktu luang atau mengekspresikan cintanya terhadap dunia seni. Yang jelas, Pak Cip memiliki segudang peninggalan berupa lukisan. Soal genre, Pak Cip juga kerap berubah. Mulai dari lukisan tiga dimensi, realis, dua dimensi, lalu beranjak ke dekoratif. ’’Tetapi, menurut saya, yang paling kuat di sketsa,’’ tandasnya.

Hal ini diakui pemilik Rumah Budaya Selo Adji, Ribut Sumiyono. Cak Ribut, sapaan akrabnya, menegaskan, almarhum memiliki rasa berbeda dalam melahirkan karya-karya. Terutama dalam pembuatan sketsa. ’’Sketsa paling kuat,’’ ungkapnya. Pameran bertajuk A Tribute to Pak Cip dan digelar selama tujuh hari ini, difokuskan untuk memajang deretan sketsa karya almarhum. Tujuannya, untuk mengobati kerinduan bagi para seniman. Selain karya almarhum, sejumlah perupa andal juga ikut meramaikan pameran yang berakhir 12 Oktober nanti. Di antaranya Putu Sutawijaya, Anik Suhartatik, Riyamun, M. Ivanm, Syahroni, Sunali, Joni Ramlan, hingga Supriyo, dan Iskandar.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia